Ketika Saya Menjadi Guru Penggerak

Ketika menjadi guru penggerak, apa yang akan dilakukan? Sebuah pertanyaan yang menuntut perenungan mendalam. Bagi saya pertanyaan tersebut tentu sudah ada jawaban yang sudah direalisasikan sebelum menjadi guru penggerak, hanya belum menyadari bahwa apa yang dilakukan itu mengandung nilai-nilai dan peran sebagai guru penggerak.  Ada beberapa nilai yang hendaknya dimiliki oleh seorang guru penggerak yakni berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif dan inovatif.

Di sebuah desa kecil yang subur yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya luhur, seorang guru dianggap seperti seorang petani yang bijaksana, dengan tangan dinginnya mampu merawat ladang padi dengan penuh dedikasi, seorang guru juga merawat bibit pengetahuan di hati para anak didiknya. Seperti saat petani menanam benih padi dengan cermat, mampu merencanakan dengan baik, mempersiapkan lahan pembibitan dengan mengaduk, menggemburkan dan memberikan air secukupnya beserta pupuk kandang, mendiamkan dalam waktu tertentu sehingga siap untuk lahan pembibitan padi. Seperti itulah peran seorang guru hendaknya mampu merencanakan pelajaran dengan hati-hati. Posisi saya sebagai guru penggerak diibaratkan sebagai petani yang harus mampu menanamkan gagasan dan konsep kecil ke dalam pikiran para anak didiknya, memberi mereka dasar yang kuat untuk tumbuh dan berkembang.  Dari posisi inilah, saya harus mampu mendidik (educare). Di saat petani melakukan proses penyemaian benih padi inilah, seorang guru hendaknya mampu memunculkan potensi, bakat dan passion yang dimiliki oleh peserta didik.

Yang dihadapi oleh guru setiap tahunnya berganti dan sesuai kodrat zamannya. Oleh karena itu untuk memunculkan potensi, bakat dan passion yang dimiliki oleh peseserta didik, maka saya harus mampu berkolaborasi dengan teman sejawat, dengan orang tua dan masyarakat.  Melakukan tes diagnostik untuk menemukenali potensi dan bakat yang dimiliki merupakan langkah awal yang perlu dilakukan. Dalam lingkup yang lebih kecil di dalam kelas, maka yang pertama kali dilakukan adalah memberikan tantangan kepada siswa untuk mengeksplore siapa diri siswa, apa kelebihan dan kekurangannya, apa yang menjadi cita-citanya dan sebagainya dengan tujuan menggali potensi yang dimiliki siswa. Berikut contoh tantangan yang sudah saya berikan kepada siswa agar mengenali diri sendiri.  Andinie Kameilla mampu mengungkapkan tentang dirinya melalui video animasi sebagai berikut.

Proses menemukenali  apa yang menjadi potensi, bakat dan passion yang dimiliki siswa tentu dibutuhkan pantikan berupa tantangan yang inovatif. Video di atas merupakan bukti kreativitas siswa ketika bercerita tentang siapakah dirinya. Sesuai dengan bakat dan potensinya, siswa yang memiliki bakat menulis dan menggambar juga diberikan wadah yang berbeda untuk mengungkap tentang dirinya.  Seperti yang dilakukan oleh Giwang yang mengungkapkan tentang siapakah dirinya dalam bentuk tulisan sebagai berikut.

Cara-cara inilah yang akan terus saya pertahankan untuk menemukenali potensi, bakat dan passion siswa. Dari sinilah bisa dilakukan pemetaan. Tentu saja ini tidak bisa dilakukan sendiri, maka saya akan terus menjali kerjasama dengan guru-guru lain, orang tua dan masyarakat.

Kembali pada situasi dimana seorang guru dianalogikan sebagai seorang petani. Ketika tanaman padi tumbuh, petani harus memperhatikan setiap detailnya, memastikan cukup air, memberi pupuk dan melindungi dari hama. Demikian pula, seorang guru harus mampu mengawasi perkembangan para anak didiknya. Demikian juga, apa yang harus saya lakukan selanjutnya adalah memberikan bimbingan, membantu mengatasi kesulitan, dan memastikan agar pengetahuan berkembang seiring waktu.  Proses ini justru yang paling banyak menyita waktu. Satu demi satu saya harus memiliki waktu bagi siswa untuk membangun budaya dialektika. Berdialog dengan siswa menjadi kata kuncinya dan menjadi coach yang akan memastikan bahwa siswa akan terus mengembangkan potensi dan bakatnya. Proses belajar seperti siklus pertumbuhan tanaman padi. Interaksi antara guru dan anak didik menjadi kunci utamanya. Ketika seorang anak didik bertanya, ini seperti tanaman yang membutuhkan sinar matahari untuk tumbuh. Guru memberikan jawaban, memberi penjelasan lebih lanjut, dan menjaga semangat belajar tetap hidup seperti petani yang merawat pertumbuhan tanaman. Dalam skala yang lebih beasr di bidang kesiswaan, maka saya akan merawat potensi dan bakat yang dimiliki oleh siswa dengan cara berkolaborasi dengan pembimbing ekstrakurikuler. Pada event-event tertentu seperti saat MPLS, Class meeting maupun secara berkala akan diberikan kesempatan untuk menampilkan dalam bentuk pameran, pagelaran dan unjuk kerja.

Makna belajar sebenarnya lebih dari sekadar mengisi konten pengetahuan. Belajar sejati melibatkan proses pemahaman yang mendalam, refleksi, dan penerapan konsep dalam kehidupan nyata (school connected). Untuk mengatasi misskonsepsi ini, guru perlu mendorong anak didiknya untuk bertanya, berpikir kritis, dan mengembangkan keterampilan berpikir mandiri.. Belajar bukan hanya tentang menghafal fakta, tetapi juga tentang memahami konsep, merumuskan pertanyaan, dan menjalani eksplorasi aktif terhadap materi pelajaran. Dengan cara ini, anak kita dapat mengembangkan pemahaman yang lebih dalam, relevansi dan bermakna dalam pembelajaran mereka. Berkaitan dengan ini, maka nilai reflektif dari seorang guru penggerak sangat berperan penting. Sebagai guru penggerak, maka secara kontinu saya akan melakukan proses refleksi (olah pikir, olah rasa dan olah laku). Di setiap akhir kegiatan apapun, termasuk pembelajaran di kelas, maupun kegiatan-kegiatan lainnya di sekolah, saya akan konsisten memberikan wadah umpan balik dan refleksi. Olahrasa dari kejadian apapun akan saya lakukan, sehingga diharapkan akan muncul olah laku.  

Seperti yang saya lakukan pada minggu, 6 Agustus 2023, meskipun libur tidak mengajar di sekolah, namun pekerjaan mendidik dan mengajar tidak ada liburnya. Mendidik itu bagaikan aliran napas yang terus menerus selama nyawa ini masih melekat di tubuh ini. Salah satu cara yang saya lakukan dalam proses mendidik adalah melalui olah rasa yang bertujuan untuk menghaluskan rasa, mengembangkan empati dan cinta kasih sehingga well being benar-benar terasa pada peserta didik dan akhirnya menjadi perilaku keseharian. Saat itu saya mencoba memantik olahrasa peserta didik melalui sebuah gambar beberapa bangkai anak burung yang ada di sangkar.

“Gambar ini merupakan foto dari anak burung yang sudah menjadi tulang belulang. Ada dugaan besar bahwa anak burung tersebut mati kelaparan karena induknya tidak kembali lagi membawa makanan, mungkin induknya kecelakaan atau dimangsa oleh binatang lain atau juga ditembak oleh sang pemburu atau pula ditangkap manusia dan dikurung di sangkar. Kadang kita sebagai manusia merasa gembira ketika melihat seekor burung yang berkicau di dalam sangkar, padahal kita tidak tahu betapa sedihnya burung tersebut, sedang menangis karena ingat bahwa anaknya akan mati kelaparan ketika dirinya tidak bisa kembali ke sarangnya. Dari ilustrasi ini, apa yang kalian rasakan? Apa yang kalian pikirkan dan tindakan apa yang akan kalian lakukan setelah membaca ilustrasi ini. Pak Di tunggu respon kalian. Terima kasih”, tulis saya di dalam group kelas X. Selain itu untuk mendukung suasana dalam olah rasa dan olah batin peserta didik, sengaja saya kirimkan sebuah lagu dengan judul “Bila Cinta Kasih Ada” yang dinyayikan oleh Odelia Sabrina ciptaan Jan Hien.

Beberapa menit kemudian, banyak siswa sudah memberikan respon. Salah satunya adalah Wahyu, kelas X Animasi yang memberikan respon tentang perasaaannya. “Sedih karena anak burung tersebut sudah menunggu lama untuk di beri makan oleh sang induk tetapi induk tersebut tidak pernah kembali sehingga anak anak burung tersebut mati kelaparan”, ungkap Wahyu. “Pikiran saya adalah anak barung tersebut masih membutuhkan kasih sayang, perlindungan dan nafkah dari seorang induknya. Tindakan saya adalah tidak boleh memburu dan menangkap burung”, ungkap Wahyu lebih lanjut.

“Untuk kedepannya saya akan menjadi yang lebih baik lagi dan menghindari larangan dalam Pancasila Buddhis. Yaitu 1. Menghindari Membunuh mahluk hidup walau mahluk hidup itu sekecil apapun ke 2. saya akan menghindari mengambil barang yang tidak di berikan kepada saya yang ke 3. Saya akan melatih diri untuk menghindari suatu perbuatan asusila ke 4. Saya akan menghindari diri ucapan yang tidak benar satu berbohong, mem fitnah orang lain, meng gosip dan menyebarkan sesuatu yang tidak benar. dan yang ke 5 saya akan menghindari minuman keras yang membuat kesadaran saya melemah. Sesungguh nya manusia di kehidupan ini adalah buah atau hasil dari karma masa lampau nya sehingga sebisa mungkin kita bisa melakukan banyak perbuatan yang baik dan yang bermanfaat bagi orang lain maupun diri kita sendiri”, ungkap Raditya siswa kelas XI PPLG. “Saya merasa sedih kepada anak burung itu. Dan saya kasihan kepada induk burung tersebut karena tidak dapat bertemu anak-anak nya karena ulah manusia yang rakus akan keindahan burung tersebut. Saya tidak akan menangkap burung dan saya akan melihat ke indahan burung dari jauh. Kemudian saya usahakan untuk tidak merusak alam agar tetap terjaga ekosistem alam”, ungkap Ahmad Nur Fuad, siswa kelas X PPLG.

Refleksi melalui olah olah pikir, olah rasa dan olah laku tersebut akan terus dilakukan dengan berbagai cara dari fenomena dan kejadian yang muncul, dengan harapan akan menumbuhkan kesadaran diri siswa. Cara-cara yang sederhana namun dilakukan secara kontinyu merupakan bagian dari nilai-nilai kemandirian dari seorang guru. Mandiri berarti tidak tergantung pada orang lain, namun dari keyakinan dirinya terus melakukan perubahan. Inilah yang disebut memerdekakan dirinya sendiri. Pentingnya memerdekakan diri sebagai guru sebelum memerdekakan murid sangatlah mendasar dalam dunia pendidikan. Guru yang merdeka memiliki potensi untuk memberikan pengaruh positif yang lebih besar pada anak didiknya. Guru yang merdeka dalam pikiran dan tindakan mampu menjadi sumber inspirasi bagi anak didiknya. Mereka dapat menunjukkan bahwa kemandirian dan keberanian untuk berpikir di luar kotak adalah hal yang penting. Guru yang merdeka cenderung lebih berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan. Guru memiliki kebebasan untuk mencari metode pengajaran yang lebih efektif, berinovasi dalam kurikulum, dan memastikan pembelajaran yang lebih baik. Karena sejatinya guru itulah sebagai kurikulum yang berjalan. Dengan memerdekakan diri, guru harus mampu memecahkan kebiasaan-kebiasaan yang mungkin sudah usang atau kurang efektif dalam pengajaran. Ini membuka jalan bagi perubahan positif dalam pendidikan.

Nilai kolaborasi harus terus dinyalakan. Guru bukanlah lilin yang menyala dan nyala apinya akan melelehkan dirinya. Guru adalah arang menyimpan api. Nyala arang ini akan menyala terus ketika berdekatan dengan arang-arang yang lain. Inilah peran guru penggerak yakni mengajak arang-arang pendidikan lainnya untuk bersedia menyalakan api secara bersama-sama. Untuk berkolaborasi dengan baik, maka saya akan terus membangun komunitas. Melalui kolaborasi dengan sesama guru yang juga merdeka, energi kreatif dan semangat untuk menciptakan perubahan dalam pendidikan semakin kuat. Mereka dapat berbagi ide, pengalaman, dan dukungan. Jadi, memerdekakan diri sebagai guru adalah langkah awal yang penting untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih dinamis dan berkualitas, yang pada gilirannya akan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak didik kita. Oleh karena itu saya bertekad untuk menjadi guru yang merdeka sebelum memerdekakan anak didik kita.

Petani yang sukses tidak lepas dari inovasinya dalam merawat tanaman. Ia tidak cukup berbekal pengalaman saja, namun akan beradaptasi dengan zaman. Ia akan terus belajar tentang dunia pertanian dan mencoba menerapkan dalam proses merawat tanaman. Demikian pula dengan guru penggerak, maka saya akan berusaha melakukan proses inovasi-inovasi dalam mendidik dan mengajar. Tentu saja untuk berinovasi dibutuhkan literasi yang banyak. Keikutsertaan dalam diklat-diklat dan berkomunitas dengan orang-orang yang memiliki vibrasi positif akan saya lakukan. Dengan cara inilah, secara kontinyu inovasi akan terwujud.  Guru yang bijaksana adalah petani yang berhasil, dan mereka merasa bangga melihat para anak didik mereka berkembang menjadi individu yang berkarakter lurus, berpengetahuan luas, dan siap menghadapi dunia dengan kompetensinya. Seperti tanaman yang tumbuh subur, proses ini adalah hasil dari perawatan, interaksi, dan upaya bersama guru dan anak didik.

Setiap langkah kecil yang saya lakukan dan secara terus menerus melakukan perubahan akan selalu saya dokumentasikan dalam bentuk tulisan dan akan diposting di http:diyarko.com

 

 

1 thought on “Ketika Saya Menjadi Guru Penggerak”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *