Dua Sekawan: Kisah Di Balik Relief Candi Mendut

Dua Sekawan di Relief Candi Mendut

Ada sebuah kisah dua kawan di balik relief Candi Mendut seperti pada gambar di atas. Kisah itu ternyata ada pada Pancatantra. Zaman dahulu tinggal dua orang sahabat dalam sebuah desa bernama Bholu dan Raghu. Mereka telah saling kenal selama bertahun-tahun. Bholu dikenal sederhana dan jujur, sedangkan Raghu sangat licik dan curang. Raghu senantiasa ingin menjadi orang kaya. Suatu hari Raghu duduk di tangga rumahnya, ia berpikir keras dan tiba-tiba mendapat suatu gagasan. ” Bholu dan aku akan mulai berusaha bersama. Setelah kami mendapat keuntungan, aku akan mencuri uangnya. Lalu aku akan menjadi sangat kaya dan hidup bagaikan raja”, pikir Raghu.

Segera ia pergi menemui Bholu dan berkata, “Kawan, aku punya akal yang jitu agar kita menjadi kaya. Ayo kita pergi ke dunia luas dan besar ini untuk mendapatkan banyak uang. Karena kita pandai dan pekerja keras, kita akan segera menjadi kaya”. Bholu berpikir sejenak dan kemudian setuju, “Baiklah, ayo kita pergi dan mencoba peruntungan kita”. Kedua orang itu meninggalkan desanya dan pergi ke kota terdekat. Setelah beberapa tahun berlalu mereka menjadi sangat kaya. Suatu hari Raghu berkata, “Ayo kita kembali ke desa”. “Ayo , aku ingin pulang kembali,” jawab Bholu. Dalam perjalanan pulang, Raghu tiba-tiba berhenti dan berkata, “Bholu aku khawatir tidak aman membawa demikian banyak uang pulang ke rumah. Ayo kita bawa sekedarnya saja dan sisanya kita sembunyikan.” Bholu menganggukkan kepalanya dan berkata, “Baiklah, tetapi di mana kita sembunyikan?”. Sambil menunjuk pada sebatang pohon tua, Raghu berkata, “Kita gali lubang kecil dibawah pohon ini untuk menyembunyikan kantong-kantong kita di dalamnya dan menutupinya kembali. Uang itu akan aman dalam tanah.” Bholu dengan senyum berkata, “Itu gagasan yang baik. Kita akan kembali nanti bila kita memerlukan uang lagi.” Kedua orang itu menghampiri pohon tua itu dan menggali sebuah lubang agak dalam. Cepat-cepat mereka menaruh kantong-kantong mereka di dalam lubang. Setelah menutup lubang itu kembali, mereka pulang ke rumahnya masing-masing. Malam itu secara diam-diam Raghu mengendap-endap keluar dari rumahnya. Ia kembali ke pohon tua itu dan mulai menggalinya. Cepat-cepat diambilnya semua kantong uang itu dari dalam lubang. “Kuharap tak seorangpun melihatku,” pikirnya. Raghu bergegas pulang ke rumahnya. Bholu bangun pagi-pagi sekali keesokan harinya. Ia melihat Raghu berjalan menuju rumahnya. “Betapa bodohnya si Bholu!” pikir Raghu .”Ia tak tahu aku telah mengambil uangnya dan aku sekarang dua kali lebih kaya dari sebelumnya.” Raghu sangat puas dengan keadaan dirinya. ” Selamat pagi Raghu,” kata Bholu. “Apa yang dapat kulakukan untukmu?” . “Kawan,” kata Ragu. ” Aku telah menggunakan uangku sampai habis dan sekarang aku butuh uang lagi. Ayo kita pergi ke pohon tua itu untuk mengambilnya lagi sedikit.” Bholu sangat terkejut .”Apa! Kamu telah menghabiskannya! Yah kalau begitu ayo kita pergi kesana,” katanya. Ketika menggali mereka mendapatkan lubang itu telah kosong. Bholu sangat terkejut. Raghu juga mencoba untuk tampak terkejut. “Beberapa orang pencuri telah mencuri uang kita,” kata Bholu dengan sedih. “Apa , beberapa orang pencuri ? teriak Raghu.”Jangan bohong kamu Bholu. Kamu telah mengambil uang itu semua. Bagaimana dapat kamu begitu tega dengan kawanmu sendiri?” Bholu merasa sedih dan marah mendengar hal itu. Ia berkata, “Aku adalah orang jujur. Bagaimana dapat kamu menuduhku mencuri uangmu? Sungguh, kamu merupakan teman yang baik!” Raghu menjawab, “Kamu harus mengembalikan uangku segera atau aku akan membawamu pada hakim.” Bholu berkata, “Ya. Ayo . Biar Pak Hakim yang memutuskan kebenarannya.” Kedua orang itu kemudian mendatangi hakim, sambil terus bertengkar di sepanjang jalan. Hakim tua mendengarkan cerita mereka. Kemudian Raghu berkata, Bholu telah mencuri uang itu. Dewa penguasa hutan pasti melihatnya mencuri. Ayo kita tanya dia, pasti akan mengatakan kenyataannya. “

Si Hakim tua itu setuju.” Kita akan selesaikan besok pagi,” katanya.Malam itu Raghu berkata pada Ayahnya. Katanya, “Ayah, aku telah mencuri uang. Sekarang hanya Ayah yang dapat menyelamatkan saya.” Ayah Raghu tak punya pilihan. Ia menyanggupi untuk melakukan yang dikatakan putranya. Ia dengan cermat mendengarkan rencana puteranya itu. Besoknya, sang hakim, kedua sahabat itu dan beberapa orang tetua desa pergi ke pohon tua itu. Mereka berdiri pada tempat di mana uang itu tadinya dikubur. “Wahai dewa hutan!” teriak Raghu. ” Tolong beritahu kami siapa pencurinya.” Dari dalam rongga pada pohon itu terdengar suara aneh. “Pencurinya adalah Bholu, ” katanya. Raghu kelihatan sangat senang. Pak hakim mulai berembuk dengan para tetua desa. Sementara itu Bholu mulai mengumpulkan daun-daun dan ranting-ranting kering. Ia menumpuknya persis di luar rongga itu, kemudian membakarnya. Orang-orang lainnya memperhatikan dengan heran. Segera nyala panas dan asap mulai memasuki rongga. Tiba-tiba seorang tua melompat keluar. Ia terbatuk-batuk dengan keras dan tampaknya sangat ketakutan. Ia Ayah Raghu. Tampak sangat malu, ia berkata, “Maafkan saya. Saya bersembunyi dalam rongga kayu itu. Suara yang tadi kalian dengar adalah suaraku. Anakku memaksaku untuk berbohong. Bholu tidak mencuri uang.” Pak hakim sangat marah mendengar hal ini. Kalau demikian Raghu lah pencurinya. Ia harus dihukum,” katanya. Uang Bholu dikembalikan padanya dan ia hidup bahagia selamanya.

Kisah yang menarik ini beberapa Minggu yang lalu saya berikan kepada Ridhofat untuk dibuat gambar ilustrasi dengan output buku cerita bergambar.  Ridhofat merupakan salah satu murid kelas X jurusan Animasi SMK N 11 Semarang. Ada beberapa alasan mengapa Ridhofat yang saya pilih untuk mendapatkan tantangan membuat gambar ilustrasi dari cerita di atas. Pertama, dari hasil pengamatan beberapa  minggu sebelum libur akhir semester, Ridhofat aktif mengirim karya bebas di group. Kedua, berdasarkan percakapan, Ridhofat pernah menerima tantangan membuat karakter tokoh nusantara. Ketiga, saya punya keyakinan bahwa dirinya mampu menyelesaikan tantangan ini.

Beberapa hari setelah menerima tantangan ini, Ridhofat mampu membuat gambar ilustrasi berupa sketsa-sketsa dalam bentuk panel-panel dengan ukuran 16:9. Hal ini bertujuan agar dapat dilanjutkan dengan pembuatan animasi di tahap berikutnya.

Usai Ridhofat memperlihatkan hasil gambar ilustrasinya, tidak lupa saya melakukan dialog meskipun melalui Whatsapp untuk membangun refleksi. Refleksi ini penting dalam pembelajaran, karena akan memunculkan kesadarana diri dan akan menumbuhkan proses belajar sepanjang hayat. “Mas. Apa yang kamu rasakan setelah berhasil membuat gambar ilustrasi tentang cerita dua sekawan dari relief Candi Mendut?”, tanya saya kepada Ridhofat. “Yang pasti itu ada rasa sedikit capek karena memikirkan konsep yang menarik pak, lalu yang kedua ada rasa puas setelah komik buatan sendiri sudah jadi”, jawab Ridhofat. Jawaban ini menunjukkan bahwa Ridhofat menikmati prosesnya. Capek, lelah adalah hal alamiah dalam setiap kegiatan, namun adanya kepuasan tersendiri¬† setelah mampu menyelesaikannnya menggambarkan bahwa dirinya menikmati proses itu. “Hal baik apa yang kamu peroleh dari project komik ini?”, tanya saya lebih lanjut. “Hal baik yang saya dapatkan dari project komik ini adalah saya menjadi semakin percaya diri dengan membuat komik sesuai gaya gambar saya”, ungkap Ridhofat. Hal yang mesti ditingkatkan adalah kualitas skill menggambar saya, saya akan terus mengasah skill saya supaya tidak naik turun dalam menggambar”, ungkap Ridhofat.

Tantangan ini merupakan salah satu bentuk penerapan pembelajaran diferensiasi terutama diferensiasi produk. Saya mencoba memfasilitasi murid-murid yang memiliki kemampuan bagus dan lebih cepat seperti Ridhofat ini dengan memberikan tantangan yang lebih. Pada semester 2, ia akan meneruskan gambar ilustrasi ini menjadi animasi. Ia menyanggupi tantangan ini sekaligus akan belajar menerapkan prinsip-prinsip animasi dalam project riil dari kisah Bholu dan Raghu yang digambarkan dalam relief Candi Mendut. Semoga project ini membawa dampak pada rasa bangga terhadap budaya nusantara. Salam budaya nusantara.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *