Thudong: Perjalanan Menguak Sejarah yang Terpendam

Senin, 29 Mei 2023, Sebanyak 32 bhikkhu sangha yang menjalani ritual thudong sampai ke Wihara Sima 2500 Buddha Jayanti. Thudong merupakan ritual berjalan kaki beratus-ratus kilometer yang dilakukan oleh bhikkhu sangha yang terlatih secara fisik dan mental. Di tahun 2023 ini merupakan kali pertama, kegiatan ritual Thudong dari Thailand menuju Candi Borobudur di Magelang Indonesia. Hari minggu, 28 Mei 2023, para bhikkhu sangha ini sudah sampai di Kota Semarang, dan perjalanan dilanjutkan pada hari berikutnya menuju ke Ambarawa. Kali ini, para bhikkhu sangha tidak melewati jalan besar, namun justru melewati jalan sedang dan setapak. Dari pukul 08.30-10.30 WIB, para bhikkhu sangha berjalan melewati jalan jembatan besi sampangan menuju kampus UNNES dan dilanjutkan dengan perjalanan menuju Sikere, Rusunawa UNNES, Sekargading, Ngijo, Pertigaan Patemon, Mangunsari, Pakintelan Gang III, kantor Kelurahan Pakintelan dan menuju Wihara Buddha Dipa.

Wihara Buddha Dipa merupakan wihara yang ada di kelurahan Pakintelan tepatnya di  Jl Pakintelan Raya 1 Gg Dukuh Durian Dalam RT 002/ RW 001, Pakintelan, Gunungpati, Kota Semarang. Di sebuah desa yang mayoritasnya beragama Islam, terdapat sebuah wihara yang cukup memuat umat beragama Buddha di wilayah Pakintelan dan sekitarnya untuk melakukan kegiatan puja bhakti. Di sinilah para Bhikkhu Sangha yang melakukan ritual thudong akan beristirahat sejenak. Bertemu dengan para umat Buddha maupun masyarakat lintas agama yang sudah menanti kedatangan para bhikkhu tersebut.  Perjalanan dilanjutkan dengan menelusuri jalan setapak melewati hutan melewati sungai Kali Garang menuju Wihara Sima 2500 Buddha Jayanti.

Perjalanan yang cukup melelahkan karena lokasi yang berada di hutan, dengan kontur tanah yang naik turun. Dari Vihara Buddha Dipa Pakintelan harus berjalan menuruni jalan setapak yang curam, melewati sungai Kali Garang yang cukup besar dan berlanjut dengan perjalanan dengan jalan setapak yang terjal.

Sesampainya di sana, ditemukanlah sebuah wihara kecil di tengah hutan yang menyimpan sejarah panjang perkembangan agama Buddha di Indonesia. Hal ini terlihat jelas pada tulisan di keramik yang dipasang di wihara tersebut.

“Pada Tri Suci Waisak 2499 BE/ 6 Mei 1955, pukul 18.00 di Candi Borobudur, Goei Tjwan Ling (Ir. Sutopo, M.Sc) mendanakan bukit Kasap ini kepada Ashin Jinararakhitta sebagai Pusat  Pengembangan Agama Budhha di Indonesia. Tanggal 16 Maret 1958, Bhikkhu Narada Mahathera hadir meresmikan wihara  dengan nama 2500 Budhha Jayanti.  Bhikkhu Narada Maha Thera menyematkan relik Sang  Budhha dan mengungkapkan  bahwa nilai spiritual Bukit Kasap setara Candi Borobudur. Pada hari Sukra Cemengan, tanggal 21 Mei 1959, pukul 13.00 WIB terjadi peristiwa penting bersejarah Penetapan Sima dengan tanda batas sungai kecil yang mengelilingi  Bukit Kasap”, itulah sekilas bunyi tulisan yang diabadikan untuk mengenang sejarah yang telah terjadi pada tahun 1955.

Wihara kecil yang menyimpan bukti sejarah perkembangan agama Budhha di Indonesia, yang telah lapuk termakan usia, mulai tahun 2020 dibangkitkan kembali oleh segenap para bhikkhu sangha dan masyarakat sekitar serta penggiat budaya untuk dilestarikan dan dipelihara dengan baik. Para upasaka dan upasika yang peduli dengan nilai penting sejarah Bukit Kasap, mulai merawat kembali petilasan Wihara 2500 Budhha Jayanti. Sejak bulan Maret 2020 melakukan pemugaran atas ijin dan dukungan ketua Yayasan Vajra Dipa, Loekito Raharjo Hidayat dan berbagai bhikkhu sangha dan warga masyarakat Buddha di Kota Semarang, mahasiswa UKM Kesedian Jawa UNNES serta warga Buddha dan simpatisan lainnya dari berbagai daerah di Indonesia. Dukungan tersebut diharapkan akan tetap lestarinya dan wihara tersebut dapat digunakan pemeluk agama Budhha manapun tidak terbatas pada corak ajaran, maupun organisasi sangha dan majelis pandita apapun. Dukungan tersebut demi cita-cita pendiri dan sesepuh kebangkitan Buddha Dhamma di tanah air dapat terus lestari.

Hari ini, para Bhikkhu sangha yang melaksanakan ritual Thudong sengaja mengunjungi wihara kecil untuk napak tilas perjalanan sesepuh bhikkhu sangha di bawah pimpinan Yang Mulia Ashin Jinararakhitta Maha Thera dalam meletakkan Damma pertama kali di Indonesia. Ada satu hal yang patut mendapatkan perhatian, Thudong bukan sekedar ritual berjalan kaki dengan menempuh ratusan kilometer, namun Thudong juga membangkitkan kembali pada sejarah yang terpendam. Value-value toleransi akan kebhinekaan yang sudah dimiliki oleh masyarakat Indonesia serta sejarah perkembangan agama Budhha kembali dibangkitkan dan dilestarikan.  Value-value cinta kasih yang menjadi jantungnya ajaran Buddha kembali dipancarkan membentuk vibrasi positif sebagai prabaiswara dengan pancaran sinar yang terang. Perjalanan bhikkhu Thudong mengajarkan kepada kita sebagai masyarakat untuk selalu mengingat tentang sejarah. “Jangan Sekali Melupakan Sejarah”.

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *