“Merdeka Belajar”, Jangan Paksakan Siswa dengan Standar yang Sama

Hari ini, 16 Februari 2022 saya mendapatkan pesan WhatsApp dari salah satu orang tua siswa kelas X Animasi SMK N 11 Semarang. “Look. Art knows no projudice, Art knows no boundaries, art doesn’t realy have judgemnt in it’s purest form. So just go, just go”.  “Terima kasih untuk Pak Di yang membebaskan siswa-siswanya untuk berkarya, melampau batasan diri mereka masing-masiing, menjadi versi terbaik dari setiap anak. Suatu bentuk revolusi pembelajaran, merdeka belajar”, lanjut pesan tulisan  dari Orang Tua Cheryl.

Saat itu saya tidak langsung memberikan balasan, mengapa? He he he, saya harus menerjemahkan terlebih dahulu kalimat berbahasa Inggris itu melalui google translate. Meskipun di dalam hati saya malu, karena bahasa Inggris saya tergolong low. Tidak apa-apa, saya kuatkan hati saya, daripada saya salah memberikan tanggapan kepada orang tua siswa tersebut. Sambil senyum-senyum sendiri saya membaca terjemahan ternyata kurang lebih seperti ini: “Seni tidak mengenal prasangka, Seni tidak mengenal batasan, seni tidak benar-benar memiliki penilaian dalam bentuknya yang paling murni”. Kalimat ini membawa ingatan kembali ketika saya mengikuti webinar yang diselenggarakan oleh Gerakan Sekolah Menyenangkan Indonesia, dengan narasumber langsung Founder GSM, Bapak Muhammad Nur Rizal. Beliau memaparkan tentang tiga kodrat manusia yang tercerabut dalam sistem pendidikan yang mekanistik.  Salah satu kodrat manusia yang tercerabut adalah kodrat keberagaman atau keunikan dari masing-masing individu. Pendidikan mekanistik didasarkan bukan pada keragaman tetapi kesesuaian, padahal manusia pada dasarnya berbeda dan beragam. Pendidikan konformitas mempersempit fokus pada bidang studi yang dibutuhkan industri.  Budaya pendidikan yang menyeragamkan, linieritas berpotensi membunuh kekuatan imajinasi dan daya kreatif manusia. Itulah kenyataan pendidikan yang terjadi saat ini, banyak guru yang membuat keseragaman dalam pembelajaran, keseragaman dalam melakukan evaluasi dengan standar-standar yang sama. 

Agak lama saya baru membalas dan merespon kiriman tulisan melalui whatsApp di group orang tua, karena saya harus merenung kembali dan melakukan refleksi kembali terhadap apa yang saya lakukan dalam pembelajaran untuk anak didik saya. Kembali saya renungkan, jangan-jangan apa yang saya lakukan masih membuat standar yang sama. Namun jika ditakar lebih jauh, sepertinya saya sudah bergeser dari yang awalnya menggunakan standar yang sama menjadi standar yang berbeda-beda tergantung dari kondisi anak itu sendiri. Bukti nyatanya saya mulai sadar bahwa ketika saya membandingkan karya anak dengan anak lainnya, lebih banyak sisi negatif yang diterima anak. Anak menjadi sakit hati karena dibanding-bandingkan dengan yang lainnya. Pasti setiap orang tidak mau dibanding-bandingkan dengan yang lainnya, termasuk di keluarga sendiri. Manusia memiliki keunikan masing-masing,  sehingga tidak manusiawi apabila standar yang satu disamakan dengan standar yang lainnya.  Akhirnya saya memberanikan diri untuk membalas pesan di group orang tua. “Betul bu, makanya di dalam seni tidak ada benar dan salah. Anak memiliki pencapaian masing-masing. Biarlah mereka melampaui  dari apa yang ingin dicapai. Tidak bisa dibandingkan satu sama lain”, jawab saya di group WhatsApp orang tua siswa.  Orang tua Cheryl pun membalasnya kembali, “Setuju Pak Di. Dengan begitu mereka akan menjadi utuh, karena tidak ada subyek pembanding lain, selain diri mereka sendiri”.

Menerjemahkan merdeka belajar ini memerlukan perenungan dan refleksi diri yang lebih mendalam. Sudahkah kita sebagai pendidik menghargai keunikan siswa masing-masing?. Masihkah pendidik menggunakan standar evaluasi yang sama? Jangan-jangan ketika anak didik kita diberikan standar evaluasi yang sama, maka mereka hanya akan terkungkung untuk menyelesaikan sesuai standar itu, akhirnya lompatan-lompatan anak yang seharusnya dapat melampaui standar itu tidak tercapai. Mereka menjadi tidak merdeka. Ketika materi dipelajari hanya untuk keperluan ujian, maka anak tidak akan melakukan proses belajar yang lebih merdeka. Sebentar lagi di dunia SMK, ada kegiatan uji kompetensi dengan standar yang sudah dibakukan. Jangan, jangan siswa hanya akan melakukan proses itu sekedar ingin mencapai standar yang ditetapkan, akhirnya kreativitas yang seharusnya melampaui standar tidak tercapai.

Jurusan Animasi SMK Negeri 11 Semarang sudah mencoba menerapkan program one day one project dengan memberikan kemerdekaan siswa untuk berkarya apapun. Justru dari kegiatan itu, siswa dapat menghasilkan karya-karya yang berbeda satu sama lainnya. Anak tidak dibanding-bandingkan satu satu sama lain, namun penilaian dilakukan dengan membandingkan hasil dari masing-masing anak dari karya sebelumnya.  Dari sinilah, justru anak memiliki kebahagiaan sendiri ketika mereka mampu melampaui dari apa yang ditargetkan. Buktinya ada siswa yang merasa belum puas ketika melakukan one day one project, karena bagi siswa tersebut ia mampu membuat 2 karya setiap harinya (one day two project). Inilah makna pengayaan yang sebenar-benarnya.  Semoga kita sebagai pendidik mampu memberikan kemerdekaan untuk anak didik kita. Jangan paksakan anak dengan standar yang sama.

 

4 thoughts on ““Merdeka Belajar”, Jangan Paksakan Siswa dengan Standar yang Sama”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *