Tantangan yang Menyenangkan Melahirkan Animator Muda

Animasi tersebut merupakan salah satu karya Risky Kenang, yang masih duduk di bangku kelas X Animasi SMK Negeri 11 Semarang.

Ia memiliki kemampuan lebih cepat dari yang lainnya dalam membuat animasi. Meskipun masih duduk di kelas X, namun kemampuan membuat animasi dua dimensi sudah mencapai target kompetensi di kelas XI dan XII. Mengapa hal ini terjadi? Di saat semester 1, saya melihat potensi yang bagus pada dirinya, sehingga saya pantik dengan tantangan untuknya. Saya berikan sebuah cerita yang lucu dan saya minta untuk merealisasikan menjadi sebuah film animasi untuk diupload di youtube animax SMK N 11 Semarang. Tantangan yang saya berikan ternyata menjadi kebahagiaan bagi Riski Kenang, terbukti ia meminta tantangan berikutnya. Tantangan-tantangan yang diberikan bukan menjadi sebuah beban, justru membuat dirinya menjadi bahagia, ketika ia mampu menyelesaikannya. Inilah yang disebut dengan passion. Risky Kenang sudah mampu melihat passionnya yaitu di bidang pembuatan animasi 2D. Ia bahkan merasa senang ketika mampu membuat animasi dengan genre yang lucu.  Selama di kelas X ini sudah ada 9 karya animasi yang dibuatnya yaitu:

  1. Menggapai Mimpi
  2. Obrolan santai
  3. ATM Rusak
  4. Drama warteg
  5. Mancing masalah
  6. Cara Bahagia
  7. Udin Kakean Ngeles
  8. Nyinding dengan Gaya
  9. Seribu Pelaku Kejahatan

Memberikan tantangan berbeda dengan memberi tugas. Sekilas terlihat sama, yaitu sama-sama memberikan penugasan kepada anak didik, namun ada perbedaan yang fundamental dari keduanya. Ketika mendengar kata tugas, yang ada di benak anak didik kita adalah beban. Begitu seringnya guru memberikan penugasan, justru beban yang dirasakan oleh anak didik kita. Tugas itu lebih bersifat top down, dimana guru memberikan perintah untuk menyelesaikan sesuai dengan arahan, prosedur yang sudah ditetapkan dari guru. Siswa sebagai objek yang harus melakukan perintah guru. Tugas pada umumnya seragam, sehingga setiap siswa menyelesaikan apa yang diperintahkan guru dengan cara-cara yang seragam, dengan prosedur yang sama. Berbeda dengan challenge atau tantangan. Seperti tantangan yang diberikan kepada Risky Kenang yaitu membuat animasi dua dimensi. Risky Kenang memiliki kebebasan dalam menentukan ide cerita, menentukan waktu penyelesaian, membuat perencanaan sendiri. Meskipun ada ide-ide cerita dari guru, namun guru tidak memaksakan kehendaknya. Ada sebuah komunikasi dua arah yang terjalin antara anak didik dengan guru, sehingga tercapai sebuah kesepakatan di antara keduanya. Challenge lebih mengarah pada passion anak didik, sehingga tantangan antara Risky Kenang dengan yang lainnya tentunya berbeda. Tantangan yang diberikan kepada Risky Kenang bukan menjadi beban bagi anak tersebut, justru memunculkan kebagiaan baginya, terbukti selama di kelas X ia mampu membuat 9 karya animasi. Kumpulan karya inilah sebagai portofolio yang dapat menjadi penilaian akhir semester baginya.  Hormon Dopamin salah satu hormon kebahagiaan akan muncul dari pemberian challenge ini.

 

1 thought on “Tantangan yang Menyenangkan Melahirkan Animator Muda”

  1. Sukses buat Riski semoga selalu siap dan mampu menerima tanrangan2 berikutnya sehingga menjadi lulusan yang unggul dan menyenangkan untuk bangsa

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *