“Agama Penuntun Hidupku”, Challenge Olah Pikir, Olah Rasa dan Olah Laku untuk Merawat Kebinekaan

Gambar ilustrasi tersebut merupakan hasil karya Yosa Surya kelas X Animasi SMK Negeri 11 Semarang ketika menyelesaikan sebuah challenge tentang literasi yang berkaitan dengan pelajaran agama Kristen dan budi pekerti.  Challenge ini merupakan kolaborasi antara mata pelajaran produktif animasi dan pelajaran agama Islam, Katolik dan Kristen yang ada di jurusan Animasi SMK Negeri 11 Semarang. Di dalam challenge tersebut anak didik diminta berliterasi dengan mencari bacaan dari berbagai literatur yang ada yang berkaitan dengan pelajaran agama sesuai dengan agamanya masing-masing. Mereka diminta membuat kesimpulan dari apa yang dibaca, menyampaikan apa yang dirasakan dan tindakan apa yang akan dilakukan, seta membuat sebuah karya  misalnya membuat komik, cerita, gambar ilustrasi atau animasi. 

Challenge ini bertujuan untuk membiasakan budaya literasi di kalangan siswa.  Dari sumber bacaan yang tersebut Yosa mampu membuat gambar ilustrasi yang menarik dan membuat sebuah tulisan yang mendukung cerita tersebut tentang Daud raja Israel. Ia mampu membuat kesimpulan bahwa kita tidak perlu takut selama kita tidak salah dan semua masalah harus tetap mengandalkan Tuhan. Yosa merasa bersyukur setelah melihat dan membaca cerita sehingga dapat mengandalkan Tuhan. Dari bacaan tersebut ia memiliki rencana akan lebih mendalami dalam beribadah dan membaca Alkitab karena hidupnya akan selalu mengandalkan Tuhan dan tidak lupa bersyukur setiap hari. Ungkapan Yosa dalam bentuk tulisan dan gambar ilustrasi tersebut merupakan salah contoh bahwa siswa tidak hanya dituntut untuk olah pikir dengan cara membuat kesimpulan, namun dituntut untuk olah rasa dengan mengungkapkan apa yang dirasakan dari proses literasi tersebut serta olah laku yaitu mampu membuat sebuah perencanaan atau tindakan atas dirinya sendiri. Dari proses olah pikir, olah rasa dan olah laku tersebut mendorong Yos untuk membuat gambar ilustrasi yang menarik.

Gambar di atas merupakan hasil karya Regina Paskalya pada challenge kolaborasi antara mata pelajaran produktif animasi dan mata pelajaran agama Katolik dan Budi Pekerti. Setelah membaca sebuah buku yang berkaitan dengan pelajaran agama Katolik, ia mampu mengolah pikir dengan membuat suatu kesimpulan bahwa bacaan dan ilustrasi yang dibuat sebagai perumpamaan anak yang hilang. Seorang anak bungsu yang memilih hidupnya berfoya-foya daripada bekerja keras seperti si Sulung. Dari bacaan tersebut Regina juga memberikan kesimpulan tentang kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya walaupun anaknya bersalah namun tetap merangkulnya. Dari literatur yang ia baca, Regina merasa terharu dengan kasih sayang seorang ayah kepada anaknya. Dari olah pikir dan olah rasa tersebut Regina memiliki keinginan (olah laku) untuk lebih menghormati dan menaati, menyayangi orang tua seperti mereka yang menyayangi kita dengan tulus adanya.

Amelia Nanda Safitri yang menyelesaikan challenge kolaborasi antara mata pelajaran produktif animasi dengan mata pelajaran agama Islam dan budi pekerti mampu membuat kesimpulan bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua hukumnya adalah wajib. Umat Islam melarang anak membentak dan berkata kasar kepada orang tua dan diwajibkan bebicara sopan kepada orang tua. Dari sebuah bacaan, Amelia merasakan bahwa dirinya lebih bersyukur karena memiliki orang tua yang telah berjuang untuk membesarkan dirinya dari kecil hingga sekarang. Dari olah pikir dan olah rasa tersebut Amelia akan berusaha untuk menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, lebih bersyukur dan berbicara dengan sopan kepada orang tua.

Challenge dengan judul “Agama Penuntun Hidupku” memberikan tantangan untuk berliterasi, olah pikir dengan cara membuat kesimpulan dari apa yang telah dibacanya, mengolah rasa dengan cara menuliskan apa yang dirasakan dan olah laku yaitu menuliskan apa yang akan dilakukan selanjutnya berdasarkan kegiatan literasi tersebut.  Tantangan project ini menuntut anak didik untuk melakukan refleksi diri, sehingga anak didik tidak hanya sekedar melakukan proses membaca (literasi), namun mampu berpikir, merasakan dan merencanakan serta mampu mencipta yakni membuat karya yang berkaitan dengan apa yang telah dibacanya. Proses pembelajaran ini menjadi lebih bermakna, karena ketika di dalam kelas, satu demi satu siswa menceritakan kembali tentang bacaan dari perspektif agamanya masing-masing. Dampaknya siswa lebih menghargai perspektif orang lain dengan sudut pandang agama yang berbeda-beda. Kebinekaan akan semakin terawat dari kegiatan ini, karena mereka menjadi sadar bahwa perbedaan agama tidak menjadikan mereka terpecah, justru menjadi kekayaan. Ibarat bunga yang beraneka warna lebih indah daripada bunganya hanya satu warna. Beragama merupakan salah satu hak asasi manusia dan agama sebagai penuntun dan pedoman dalam menjalankan kehidupan ini. Apapun agamamu, kita adalah satu yaitu bangsa Indonesia. Agama bukan sekedar teori, namun agama perlu diterapkan dalam sebuah tindakan pada diri kita dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Itulah pesan moral yang disampaikan dari pembelajaran tersebut. 

 

 

 

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *