Banjir Meteseh Memantik Jiwa Kemanusiaan

Jebolnya tanggul sungai di daerah Meteseh Kota Semarang menyebabkan terendamnya rumah-rumah di wilayah perumahan Dinar Indah pada hari Jumat, 6 Januari 2023. Bencana alam ini terjadi akibat turun hujan yang sangat deras secara menyeluruh di wilayah Kota Semarang dan Kabupaten Semarang.

Bantuan dari masyarakat sekitar di wilayah Kota Semarang terus berdatangan. Bantuan tidak hanya berasal dari sukarelawan yang mengevakuasi para korban, namun bantuan harta benda berupa makanan, selimut, pakaian juga berdatangan. Menumpuknya bantuan di tempat posko pengungsian juga membutuhkan tenaga yang bertugas untuk menata dan mendistribusikannya.

Maghfiro Rosa S, siswa kelas X Animasi SMK Negeri 11 Semarang selama 2 hari ini ikut bergabung untuk membantu di tempat pengungsian ini. Ini merupakan panggilan jiwa. Ia tidak ikut organisasi PMR di sekolah, namun karena terketuk perasaannya akhirnya ia memutuskan untuk bergabung di Posko pengungsian tersebut. “Di hari pertama, ketika saya pertama kali masuk kedalam gedung, banyak barang yang belum tertata. Saya kemudian dimintai tolong untuk membantu merapikan barang-barang dan mengelompokkan sesuai jenisnya. Saya dari setengah 11 siang hingga jam setengah 10 malam untuk hari pertama”, cerita Magfiro. Jiwa kepemimpinannya, sudah terlihat sejak masuk di jurusan Animasi SMK Negeri 11 Semarang. Terlihat pula saat memimpin kegiatan pentas karya menjelang penerimaan rapport di semester ganjil di tahun 2022.¬† Magfiro tidak memiliki bekal penanganan bencana, seperti teman-temannya di organisasi PMR, namun jiwa kemanusiannya yang mendorong untuk membantu. Apa yang bisa ia bantu dengan tenaga dan pikirannya, ia lakukan. Meskipun harus angkat-angkat barang, ia bersedia melakukannya.

“Sebetulnya kemarin Sabtu saya bingung mau ngapain. lalu, guru SMP saya mengabari di grup alumni pramuka SMP N 42 Semarang. Kemudian, karena saya memiliki waktu kosong selama 2 hari, ya sudah saya ikuti pak. Itung itung selain sesama membantu, saya juga mendapat pengalaman dan ilmu baru. Sekarang jadi ngerti, oh kaya gini toh suasana posko bantuan ketika ada bencana banjir”, ungkap Magfiro lebih lanjut.¬†Saya salut dan bangga ketika melihat anak didik saya, memiliki jiwa menolong untuk sesama. Inilah sebenarnya yang disebut dengan belajar yang sebenarnya. Belajar itu tidak harus dilakukan di sekolah saja. Belajar di masyarakat jauh lebih bermakna. Untuk itu administrasi yang masih bersifat kaku harus mulai dilenturkan. Ketika anak didik kita seperti Magfiro yang melakukan kegiatan kemanusiaan seperti ini, maka dapat diminta membuat laporan yang bisa dikonversi menjadi pembelajaran. Kita sebagai guru dapat memberikan penilaian karakter yang sesungguhnya. Bukan hanya dikejar-kejar presensi dan tugas saja. Tantangan project sosial seperti inilah yang mampu menghaluskan rasa, membangun empati.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *