Belajar Seperti Menaiki Anak Tangga

Kembali hari ini kita mencoba untuk merefleksikan apa yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara.  Ada satu hal yang membekas di pikiran saya terkait dengan mendidik dan mengajar. Mendidik dan mengajar itu diibaratkan sebuah permainan, dimana anak didik itu diberikan tantangan-tantangan yang bersifat menantang. Mendidik dan mengajar itu hendaknya dilakukan secara bertahap seperti menapaki anak tangga dengan tingkat kesulitan yang semakin meningkat. Dalam bahasa game anak diajak melakukan eksplorasi ke dalam level-level yang selalu meningkat. Ketika siswa mampu masuk pada level 1 dan sudah berhasil, maka ia akan semakin ingin mencoba masuk pada level 2 dan level seterusnya.

Begitu juga dengan pembelajaran yang saya lakukan pada mata pelajaran dasar-dasar animasi di kelas X. Pada saat materi menggambar bentuk, maka saya mencoba menyajikan daftar nama-nama  buah sebanyak 36. Peserta didik didik mendapatkan tantangan menggambar buah sesuai dengan daftar nama buah yang tercantum sesuai dengan nomor presensinya. Cara yang sederhana ini merupakan salah satu contoh diferensiasi produk, karena setiap peserta didik akan membuat gambar yang berbeda-beda. Tahap berikutnya, saya juga menyampaikan bahwa produk yang akan dibuat dalam materi gambar bentuk ini ada empat karya yaitu: 1) gambar buah secara manual dengan alat pensil dengan teknik arsiran; 2) gambar buah secara manual dengan teknik pewarnaan menggunakan pensil warna; 3) gambar buah secara digital dengan alat sesuai dengan kecocokan dan kemampuan peserta didik; 4) gambar kartun buah.

Empat produk tersebut menggambarkan level-level yang harus dilalui oleh siswa. Ketika siswa mampu membuat gambar manual dengan teknik arsiran menggunakan pensil sehingga hasilnya telah menunjukkan gambar buah yang memperlihatkan adanya volume, memperlihatkan perbedaan gelap terang sesuai dengan arah cahayanya, maka siswa dinyatakan telah menyelesaikan kegiatan di level 1. Sebagai buktinya, karya mendapatkan tanda tangan dari saya sebagai bukti validasi bahwa karyanya sudah layak untuk dikirim ke link yang disediakan. “GKL” dan “VGKL” merupakan cara saya memberikan respon positif untuk penguatan bagi siswa. Berikut karya beberapa siswa ketika menggambar buah menggunakan pensil yang mencoba menerapkan perbedaan gelap dan terang arsiran sehingga menghasilkan gambar buah yang menampakkan tekstur dan volumenya.

 

Jambu Biji dengan Pensil (Zahra Salma)

Nangka dengan Pensil (Karya Mutiara)
Rambutan dengan Pensil Warna (Nandita)
Leci dengan Pensil (Andrea)
Alpokat dengan Pensil (Airera)

Untuk selanjutnya siswa yang sudah mendapatkan tanda tangan dan respon VGKL ataupun GKL, maka mereka akan memasuki level 2. Pada level ini, mereka akan mendapatkan tantangan menerapkan teori warna. Ketika proses ini, sengaja saya membiarkan terlebih dahulu bagaimana mereka menggunakan pensil warna untuk membuat tekstur dan warna dari sketsa buah yang diperoleh.  Dari proses ini ada banyak temuan sehingga mempengaruhi hasilnya.  Salah satunya kesalahannya  adalah membuat sketsa menggunakan pensil.  Kesalahan ini menjadi evaluasi bagi mereka bahwa bercampurnya karbon menggunakan pensil dengan pensil warna membuat hasilnya kurang optimal. Dari evaluasi ini maka siswa diminta untuk membuat sketsa menggunakan pensil dengan warna yang lebih cerah dulu seperti warna kuning, hijau muda ataupun orange.  Kesalahan berikutnya adalah siswa memberikan pewarnaan kurang kompleks. Siswa memberikan pewarnaan dengan hanya dua warna bahkan ada yang menggunakan warna hitam. Siswa juga kurang membuat gradasi warna. Dari evaluasi ini, menjadikan siswa melakukan perbaikan-perbaikan dalam proses pewarnaan. Inilah yang saya sebut sebagai remidiasi. Remidi tidak harus menunggu materi selesai, baru melakukan proses remidi. Karena setiap siswa memiliki kecepatan yang berbeda-beda, maka remidinya pun juga berbeda-beda dari aspek waktu maupun kontennya.  Berikut hasil beberapa karya siswa pada level 2 yaitu membuat gambar buah dengan teknik pewarnaan menggunakan pensil warna.

Jambu Biji dengan Pensil Warna (Zahra Salma)

Nangka dengan Pensil Warna (Mutiara)
Rambutan dengan Pensil Warna (Nandita)
Leci dengan Pensil Warna (Andrea)
Alpokat dengan pensil warna (Airera)

Di era digital ini, siswa juga harus mendapatkan tantangan untuk membuat gambar secara digital. Tahapan ini termasuk pada level 3, karena di level ini siswa mendapatkan tantangan yang lebih kompleks. Mereka harus mampu menggunakan android ataupun laptop dengan berbagai sofware yang sesuai dengan spesifikasi alat yang dipakai. Ketika menggunakan software di android ataupun laptop, mereka harus belajar menggunakan tool-tool yang ada, mengatur layer-layer, memilih warna yang sesuai sehingga menghasilkan warna yang lebih gelap dan terang serta mengatur pencahayaannya. Di level 3 ini, siswa lebih banyak bermain secara teknik maupun rasa untuk menghasilkan karya yang lebih estetis.  Komposisi gambar maupun komposisi warna menjadi hal penting untuk memperoleh hasil yang lebih optimal. Beberapa karya siswa yang masuk di level 3 ini dapat dilihat pada gambar berikut.

Jambu Biji Digital (Mutiara)
Nangka dengan Digital (Mutiara)
Rambutan secara Digital (Nandita)
Leci Digital (Andrea)
Alpokat Digital (Airera)

Inilah proses pembelajaran yang kami lakukan secara kolaborasi dengan guru lain. Setelah level 3 ini dapat diselesaikan, maka karya dari ketiga level ini selanjutnya menjadi tantangan untuk membuat sebuah produk yang layak jual, misalnya disablon di kaos, di mug dan sebagainya dan endingnya dijual di masyarakat. Saya berkolaborasi dengan Pak Taufiq yang lebih fokus membidangi di bidang market place. Dari uraian ini menggambarkan bahwa mendidik dan pembelajaran pada dasarnya memberikan tantangan bagi siswa untuk menaiki tangga. Semakin tinggi tangga yang dilalui, semakin kompleks tantangan yang mereka hadapi. Inilah cara yang sederhana  yang kami lakukan dalam proses project based learning pada mata pelajaran dasar-dasar animasi di kelas X animasi SMK Negeri 11 Semarang.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *