Mengisi Materi vs Menuntun Kodrat Anak Didik

Siang ini, saya mendapatkan Whatshap dari orang tua siswa kelas X Animasi SMK Negeri 11 Semarang. Anaknya yang bernama Reynaldi saat ini sudah mengikuti magang di Pickolab sebuah studio yang bergerak di bidang ekonomi kreatif  yang membuat asset-asset digital untuk dijual di market place internasional. Sebuah kebanggan bagi orang tuanya karena meskipun masih duduk di kelas X, Reynaldi berhasil lolos masuk di studio setelah mengikuti beberapa tahap seleksi portofolio dan wawancara.  Ia merasa bangga lagi karena di luar kesibukannya mengikuti kegiatan magang yang sangat padat, masih menyempatkan membuat karya one day one project, meskipun sudah ada pemberitahuan bahwa siswa yang magang tidak wajib mengikuti kegiatan one day one project karena di tempat magang memiliki standar yang lebih tinggi.

“Alhamdulilah anak saya mau bikin karya di luar magang, dan ini hasilnya Pak”, tulis orang tua Reynaldi. Tulisan ini membuktikan bahwa orang tuanya sangat bangga dengan Reynaldi yang mampu mengatur waktunya saat ini, karena sebelum magang ia sering mengeluh bahwa Reynaldi sebenarnya memiliki kemampuan membuat karya, namun sering kurang mampu membagi waktu ketika sudah tehipnotis oleh mainan game yang ada di androidnya. Itulah yang dikeluhkan beberapa bulan yang lalu. Menurutnya, Reynaldi akan segera menyelesaikan tugas ketika gurunya yang meminta, namun belum bisa dilakukan dari kesadaran diri sendiri.

Gambar 1. Hasil Modeling Reynaldi di luar karya di tempat magang

“Ya, pak. Alhamdullilah semakin seneng membuat project, dan karya-karya itu sudah dikirim ke program one day one project”, balas saya. Kegiatan one day one project yang dipantik dengan pertanyaan terbuka yang membuat siswa memiliki kesadaran diri memberikan dampak pada percepatan kompetensi yang semakin melejet. Hal ini terbukti dari diterimanya 24 siswa kelas X yang mengikuti magang di industri. Salah satu di antaranya adalah Reynaldi.

“Adiknya lagi sibuk ya? Kemarin  sudah mampu membuat kedipan mata”, lanjut saya membalas percakapan di Watshap. Adiknya yang bernama Hana merupakan siswa kelas VIII salah satu SMP Negeri di Kota Semarang yang mengikuti kegiatan one day one project dan mengikuti pembelajaran animasi di SMK Negeri 11 Semarang.

“Iya Pak, kemarin persiapan Lomba pengambilan Video utk Lomba Tari di UI. Alhamdulillah sudah selesai. Hari ini mulai akan bikin lagi katanya. Tapi memang tugas sekolahnya cukup menguras waktu Pak. Sehari bisa menyalin lebih dari 8 lembar Buku. Dan itu baru dari satu  guru”, ungkap Orang Tua Hana. Benar-benar saya terkejut dengan ungkapan menyalin lebih dari 8 lembar buku. Di era zaman digital, ternyata masih ada guru yang memberikan tugas dengan cara seperti itu.  “Masih ada kegiatan menyalin? tega banget ya. Mungkin sekolah itu belum mengenal  gerakan sekolah menyenangkan”, jawab saya penuh keheranan.

“Ya itulah Pak. Saya juga kurang paham. Mungkin masih mending kalau merangkum. Jadi tahu poin poin pentingnya. Tapi ini malah menyalin. Kadang itu yang membuat siswa jadi boring Pak. Tapi ya gimana lagi tetep diikuti aja dulu. Maka dari itu saya coba arahkan ke kegiatan di luar sekolah agar nggak jenuh Pak”, keluh orang tua Hana. “Saya udah sampaikan ke walikelasnya. Sekolah memang udah dapat program sekolah menyenangkan. Tapi banyak beberapa guru yang tidak bisa mengaplikasikan. Saya kurang paham juga kenapa. Atau bisa jadi karena faktor usia Pak. Karena banyak yang mendekati pensiun”, lanjut orang tua Hana yang semangat menceritakan pola pembelajaran di SMP tempat Hana bersekolah.

Dari cerita di atas menunjukkan masih banyak guru yang berada fixed mindset sehingga pembelajarannya masih berorientasi pada mengisi materi, karena guru tersebut belum mengetahui the first principle thinking dari pendidikan. Bahwa pendidikan adalah memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna agar anak terus termotivasi (kasmaran) belajar, sehingga anak tidak pernah mau berhenti belajar. Peran guru adalah menuntun, mendorong, menfailitasi anak didiknya untuk memperoleh pengalaman belajar secara menyenangkan dan bermakna untuk siswanya. Semoga Gerakan Sekolah Menyenangkan cepet menyebar sebagai komunitas yang terus menggelorakan tentang makna pendidikan sehingga mengubah fixed mindset menjadi growth mindset yang memanusiakan anak didiknya.

 

 

 

 

 

4 thoughts on “Mengisi Materi vs Menuntun Kodrat Anak Didik”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *