Pencegahan Bullying Melalui Morning Sharing di Padlet.com

Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan perlu mendapatkan perhatian guru untuk melakukan langkah-langkah nyata upaya pencegahan. Usaha preventif jauh lebih penting sehingga meminimalisasi dan tidak memberikan ruang gerak terjadinya tindakan kekerasan. Ada tiga dosa besar yang seharusnya tidak terjadi di dunia pendidikan yaitu bullying, kekerasan seksual dan intoleransi. Bagaimana langkah preventif yang hendaknya dilakukan oleh guru untuk mempersempit ruang gerak terjadinya tindak kekerasan? Untuk menjawab hal ini tentu berkaitan erat dengan lima kebutuhan manusia yaitu bertahan hidup, kasih sayang dan rasa diterima, kesenangan, kebebasan dan penguasaan. Seluruh tindakan manusia memiliki tujuan tertentu. Semua yang kita lakukan adalah usaha terbaik kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, sebetulnya saat itu kita sedang memenuhi satu atau lebih dari satu kebutuhan dasar kita. Ketika seorang murid melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu sebenarnya dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka.  Dari kelima kebutuhan dasar manusia tersebut ada empat yang bersifat psikologis yaitu kasih sayang, kebebasan, kesenangan dan penguasaan. Keempat kebutuhan tersebut bersifat psikologis yang erat hubungannya dengan batiniah.

Lingkungan sekolah hendaknya mampu membuat ekosistem yang menyenangkan bagi murid. Sekolah benar-benar sebagai rumah kedua para murid. Dapat dibayangkan, ketika para murid sebagian besar berasal dari keluarga dengan perekonomian menengah ke bawah, berasal dari keluarga yang kurang  harmonis, dari keluarga broken home, kelima kebutuhan dasarnya belum tentu terpenuhi. Ketika berangkat sekolah dengan perut kosong, kadang kala hanya membawa uang yang minim hanya bisa untuk transportasi saja. Ditambah dengan suasana batiniah yang tidak mendukung dari rumah. Apa yang terjadi ketika suasana lingkungan belajar secara psikologisnya tidak mendukungnya? Sekolah bukan lagi menjadi rumah kedua bagi mereka. Sebagai pelariannya, maka murid menjadi lebih senang ketika bertemua dengan teman-teman di luar sekolah, yang dampaknya akan menjadi murid yang membolos. Hormon kebahagiaannya akan terpenuhi dengan obat-obatan terlarang, minum-minuman keras bahkan dengan tawuran dan sebagainya, karena dari kegiatan tersebut mereka sedang memenuhi kebutuhan dasarnya, hanya dengan cara-cara yang bisa melanggar hukum.

Lingkungan psikologis di sekolah menjadi bagian yang sangat penting untuk membentuk sekolah yang menyenangkan. Bagaimana caranya? Kali ini saya akan berbagi pengalaman tentang penggunaan padlet.com untuk mengungkapkan perasaan murid tentang tiga hal yang membuat bahagia dan membuatnya sedih. Cara ini saya adobsi dari Mas Ali dan saya modifikasi menggunakan padlet. Dalam padlet

Andinie
“Tiga hal yang membuat bahagia yaitu: 1) Menggambar. Menggambar berarti menuangkan imajinasi ke dalam sebuah kertas dan membutuhkan proses. Jadi, saya akan bahagia bila hasil gambar tersebut sesuai dengan ekpektasi. 2) Teman yang baik.
Berteman dengan teman yang baik membuat saya merasa diterima dihargai, dibutuhkan, dan dibutuhkan oleh mereka. Mereka juga membantu saya untuk keluar dari kesedihan yang mendalam. 3) Tokoh favorit. Mempunyai tokoh favorit membuat saya punya sesuatu untuk disukai. Meski mereka tidak mengenal kita, tapi cara mereka untuk menghibur dari kejauhan bisa membuat saya bahagia”, ungkap Andinie.
“Tiga hal yang membuat sedih yaitu: 1) Overthinking. Terkadang pikiran bisa membuat seolah-olah saya sendirian. Di saat seperti itu rasanya tidak ada yang menginginkan saya lagi dan berujung ke kesedihan yang mendalam. 2) Tugas yang tidak kunjung selesai. Tugas yang menumpuk, padahal deadline tinggal sedikit bisa membuat saya panik dan menjadi tidak termotivasi. 3) Romance yang berlebihan. Ini remeh, tapi saya punya kecenderungan untuk tidak menyukai sesuatu yang terlalu seksual. Saya tidak pernah menyukai istilah “pacaran” dan tidak pernah pula menonton film/drama bertema romance.(saya kurang suka karena hal itu sebenarnya dilarang dalam agama karena mendekati zina). Tiap kali melihat hal yang terlalu intim membuat saya tak nyaman dan membuat agak badmood”, ungkap Andinie.
“Tiga hal yang membuat saya bahagia adalah: 1) Family time.  Waktu yang diluangkan dan dinikmati bersama keluarga dapat menjadi kunci dari hubungan keluarga yang harmonis; 2) Membaca novel tanpa diganggu. Karena membaca novel dapat membuat saya mengurangi stress. 3) Melakukan hal yang menyenangkan dengan sahabat. Karena Kehadirannya membantu saya melewati fase kehidupan yang sulit menjadi lebih ringan. Ia juga bisa membuatmu lebih menghargai diri sendiri”, ungkap Fiorenza. “Tiga hal yang membuat sedih yaitu mendapatkan nilai jelek, tidak mempunyai uang dan tidak mempunyai teman”, ungkap Fiorenza. Ungkapan-ungkapan siswa lainnya dapat dilihat pada link berikut. https://drive.google.com/file/d/1kvq1j7nham-_Og_B9voTQxCFWCRUrJiO/view?usp=sharing.
Itulah gambaran siswa ketika mengungkapkan tiga hal yang membuat bahagia dan membuat sedih melalui link padlet. Hal kecil ini menjadi media membangun budaya dialektika pada murid, memberikan wadah untuk olah rasa, wadah untuk mengungkapkan rasa, dengan harapan kebutuhan dasarnya ada sebagian yang terpenuhi. Dari keterbukaan inilah, diharapkan akan meminimalisasi kejadian bullying. Semoga.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *