Hal Apa yang Membuat Sedih dan Bahagia?

Hari kesehatan mental sedunia sebagai momentum sebagai pengingat bagi guru untuk terus merefleksikan dirinya tentang perannya sebagai guru yang berhamba pada anak. Laporan terbaru menunjukkan bahwa kunjungan ruang gawat darurat untuk krisis kesehatan mental melonjak di antara anak-anak, remaja, dan dewasa muda di Amerika Serikat dari 2011 hingga 2020. Tak hanya di Amerika Serikat, tingginya masalah kesehatan mental di kalangan remaja juga terjadi secara global, termasuk di Indonesia (Ahmad Arif, 2023). Kasus bullying dan tindakan kekerasan yang terjadi di satuan pendidikan menjadi berita viral di media masa dan sosial media. Hal ini menunjukkan bahwa adanya krisis kesehatan mental yang harus segera dibenahi. Guru dan orang tua memiliki peran penting untuk memperbaiki kondisi ini. Ketika guru hanya berkutat dengan mengisi materi dan mengabaikan budaya dialogis dengan murid, maka akan memperparah terjangkitnya kesehatan mental pada murid. Di era saat ini, banjirnya arus informasi yang sangat deras tidak dapat terbendung lagi, ketika murid tidak mampu menyaringnya maka akan mempengaruhi kesehatan mental. Salah satu penyakit mental adalah fomo atau Fear Of Missing Out merupakan kondisi seseorang yang merasa takut “tertinggal” karena tidak mengikuti aktivitas tertentu. Sebuah perasaan cemas dan takut yang timbul di dalam diri seseorang akibat ketinggalan sesuatu yang baru, seperti berita, tren, dan hal lainnya. Rasa takut ketinggalan ini mengacu pada perasaan atau persepsi bahwa orang lain bersenang-senang, menjalani kehidupan yang lebih baik, atau mengalami hal-hal yang lebih baik. Salah satu penyebab Fomo yaitu penggunaan media sosial. Berkembangnya teknologi saat ini menjadikan kita dapat dengan mudah menerima jutaan informasi di luar sana yang memicu munculnya perasaan cemas lalu membandingkan kehidupan kita dengan orang lain yang terlihat lebih menyenangkan atau bahagia. Banjirnya informasi ini tidak bisa ditolak, namun yang perlu dilakukan di dunia pendidikan adalah bagaimana para guru menuntun murid untuk lebih tangguh sehingga mentalnya lebih sehat.

Saya tertarik dengan apa yang disampaikan Mas Ali di Group GSM yang melakukan sharring tentang bagaimana memantik siswa untuk mengutarakan hal apa yang membuat sedih dan bahagia. Sederhana apa yang dilakukan, namun jika dipraktikkan akan berdampak luar biasa. Kegiatan ini merupakan salah satu cara membangun budaya dialektika melalui jalur tulisan dan gambar. Keterbukaan dari siswa menjadi bagian penting, sehingga para guru dapat mengetahui apa yang membuat sedih dan membuat bahagia dari murid.

Senin dan Selasa, 10-11 Oktober 2023 saya memberikan tantangan dari apa yang dilakukan oleh Mas Ali di kelas saya. Dari proses inilah saya mendapatkana informasi yang menarik untuk dikaji.

Ridhofat salah satu siswa kelas X Animasi SMK N 11 Semarang menyatakan bahwa salah satu yang membuat bahagia ketika dirinya bertemu dengan teman-teman dan bercanda dengan mereka. “Bertemu dengan teman-temanku dan bercanda gurau dengan mereka membuat hati saya menjadi hangat dan saya menjadi bahagia”, ungkap Ridhofat. Hal lain yang membuatnya bahagia ketika ia mampu membuat gambar yang memuaskan dan sesuai dengan ekspectasinya. “Membuat gambar yang memuaskan/sesuai dengan expetasi saya membuat saya bahagia. Hal ini membuat saya amat senang dan bahagia karena gambar yang saya buat atau memuaskan hati saya”, ungkap Ridhofat. “Hal lainnya yang membuat bahagia menurut saya lagu yang saya dengarkan dapat meredakan stress yang begitu berat, hingga saya menjadi lebih tenang dan bahagia saat mendengarkan lagu”, ungkap Ridhofat.
“Hal yang membuat saya sedih adalah ditinggalkan oleh orang yang saya sayangi. Saya merasa amat sedih jika saya ditinggal pergi oleh orang yang saya sayangi untuk selamanya, hal itu membuat hati saya hancur. Hewan peliharaan yang dirawat sejak kecil hilang atau mati. Kucing kesayangan saya yang hilang atau ikan kesayangan mati membuat saya tertekan karena ia sudah menemani saya sudah lama sejak saya masih SD. Tidak memahami suatu materi pelajaran. Menurutku jika saya tidak paham suatu pelajaran saya menjadi bingung dan kesulitan dalam mengerjakan tugas, hal itu membuat saya sedih”, ungkap Ridhofat.

Ungkapan Zahra Salima

Ungkapan Zahra Salima

Budaya dialektika tidak harus secara lisan, melalui proses menulis dan menggambarkan tentang hal-hal yang membuat sedih dan bahagia dapat digunakan sebagai kecil yang bermakna membuka hati para murid. Keterbukaan menjadi gerbang pintu masuknya mental yang sehat. Cara inilah yang dapat menjadi langkah preventif  agar tidak terjadi bullying dan tindak kekerasan di lingkungan pendidikan, karena siswa akan ikut mengetahui dan merasakan apa yang terjadi pada teman-temannya.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *