Mengintip Kinerja Siswa Kelas X Belajar di Animars Studio

Sejak awal Bulan Mei 2023, sebanyak 6 siswa kelas X Animasi SMK Negeri 11 Semarang belajar di Animars Studio Yogyakarta. Keenam siswa tersebut adalah Agusta, Adnyanti, Callista, Giwang, Khanza dan Rani Cahaya. Selama 6 bulan ke depan keenam siswa tersebut fokus belajar di studio tersebut  untuk mengenal secara langsung pekerjaan di bidang industri kreatif. “Keenam siswa tersebut mengikuti kegiatan belajar di Animars Studio karena portofolionya dinyatakan layak untuk mengikuti proses mengerjakan project yang ada di studio”, ungkap Rifan Binar selaku pembimbing dari Animars Studio. Beberapa hari yang lalu Mas Rifan melaporkan bahwa keenam siswa selama 1 bulan di Animars mampu menyesuaikan dengan baik. “Untuk perkembangan cukup baik dibandingkan yang pertama”, ungkap Mas Rifan.

Pekerjaan di sana ternyata tidak seragam satu sama lainnya. Mereka melakukan pekerjaan sesuai dengan job yang diberikan pihak Animars Studio. “Saya, Callista, Rani dan Agusta mengerjakan aset karakter Pak. Dinar membuat naskah cerita gambar, dan Khanza mengerjakan Voice Over”, ungkap Andyanti ketika memberikan laporan di group whatsapp.

“Perubahan kompetensi apa yang paling kaliang rasakan?”, tanya saya kepada mereka.  Menurut Callista, yang paling ia rasakan salah satunya adalah pentingnya memiliki sikap peduli dan inisiatif tinggi di tempat kerja. Menurut Giwang, ia merasakan bahwa dirinya semakin cepat dalam bekerja. Calista juga merasa bahwa dirinya belajar membuat artsyle yang efektif untuk mengatasi deadlinenya yang pendek.

“Saya dulu sulit membagi waktu dan belum pintar menaruh target pada karya-karya saya. Tapi sekarang saya bisa bilang kalau saya sudah berkembang dan bisa memanage waktu lebih efektif dan lebih baik. Kecepatan menggambar saya juga meningkat karena sehari-hari ada target yang harus dicapai. Kalau tentang skill sosial, saya merasa bahwa kemampuan kerja sama saya sudah meningkat ke arah yang lebih baik. Saya sadar bahwa komunikasi sangatlah penting dimanapun dan kapanpun. Intinya, jika saya membandingkan diri saya yang sekarang dengan diri saya yang dulu. Saya akan berkata bahwa saya bangga dengan perubahan saya”, ungkap Andyanti.

Ketika membaca tulisan-tulisan respon dari mereka saya semakin merasa lega. Tidak sia-sia ketika saya memperjuangkan mereka agar lebih dini melakukan kegiatan PKL, meskipun secara regulasi mereka seharusnya mengikuti kegiatan PKL di kelas XII. Meskipun mereka masih duduk di kelas X, tapi kenyataannya kemampuan mereka sudah dianggap layak untuk mengikuti project di industri.

“Saya disini merasa walau under pressure namun harus tetap fokus menjalani pekerjaan dan melakukan kewajiban selayaknya siswa magang ataupun tim animars. Selain itu walau terasa lelah harus tetap menjaga emosi dan sikap agar tetap terlihat profesional didepan tim, teman ataupun pimpinan. Jikalau saya menilai dari sisi pertemanan harus dekat dengan teman-teman maupun atasan, agar tidak ada salah paham ketika berbicara tentang job yang dipegang. Ada pula beberapa pelajaran tatakrama dan kedisiplinan yang banyak saya pelajari seperti menghormati teman ataupun orang yang lebih tua dan kedisiplinan waktu pengumpulan pekerjaan dan ketepatan waktu berangkat ke kantor”, ungkap Kanza. Lagi-lagi terasa nyes ketika membaca tulisan refleksi mereka. Bukan masalah lama waktu di sekolah yang menjadi bekal mereka di industri. Namun berbekal kesiapan mereka ketika akan terjun di industri. Tidak ada korelasi yang signfikan antara lama waktu di sekolah dengan kesiapan siswa mengikuti kegiatan project di industri.

Perubahan ke arah yang lebih baik itulah yang menjadi tolok ukurnya. Berdasarkan pengakuan mereka, semuanya menyatakan ada peningkatan yang signifikan. “Dulu skor 3 dan untuk bulan ini meningkat menjadi  6 dari skor 0 sampai dengan 10, karena menurut saya, masih banyak yang perlu saya  biasakan dan dibenahi agar cara kerja saya lebih efektif lagi”, ungkap Callista. “Skor diri saya yang dulu sekitar 5 dan  sekarang meningkat 7,5”, ungkap Callista. “Saya dulu 6 sekarang 8 pak’, ungkap Giwang. “Dulunya saya 3 tapi  untuk sekarang 8 Pak”, ungkap Agustya. “Saya merasa kalau dulu itu masih rendah antara 4 atau 5 namun saya merasa soft skill dan hard skill saya meningkat sejauh 8, namun saya merasa harus meningkatkan lagi sejauh mungkin agar lebih baik”, ungkap Kanza.

Peningkatan kompetensi yang paling dominan dari setiap siswa berbeda-beda. “Untuk dalam bidang menggambar saya masih mengikuti, namun jika ada pengerjaan lain seperti mengedit suara dan mendata list job teman-teman saya juga bisa melakukan itu”, ungkap Kanza. “Manage file, coloring, lineart saya juga meningkat karena sudah menemukan teknik yang tepat dan sesuai dengan kenyamanan saya”, ungkap Callista. “Saya merasa unggul di bidang manage file dan coloring”, ungkap Andyanti.

Inilah cara kami mengintip kinerja dan perubahan yang terjadi ketika mereka melakukan proses belajar di industri. Meskipun jauh, namun dialog melalui tulisan tetap kami jalin, sehingga kedekatan dengan siswa masih saya rasakan. Budaya dialektika inilah yang selalu saya utamakan. Dengan proses bertanya bukan menasehati, justru evaluasi diri bisa terungkap. Kedekatan inilah yang membuat mereka rindu kehadiran guru. “Pak Di kapan kemari pak? Rani kangen Pak. Dinar lebih kangen Pak, Semuanya kangen pak”, ungkap mereka di group.

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *