Refleksi tentang Keberadaan Pelukis di Relief Candi

Sumber: Anandajoti, 2019 (Avadana Tradisi Sang Bodhisattwa)

Gambar di atas merupakan salah satu cuplikan relief Candi Borobudur. Di bagian kiri, rombongan telah tiba membawa lambang kerajaan seperti kipas bulu merak, kipas daun dan payung, juga gajah bersama pawangnya. Tiga orang duduk dekat raja memegang lukisan anak laki-laki, yang jelas mereka perlihatkan kepada raja untuk mendapatkan persetujuan. Ilustrasi pada relief Candi tersebut menggambarkan bahwa seniman seperti seni lukis, menggambar atau pelukis potret sudah mendapatkan pengakuan dari raja di jaman Mataram Kuno.

Para pelukis potret di Indonesia, sebenarnya dapat mencari akar berkreativitasnya sejak zaman kuno, ketika kerajaan-kerajaan klasik masih berkembang. Hal yang digambarkan tidak ada bedanya, yaitu potret orang dengan berbagai variasinya dan juga potret suasana, adegan masyarakat dalam lingkungannya. Perbedaannya hanyalah terdapat pada media tempat dituangkannya kreativitas seni tersebut, pada masa silam pada batu dalam bentuk relief dan arca, sedangkan para pelukis zaman sekarang menggunakan kanvas, cat, konte, dan lainnya lagi. Pahatan relief yang sangat detail juga menunjukkan bahwa para leluhur nusantara sudah memiliki profesionalisme yang tinggi dalam bidang seni. Wajar jika masyarakat Indonesia lebih fleksibel dalam berpikir dan berkreasi karena memiliki DNA di bidang seni. Kita patut berbangga dengan para leluhur yang memiliki kreativitas tinggi.

“Dari ilustrasi tentang adanya persembahan lukisan oleh masyarakat kepada sang Raja yang tergambar pada relief Candi Borobudur tersebut, insight apa yang kalian peroleh. Apa yang kalian rasakan dan apa yang akan kalian lakukan selanjutnya”, tanya saya melalui group whatsapp sambil mengirim foto relief Candi Borobudur tersebut.

“Saya memperoleh insight tentang pentingnya seni lukis dan penghargaan terhadap karya seni di masyarakat. Menurut saya persembahan lukisan kepada raja mencerminkan nilai-nilai budaya dan keagamaan yang mungkin dihargai melalui seni visual. Saya merasa kagum terhadap kekayaan budaya dan sejarah yang tercermin dalam seni visual tersebut. Selanjutnya saya akan saya akan membagikan informasi menarik seputar kebudayaan yang ada di Indonesia dengan teman-teman saya”, ungkap Julian.

“Bagi saya lukisan atau menggambar itu adalah sesuatu yang sangat keren sampai sampai jaman dulu bisa sampai ke tangan raja raja pada masa itu, dan saya merasa terkesan karena ilmu itu masih digunakan hingga sekarang, gambar atau lukisan juga bukan hanya untuk ilustrasi biasa pada masa itu, pada zaman batu juga ada gambar gambar di goa yang itu bisa dipelajari para penemu sekarang. Saya tetap akan belajar tentang gambar dan mengembangkan kreasi kreasi yang lebih bagus dan bermanfaat”, ungkap Yosepta.

Menurut Pak Daryono, memancing gudang kesadaran para murid tentang karya-karya leluhur masa lalu dapat memantik kesadaran bahwa para murid yang mungkin juga  bagian dari masa lalu itu. Melalui cara seperti ini, saya yakin ada sebagian murid yang dapat tersentuh bahkan tergugah batinnya untuk bangkit dan menjadikan momentum ini sebagai langkah awal guna mengasa dan memunculkan potensi dirinya. Hal ini juga dirasakan oleh Bahtera salah satu murid kelas XI Animasi SMK N 11 Semarang yang saat ini sedang magang dan memiliki passion di bidang melukis, “Saya merasa bangga karena saya bisa mengikuti jejak dari jaman Mataram Kuno”.

Inilah cara sederhana yang kami lakukan untuk memantik cara berpikir, cara mengolah rasa sehingga muncul kesadaran diri pada murid untuk mengambangkan potensi yang dimiliki sebagai wujud rasa bangga terhadap peninggalan leluhur bangsa.

 

 

 

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *