Mengembangkan Cinta Kasih Melalui Olah Rasa

Hari ini, minggu, 6 Agustus 2023, meskipun libur tidak mengajar di sekolah, namun pekerjaan mendidik dan mengajar tidak ada liburnya. Mendidik itu bagaikan aliran napas yang terus menerus selama nyawa ini masih melekat di tubuh ini. Salah satu cara yang saya lakukan dalam proses mendidik adalah melalui olah rasa yang bertujuan untuk menghaluskan rasa, mengembangkan empati dan cinta kasih sehingga well being benar-benar terasa pada peserta didik dan akhirnya menjadi perilaku keseharian.

Kali ini, saya mencoba memantik olahrasa peserta didik melalui sebuah gambar beberapa bangkai anak burung yang ada di sangkar.

“Gambar ini merupakan foto dari anak burung yang sudah menjadi tulang belulang. Ada dugaan besar bahwa anak burung tersebut mati kelaparan karena induknya tidak kembali lagi membawa makanan, mungkin induknya kecelakaan atau dimangsa oleh binatang lain atau juga ditembak oleh sang pemburu atau pula ditangkap manusia dan dikurung di sangkar. Kadang kita sebagai manusia merasa gembira ketika melihat seekor burung yang berkicau di dalam sangkar, padahal kita tidak tahu betapa sedihnya burung tersebut, sedang menangis karena ingat bahwa anaknya akan mati kelaparan ketika dirinya tidak bisa kembali ke sarangnya. Dari ilustrasi ini, apa yang kalian rasakan? Apa yang kalian pikirkan dan tindakan apa yang akan kalian lakukan setelah membaca ilustrasi ini. Pak Di tunggu respon kalian. Terima kasih”, tulis saya di dalam group kelas X. Selain itu untuk mendukung suasana dalam olah rasa dan olah batin peserta didik, sengaja saya kirimkan sebuah lagu dengan judul “Bila Cinta Kasih Ada” yang dinyayikan oleh Odelia Sabrina ciptaan Jan Hien.

Bila cinta ada dihati kita
Maka tiada lagi benci pada sesama
Bila kasih ada dihati kita
Maka terhapuslah kesombongan dijiwa
Sungguh indah hidup ini
Bila saling menyayangi
Tiada iri tiada benci
Hidup lebih berarti
Sesungguhnya kita sama
Tiada berbeda
Punya hati punya rasa
Ingin hidup tenteram bahagia
Bila cinta ada dihati kita
Maka tiada lagi benci pada sesama
Bila kasih ada dihati kita
Maka terhapuslah kesombongan dijiwa
Sungguh indah hidup ini
Bila saling menyayangi
Tiada iri tiada benci
Hidup lebih berarti
Sesungguhnya kita sama
Tiada berbeda
Punya hati punya rasa
Ingin hidup tenteram bahagia
Sungguh indah hidup ini
Bila saling menyayangi
Tiada iri tiada benci
Hidup lebih berarti
Sesungguhnya kita sama
Tiada berbeda
Punya hati punya rasa
Ingin hidup tenteram bahagia

Beberapa menit kemudian, beberapa siswa sudah memberikan respon. Salah satunya adalah Wahyu, kelas X Animasi yang memberikan respon tentang perasaaannya. “Sedih karena anak burung tersebut sudah menunggu lama untuk di beri makan oleh sang induk tetapi induk tersebut tidak pernah kembali sehingga anak anak burung tersebut mati kelaparan”, ungkap Wahyu. “Pikiran saya adalah anak barung tersebut masih membutuhkan kasih sayang, perlindungan dan nafkah dari seorang induknya. Tindakan saya adalah tidak boleh memburu dan menangkap burung”, ungkap Wahyu lebih lanjut.

“Untuk kedepannya saya akan menjadi yang lebih baik lagi dan menghindari larangan dalam Pancasila Buddhis. Yaitu 1. Menghindari Membunuh mahluk hidup walau mahluk hidup itu sekecil apapun ke 2. saya akan menghindari mengambil barang yang tidak di berikan kepada saya yang ke 3. Saya akan melatih diri untuk menghindari suatu perbuatan asusila ke 4. Saya akan menghindari diri ucapan yang tidak benar satu berbohong, mem fitnah orang lain, meng gosip dan menyebarkan sesuatu yang tidak benar. dan yang ke 5 saya akan menghindari minuman keras yang membuat kesadaran saya melemah. Sesungguh nya manusia di kehidupan ini adalah buah atau hasil dari karma masa lampau nya sehingga sebisa mungkin kita bisa melakukan banyak perbuatan yang baik dan yang bermanfaat bagi orang lain maupun diri kita sendiri”, ungkap Raditya siswa kelas XI PPLG.

“Saya merasa sedih kepada anak burung itu. Dan saya kasihan kepada induk burung tersebut karena tidak dapat bertemu anak-anak nya karena ulah manusia yang rakus akan keindahan burung tersebut. Saya tidak akan menangkap burung dan saya akan melihat ke indahan burung dari jauh. Kemudian saya usahakan untuk tidak merusak alam agar tetap terjaga ekosistem alam”, ungkap Ahmad Nur Fuad, siswa kelas X PPLG.

“Melihat anak burung yang mati kelaparan hingga menjadi tulang belulang mengingatkan saya tentang rapuhnya kehidupan di alam. Saya mungkin merasa prihatin dan berduka atas penderitaan burung tersebut, serta merasa bersalah atas dampak negatif yang mungkin disebabkan oleh tindakan manusia seperti perburuan atau penangkapan. Saya mungkin juga merenung tentang bagaimana kehadiran manusia dalam ekosistem dapat berdampak besar pada makhluk hidup lainnya. Setelah membaca ilustrasi ini, saya mungkin akan berusaha untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan makhluk hidup di sekitar saya. Saya bisa berkontribusi dengan mendukung upaya konservasi, tidak mengganggu habitat alam, dan menghormati kehidupan hewan dengan mempertimbangkan tindakan-tindakan yang lebih bijaksana terhadap alam”, ungkap Ganesh siswa kelas X PPLG.

“Yang saya rasakan dari cerita tersebut adalah sedih. Yang saya pikirkan adalah bagaimana jikalau saya menjadi anak burung di cerita tersebut. Tindakan yang akan saya lakukan adalah saya akan terus berhati hati dan mempertimbangkan tindakan yang akan saya lakukan”, ungkap Azhar siswa kelas X DKV.

“Yang saya rasakan dari cerita ini adalah sedih dan takut. Yang saya pikirkan adalah bahwa saya sebagai anak di ibaratkan burung- burung itu masih sangat membutuhkan orang tua. Tindakan saya itu adalah bahwa saya akan menuruti nasehat orang tua saya”, ungkap Matilda siswa kelas X DKV.

“Yang saya rasakan dari foto tersebut adalah terharu, respect dan sedih. Yang saya pikirkan adalah bagaimana jika saya adalah anak burung tersebut. Jika seandainya ibu burung tersebut tertangkap dan di masukan sangkar oleh seseorang, dan ibu burung tersebut terus berkicau dan bernyanyi setiap hari. Bisa jadi dalam kicauan itu berarti “Nak, maafkan ibu tidak bisa kembali, tidak bisa mengantarkan makanan untuk kalian, dan maaf tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk kalian. Tindakan yang akan saya lakukan adalah untuk tidak menyakiti binatang dan menyayangi mereka sebagai sesama makhluk hidup. Saya juga akan lebih menghormati dan menghargai orang tua saya yang sudah bekerja keras untuk saya dan adik saya”, ungkap Citra siswa kelas X DKV.

“Yang saya rasakan yaitu kasihan dan sedih. Yang saya pikirkan ialah bagaimana jika saya ada di posisi anak anak burung tersebut, tentunya saya pasti sedih dan juga merasa kelaparan. Tindakan yang akan saya lakukan adalah lebih berhati-hati dengan sesama makhluk hidup, saling menyayangi sesama makhluk hidup, dan ingin menolong sesama makhluk hidup”, ungkap Tanaya siswa kelas X DKV.

“Yang saya rasakan ialah sangat sedih dan terharu karena burung burung itu mati dalam keadaan lapar dan burung itu ibaratkan adalah anak yang tidak bisa hidup tanpa orang tuanya terkadang kita juga harus bisa merasakan apa perjuangan orang tua kita lakukan karena kita juga belum tau bahaya apa atau betapa kerja kerasnya orang tua kita”, ungkap Ahmad siswa kelas X DKV.

“Yang saya rasakan adalah kesedihan dan kekecewaan pada manusia yang hanya memikirkan kebahagiaan mereka sendiri dan tidak memikirkan akibat yang akan terjadi setelahnya, walaupun burung dianggap peliharaan namun mereka juga merupakan mahluk hidup yang memiliki orang tua dan pasti anak, sebagai seorang anak saya akan lebih menghargai orang tua dan membantu mereka sebisa saya dan tidak terpaku oleh kedua orang tua”, ungkap Abdiel siswa kelas X DKV.

“Yang saya rasakan ketika melihat foto ini yaitu tersentuh dan pandangan saya kembali dibuka oleh gambar itu dan yang saya pelajari dari foto ini yaitu terlihat jelas sekali bahwa mereka tengah menunggu ibu mereka, tetapi disatu sisi juga saya berpikir bahwa ibu mereka sudah mati karena dibunuh ataupun dimangsa. Dan yang saya pikirkan : “Setiap kali Anda melawan seseorang, maka Anda juga melawan tanggungan yang ada pada mereka” lalu “Jangan menjadi alasan mengapa seseorang kesakitan” dan “Jangan bunuh impian mereka hanya karena Anda setuju dengan ide mereka”. Setiap kata-kata yang mereka ucapkan dapat membawa kepada kehidupan atau pun kematian. Jangan lih-alih anda mengecilkan impian mereka tetapi anda harus mendukung mereka dengan kata-kata yang menyemangati. Karena pada akhirnya Anda tidak akan menanggung beban yang ada pada tubuh mereka dan yang terakhir yaitu ” Jangan menjadi alasan kenapa mereka menyerah pada impian mereka!  Tindakan yang saya lakukan : selalu menyemangati orang lain, dapat menjadi teman bicara yang baik, dan menghindari hal yang dapat melemahkan semangat mereka dalam menggapai impian mereka”, ungkap Regina siswa kelas X DKV.

“Yang saya rasakan ketika melihat foto tersebut adalah Sedih, kecewa dan terharu. Saya merasa sedih dan kecewa karena pastilah anak anak burung itu sedang berharap induknya membawakan mereka makanan, namun sayang sang induk tidak bisa selamat sampai tujuan. Tentu sang induk rela mempertaruhkan nyawa mencari makanan demi anak anaknya. Dan tindakan yang bisa diambil adalah, Menjadi pribadi yang lebih mandiri, mengikuti nasehat orang tua, dan selalu membantu tugas tugas rumah”, ungkap Lintang siswa kelas X DKV.

“Sangat sedih karena anak burung itu menunggu induknya kembali ke sangkarnya,berharap induk membawakan anak burung makanan,tetapi induk burung itu tidak lekas kembali ke sangkarnya,sehingga anak burung itu mati kelaparan.pikiran saya adalah anak burung butuh induknya untuk keberlangsungan hidupnya dalam membawakan makanan untuk anaknya bisa bertahan hidup.tindakan yang harus saya lakukan adalah tidak boleh menangkap burung,berburu burung,karena kita tidak tau bahwa ada seorang anak burung yang sedang menunggu induknya kembali”, umgkap Yus , siswa kelas X Animasi.

“Sangat sedih dikarenakan anak burung tersebut telah menunggu induknya yang sedang mencari makanan, anak burung tersebut telah menunggu lama dan berharap induk burung tersebut membawa makanan untuk memenuhi kebutuhan, ternyata induk burung tersebut tidak kembali sehingga anak burung tersebut mati kelaparan. Kita tidak boleh asal memburu burung maupun hewan lain secara liar hanya untuk kepentingan pribadi entah untuk pamer atau kebutuhan lainnya, sebab burung maupun hewan hewan diluar sana juga ingin merasakan kebebasan”, ugkap Nabil siswa kelas X Animasi.

Masih banyak jawaban peserta didik terkait dengan olah rasa ini dan hampir jawabannya adalah merasa kasihan dan akhirnya memiliki keinginan kuat untuk tidak melakukan pemburuan, menangkap burung ataupun membunuhnya. Inilah cara sederhana yang saya lakukan untuk mengembangkan cinta kasih (metta) pada peserta didik. Olah rasa inilah yang diharapkan akan menumbuhkan kesadaran diri untuk berperilaku baik. Jika belum mampu berbuat baik, maka hindarilah kejahatan.  Lebih baik lagi adalah menambah kebaikan untuk meningkatkan kualitas hidup ini. Pada tataran yang lebih tinggi lagi untuk meningkatkan level kualitas hidupnya adalah sucikan hati dan pikiran.  Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *