Mengenali Vibrasi Diri Sendiri

Your Magic Blog: KESEDARAN VIBRASI

Mengenal diri sendiri merupakan point penting untuk mengasah kesadaran diri. Dengan mengenal kekurangan yang dimiliki maupun kelebihan yang dimiliki dan dilanjutkan dengan refleksi diri, akan berdampak pada keinginan untuk berubah ke arah yang lebih baik.  Oleh-oleh halal-bi halal yang disampaikan Pak Rizal dan Bu Novi selaku Founder dan Cofounder GSM pada hari Senin, 1 Mei 2023, segera saya buatkan artikel rangkumannya. Tidak hanya berhenti dalam bentuk artikel, karena materi ini saya pandang penting untuk diketahui pula oleh anak didik saya. Anak didik saya inilah sebagai calon pemimpin masa depan, yang akan memberikan pengaruh besar terhadap lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu mengenali vibrasi diri sendiri, perlu dilakukan sehingga diharapkan ada proses tindakan berikutnya dalam rangka meningkatkan level vibrasinya.

Malam-malam setelah magrib, artikel yang saya buat segera saya kirimkan ke group whatsapp kelas X animasi. https://diyarko.com/semangat-idul-fitri-membangun-vibrasi-positif-pendidikan/. “Anak-anakku, setelah kalian membaca artikel tersebut, coba kenali diri sendiri, kalian berada pada level mana? “, tanya saya di group tersebut. Sederhana apa yang saya lakukan. Tidak ada unsur paksaan, hanya memberikan pantikan kecil kepada anak didik untuk membaca artikel tersebut. Pembiasaan literasi ini sengaja saya lakukan di group kelas maupun di group pengurus OSIS. Setelah sekitar 15 menit kemudian, sudah ada salah satu peserta didik yang memberikan respon pertama kali yaitu Ahmad Yasin. “Setelah membaca artikel tersebut, saya baru sadar ternyata ada energi semacam itu ketika kita berinteraksi sesama. Walau saya masih kurang yakin saya berada di level berapa. Tapi saya akan berusaha untuk menjadi lebih baik”, ungkap Yasin. Segera saja saya memberikan respon balik. Karena inilah kunci mengembangkan budaya dialektika yaitu fast respon. Dari fast respon, peserta didik akan mendapatkan energi positif kembali, karena apa yang menjadi responnya mendapatkan penghargaan. “Dari tingkatan tingkatan itu, mas Yasin cenderung sering di level mana? Netral, kemauan, menerima, cinta kasih, damai, atau yang mana?”, tanya saya kembali. “Mungkin di level adanya kemauan pak”, jawab Yasin. “Dari artikel tersebut, apa yang akan mas Yasin lakukan agar memiliki pengaruh besar terhadap lingkunganmu?”, pertanyaan lebih menohok untuk memantik rencana lebih lanjut dalam rangka meningkatkan vibrasi Yasin. “Mungkin mulai dari hal yang saya cukup kuasai yaitu membantu teman-teman di bidang 3D pak”, jawab Yasin. Bahagia yang saya rasakan atas kesadaran diri Yasin dalam rangka meningkatkan level vibrasinya. Kesadaran untuk membantu temannya merupakan bagian dari proses untuk melatih empati. Perasaan empati merupakan dasar dari metta atau cinta kasih. “Terima kasih mas Yasin. Sudah membaca tulisan ini. Bagian dari proses berliterasi secara kontinu. Silahkan yang lainnya boleh menanggapi bagi yang sudah membaca”, ungkap saya di Group.

Beberapa menit berikutnya, banyak peserta didik yang segera memberikan respon dari apa yang saya berikan. Saya bersyukur, meskipun dalam bentuk tulisan dan tidak adanya tatap muka, karena tulisan dan dialog secara tertulis ini dilandasi dengan energi yang positif, memberikan pengaruh yang besar terhadap peserta didik untuk memberikan respon balik.

“Saya merasa saya berada di level netral pak. saya percaya akan adanya energi” seperti itu, karena jika kita bertemu orang-orang dan kita memancar energi baik/positif maka bisa membuat orang orang di sekitar kita menjadi nyaman dengan kita, namun jika sebaliknya, jika kita memancarkan energi yang buruk maka akan membuat orang orang menjadi tidak nyaman berada di dekat kita. Maka dari itu saya terus berusaha untuk memancarkan energi positif di lingkungan saya”, ungkap Gisella. “Terima kasih mbak Gisella yang telah membaca tulisan ini. Bagian dari literasi secara kontinyu”, ungkap saya selanjutnya.

Beberapa menit kemudian, respon disampaikan oleh Iqbal. “Menurut pribadi saya masih di level menerima, karena saat di kelompok tertentu terkadang saya bisa membuat beberapa orang merasa nyaman. Hal itu dikarenakan saya sebisa mungkin memancarkan energi positif dengan wajah yang bahagia saat berbicara dengan orang lain atau melakukan hal hal yang tidak jelas. Dan saya terkadang tidak memikirkan hal yang tidak diperlukan, seperti ” orang ini karakternya bagaimana “atau sebagainya. Di dalam Islam kita dianjurkan untuk berbaik sangka kepada siapapun. Dan dengan berbaik sangka, energi positif itu bisa terpancarkan. Dengan berbaik sangka kita bisa menjaga hati dan pikiran kita agar tetap positif”, ungkap Iqbal.

Wow, semakin ke sini nampak adanya kesadaran diri yang kuat untuk terus memancarkan vibrasi positif, bahkan Iqbal mampu mengaitkan antara teori ini dengan apa yang telah diketahui sebelumnya dari agama yang dianutnya yaitu berbaik sangka. Inilah kekuatan budaya dialektika sebagai kekuatan utama membangun pengaruh terhadap orang lain. Tidak dengan perintah, tidak dengan larangan, tidak dengan marah, tidak dengan menasehati. Cukup dengan membangun budaya dialektika, mengajak berpikir, mengajak merasakan dan memantik tindakan apa yang akan dilakukan.

Pada pukul 22.19 WIB, dan saya sudah terlelap tidur, respon di group whatsapp masih berdatangan. Kali ini dari Tiara. “Sebelumnya saya sudah tahu tentang vibrasi dan cara meningkatkannya. Vibrasi itu ada dua macam, vibrasi positif dan vibrasi negatif. Semakin tinggi vibrasi positif kamu, semakin juga orang tertarik dengan energimu. Orang lain akan merasa nyaman ketika di dekatmu, bahkan hewan. Sedangkan orang yang punya vibrasi negatif, orang lain yang di dekat dia akan merasa tidak nyaman dan tidak betah di samping orang tersebut. Orang yang punya vibrasi positif yang tinggi memiliki kesadaran tinggi tentang dirinya, perasaan dan pikirannya, mampu memilah pikiran dan perasaan serta memilih cinta kasih dibandingkan ego. Dan orang yang punya vibrasi positif yang tinggi gak harus cantik/ganteng, tapi yang membuat menarik itulah yang disebut inner beauty. Saya dulu di level vibrasi berpikir dan sekarang meningkat di level vibrasi cinta. Saya mampu memahami dan merasakan apa yang orang lain rasakan, ketika orang lain sedih saya merasa sedih, ketika orang lain merasa senang, saya juga ikut senang. Makanya kadang kalau teman saya ada masalah serius yang membuat dia sedih, kadang saya juga ikutan sedih, kepikiran dan tiba-tiba dirumah nangis sendiri. Dan ketika teman saya ketawa ketiwi, saya ikutan ketawa, padahal saya nggak tahu apa yang diceritain teman saya. Dan satu lagi, saya senang memuji dengan jujur tentang kelebihan orang lain agar orang lain akan merasa dirinya itu berharga”, ungkap Tiara panjang dan lebar. 

Semakin bahagia melihat kemampuan mengenali diri sendiri tentang level vibrasinya. Sederhana bukan? Cukup dengan membangun budaya dialektika dan tidak harus bertatap muka. Meskipun demikian, ketulusan dalam memberikan meskipun lewat tulisan, tetap kita pancarkan energi positif tersebut melalui tulisan. Saya punya keyakinan, meskipun tulisan yang saya kirim, akan memberikan dampak yang besar terhadap perubahan vibrasi peserta didik. Karena apa yang ditangkap oleh siswa, bukanlah tulisannya namun energinya melalui perantara tulisan. Selamat mencoba, semoga menginspirasi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *