Magang Kelas X, Kembangkan Softskill Sejak Dini

Merdeka belajar yang diterapkan pada jurusan Animasi SMK N 11 Semarang memberi dampak pada percepatan lompatan kompetensi siswa. Salah satu realisasi dari merdeka belajar ini adalah memberikan kesempatan untuk mengikuti magang di kelas X bagi siswa yang sudah layak mengikutinya. Salah satu yang dipersyaratkan untuk mengikuti magang dari industri kreatif adalah berupa pengiriman portofolio berupa karya. Dari portofolio dan wawancara menjadi pertimbangan diterima atau tidaknya siswa mengikuti magang. Penerapan magang di kelas X ini sudah berlangsung 3 tahun yang lalu, awalnya hanya 2 siswa yang sudah layak, tahun kedua sebanyak 8 siswa dan tahun pelajaran 2021/2022 sudah mencapai 24 siswa kelas X yang mengikuti magang di tujuh perusahaan atau industri kreatif yang tersebar di Jawa yaitu Vokasee, Aconggraphic, Animars, Pikara, RUS dan Pickolab dan Harunika Art. Pekerjaan yang dibidangi anak saat magang bervariasi tergantung dari studio yang ditempati antara lain sketsa (11%), pembuatan asset 2D (22%), modeling 3D (22%), animate 2D (6%), ilustrasi (28%) dan coloring (11%).  Pekerjaan yang mereka sebagian besar sudah masuk di project industri seperti pembuatan NFT pesanan client, membuat animasi 2D merevisi hasil pekerjaan, pembuatan asset asset 2d untuk di jual di pasaran online dengan target minimal 200 asset per hari dan membuat modeling 3D sesuai dengan tema yang ditentukan oleh perusahaan.

Sebagian besar siswa merasa berkesan dengan pekerjaan yang dilakukan di tempat magang. Pekerjaan yang dilakukan mampu mengembangkan kreativitas mereka. “Ketika mengejakan NFT, saya berusaha membuat gambar saya menjadi lebih unik dan kreatif agar dapat laku di pasaran, dan saya belajar menjadi pekerja asli di dunia kerja dan belajar berkerja sama dengan teman teman saya”, ungkap salah satu siswa yang mengikuti magang di RUS Kudus.  Di samping kreativitas,  mereka merasa adanya peningkatan skill  dari proses kegiatan magang tersebut, seperti yang diungkapkan oleh salah satu siswa yang mengikuti magang di Vokasee, “Yang paling berkesan adalah saat modelling 3D, karena sesuai hobi saya, dan manfaat yang paling besar adalah skill yang meningkat karena disini membuat bermacam-macam objek yang berbeda-beda”.

Suasana tempat magang bagi mereka adalah tempat yang menyenangkan. Tempat magang sangat berbeda dengan suasana di sekolah. Meskipun tekanan pekerjaan lebih tinggi, namun suasana kekeluargaan lebih terasa menyenangkan.  Beberapa siswa yang magang di Aconggraphic menyatakan bahwa tentang keramah

an yang terjalin di tempat magang. Hal ini tidak lepas dari pemilik usaha yang lebih mengutamakan humanisme. “Kesan saya terhadap tempat magang adalah “speechless” sulit untuk mendiskripsikan tempatnya dan reaksi saya. Pemiliknya sangat ramah kepada kami. Para pembimbingnya menjelaskan kepada kami cara penggunaan PhotoShop dan semua tool’s yang dimiliki secara lengkap dan kami diajarkan beberapa tips and triks”. Begitu juga yang ada di studio lainnya yang begitu menyenangkan membuat mereka betah berada di industri. Hal ini  tidak lepas dari komunikasi yang dikembangkan di tempat industri. Dari proses magang inilah anak-anak belajar bagaimana mengembangkan komunikasi yang baik dengan para mentor di industri, pemilik industri maupun berkomunikasi dengan klien. Hasil evaluasi diri siswa menunjukkan bahwa skor komunikasi yang dijalankan di tempat industri berada pada skor 7 sampai dengan 10. Kondisi inilah patut menjadi contoh untuk dikembangkan di kelas, sehingga kelas tidak terasa kaku, penuh kekeluargaan.

Budaya kerja di industri kreatif yang

paling penting adalah disiplin, karena hal ini berkaitan dengan deadline pekerjaan yang sangat menentukan klien terhadap perusahaan. Displin yang dilakukan di tempat magang tidak terlalu kaku, namun menumbuhkan pada kesadaran diri untuk tumbuh dan berkembangnya tanggungjawab. Suasana inilah yang membuat siswa menyadari betapa pentingnya melaksanakan disiplin dalam menjalankan pekerjaan. Mereka mengungkapkan bahwa di tempat industri mereka belajar tidak menunda-nunda pekerjaan, sering datang ke tempat magang, dan selalu mengikuti aturan yang ada. Hal ini dapat dilihat pula dari hasil evaluasi diri menunjukkan bahwa skor disiplin memenuhi deadline waktu siswa pada skor 7 sampai dengan 10 dan sebagian besar siswa berada skor 9.  Kecepatan siswa dalam menyelesaikan pekerjaan di tempat industri berada pada skor 6 sampai skor 10 dan sebagian besar di skor 7.

Berdasarkan uraian tersebut menunjukkan bahwa banyak nilai-nilai yang diperoleh dari proses magang di kelas X. Mereka lebih awal mengenal budaya kerja di industri. Hasil evaluasi diri tentang apa yang akan dilakukan setelah mengikuti magang mereka akan membagikan ilmu yang diperoleh di tempat magang ke teman-temannya di sekolah, akan melanjutkan berkecimpung di dunia bisnis dan gambar oline, mengembangkan skill yang lebih mendalam bahkan akan mencari tempat magang baru guna meningkatkan skill, portofolio dan pengalaman kerja.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *