Komunitas Bangun Peradaban

Kubaca kiriman di salah satu group WhatsApp komunitas Para Penyimpang ada sesuatu yang menarik untuk saya ikuti. Pesan dari Bu Novi (Cofounder GSM Indonesia), “Jika ada yang tertarik ikut sit ini di kelas saya mengenai psikoedukasi komunitas, bisa masuk ke Zoom meeting berikut …..”.  Tidak hanya sekali ini, bahkan Bu Novi sering memberikan kesempatan kepada kelompok para guru untuk mengikuti perkuliahan beliau di UGM.  Langsung saja saya ikuti perkuliahan tersebut. Banyak peserta yang mengikuti perkuliahan, selain mahasiswa Psikologi UGM, ternyata beberapa guru penyimpang ikut hadir di kelas maya tersebut.

Ada satu hal menarik yang dapat saya petik dari proses perkuliahan di kelas maya tersebut yaitu berkaitan dengan metode pembelajarannya yang sangat berbeda.  Belajar namun tidak terasa itu sedang dalam perkuliahan karena suasananya sangat santai, penuh kekeluargaan. Di awali dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa dan peserta untuk menyampaikan perasaan yang dialami saat itu atau menyampaikan harapan pada hari ini. Cara ini disebut dengan pagi berbagi yang membangun keakraban antara dosen dan peserta kuliah. Setelah suasana akrab terbentuk, diberikan triger berupa video tentang perubahan zaman yang begitu cepat yang memiliki dampak dari berbagai aspek. Video tersebut sebagai triger sebagai bahan diskusi untuk menggali penalaran mahasiswa, menghubungkan dengan teori sebagai referensi dan diakhiri dengan refleksi sebagai bagian dari Social Emotional Learning. Mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan ini bukan sekedar mengerti teori, namun jauh lebih dari itu diharapkan munculnya kesadaran baru dari mahasiswa. Sebagai guru, saya merasa tertarik dengan metode pembelajaran ini yang diharapkan dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas saya.

Dari isi materi perkuliahan saya mendapatkan insight baru tentang pentingnya dan peran komunitas dalam perubahan.  Perubahan pasti berlaku dan perubahan terjadi dari segala aspek kehidupan. Dari dalam diri setiap insan pasti mengalami perubahan, begitu juga dengan perubahan secara eksternal, perubahan teknologi secara cepat. Di era disrupsi saat ini bukan lagi kebijakan atasan  dengan powernya  yang lebih efektif, namun justru dari komunitas  yang membawa perubahan lebih besar. Dicontohkan ketika pertama kali Gojek diterapkan ada pro dan kontra, selanjutnya kebijakan dari pemerintah ternyata tidak mampu memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut. Justru komunitas yang merasakan manfaat dari Gojek tersebut yang memberikan andil terhadap keberlangsungan Gojek hingga melesat sampai saat ini. Dari penjelasan inilah saya menjadi tambah bersyukur karena bisa masuk di komunitas Gerakan Sekolah Menyenangkan. Dari komunitas inilah diyakini akan membawa perubahan mendasar untuk pembaharuan pendidikan di Indonesia.

Dari hasil perkuliahan ini saya semakin yakin dan memantapkan diri untuk terus membangun komunitas. Salah satu komunitas yang saya ikuti dan perlu dipupuk adalah komunitas orang tua siswa. Komunitas orang tua memiliki  peran yang besar untuk mendidik dalam rangka membekali anak-anak menghadapi perubahan yang begitu cepat.  Dalam pembelajaran di Jurusan Animasi SMK N 11 Semarang saya mencoba membuat group orang tua siswa kelas X. Untuk efektifitas komunikasi, saya membuat empat kelas menjadi satu group. Awalnya group ini sepi, namun begitu saya sering membagikan hasil perkembangan anak didik beberapa kali dalam satu minggunya, akhirnya group itu semakin hidup dan aktif. Saya jadi ingat tentang permainan bola basket, yang menjadi sorotan bagi penonton bukan lagi permainannya, namun perubahan papan skor.  Saya mencoba meniru dengan memberikan laporan  hasil perkembangan jumlah karya yang dibuat. Akhirnya orang tua juga memiliki andil yang sama dengan guru untuk memberikan motivasi atau dorongan kepada anak-anaknya untuk terus berkarya.

Komunitas orang tua ini juga sering diisi dengan diskusi dengan tema-tema pendidikan yang menggugah kesadaran diri tentang peran orang tua yang selama ini lebih banyak menasehati, menuntut siswa, namun saya ajak untuk menjadi pendengar yang baik untuk anak-anaknya.  Komunikasi dua arah semakin intens terjadi, terbukti dari banyak orang tua yang peduli untuk berbagi di group dengan materi-materi yang membawa perubahan paradigma pendidikan yang lebih baik.

 

Cuplikan obrolan di group WhatsApp tersebut menunjukkan bahwa orang tua semakin menyadari betapa pentingnya memberikan kemerdekaan kepada anak-anaknya agar mereka mampu mengembangka potensinya untuk mencapai prestasi sesuai versinya masing-masing.  Dari perkuliahan inilah saya memiliki keyakinan bahwa komunitas akan membangun peradaban. Di lingkup pendidikan, maka komunitas orang tua perlu digerakkan bersama-sama untuk membangun peradaban anak didik kita. Sudah efektifkah komunikasi yang dijalin oleh para pendidik pada komunitas orang tua? Jika belum inilah menjadi PR yang perlu segera direalisasikan, karena guru dan orang tua memiliki peran yang sama untuk membangun peradaban di masa mendatang.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *