Murid Kita Bukan Robot

What Can Humanoid Robots Do?! – Pouted Online Lifestyle Magazine
https://www.pouted.com/can-humanoid-robots/

Murid kita bukan robot. Murid kita bukan sebuah harddisk yang terus menerus dapat kita isi dengan file-file sesuai kehendak kita. Murid kita adalah manusia yang memiliki kemerdekaan sendiri dalam mengambil keputusannya. Kita semua tentu sepakat bahwa murid-murid kita dapat melakukan lebih dari sekedar menerima instruksi dari guru. Mereka secara alami adalah seorang pengamat, mereka adalah penjelajah, mereka juga penanya yang kritis, mereka juga memiliki rasa ingin tahu terhadap berbagai hal. Rasa ingin tahu adalah kodrat alami yang dimiliki oleh manusia yang seharusnya diberi ruang seluas-luasnya. Lewat rasa ingin tahu serta interaksi dan pengalaman mereka dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya, mereka kemudian membangun sendiri pemahaman tentang diri mereka, orang lain, lingkungan sekitar, maupun dunia yang lebih luas. Dengan kata lain, murid-murid kita sebenarnya memiliki kemampuan atau kapasitas untuk mengambil bagian atau peranan dalam proses belajar mereka sendiri.

Coba kita refleksikan kembali apa yang sudah kita lakukan kepada murid. Pernahkah kita sebagai guru atau orang dewasa sering memperlakukan murid-murid seolah-olah mereka tidak mampu membuat keputusan, pilihan, atau memberikan pendapat terkait dengan proses belajar mereka? Pertanyaan ini membuat mengingatkan masa lalu saya ketika di awal-awal menjadi guru. Saya cenderung menggunakan kacamata kuda. Segala hal yang berkaitan dengan murid dibandingkan dengan sudut pandang saya, seperti yang saya ungkapkan melalui video ini. 

Kadang-kadang kita bahkan tanpa sadar membiarkan murid-murid kita secara sengaja menjadi tidak berdaya, dengan secara sepihak memutuskan semua yang harus murid pelajari dan bagaimana mereka mempelajarinya, tanpa melibatkan peran serta mereka dalam proses pengambilan keputusan tersebut. Sejak tahun 2019, ketika saya mengenal Gerakan Sekolah Menyenangkan di Tahun 2019, saya seperti dibukakan mata batin saya. Saya seakan ditonjok dengan beban yang begitu berat, sehingga saya menyadari bahwa apa yang saya lakukan selama menjadi guru terjadi salah arah. Sejak itulah saya mengalami titik balik, saya harus kembali mengisi ruang ketiga di dunia pendidikan ini dengan nilai-nilai kesetaraan, ada ruang refleksi bagi murid, adanya keterbukaan yang harus dibangun dan adanya ruang yang rileks bagi murid namun tetap produktif dan kreatif.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *