Belajar Modeling 3D tentang Budaya Nusantara

Tema minggu ini untuk tantangan bebas bagi siswa kelas X adalah budaya nusantara. Meskipun temanya sama, namun produk yang dihasilkan berbeda-beda. Ada yang lebih fokus pada pembuatan modeling 3D dan ada pula yang membuat sketsa manual dan hasil digital dalam bentuk dua dimensi. Pemberian tantangan yang demikian merupakan penerapan pembelajaran diferensiasi produk. Mengapa hal ini dilakukan? Karena pendidikan pada dasarnya adalah menuntun segala potensi yang dimiliki siswa sehingga mencapai versi terbaiknya masing-masing. Di dalam kelas ada yang memiliki konsentrasi pada pembuatan modeling 3D menggunakan blender, ada pula yang konsentrasi menggunakan gambar ilustrasi secara manual menggunakan pensil dan media kertas ataupun secara digital menggunakan android maupun laptop. Proses pembelajaran yang tidak seragam ini diharapkan akan menghasilkan karya sesuai dengan passionnya dan karakteristik masing-masing peserta didik. Pembelajaran diharapkan akan menjadi sederhana namun lebih mendalam. Yang menekuni modeling 3D diharapkan akan menghasilkan karya yang lebih kompleks dan semakin bagus, demikian juga untuk yang menekuni gambar 2D, diharapkan akan menghasilkan karya yang lebih kompleks dengan mempertimbangkan proporsi dan warna yang sesuai dan menarik.

Karya Farel, Kelas X Animasi

Farel ketika membuat modeling 3D alat musik gong, ia menggunakan software blender yang dibimbing oleh para mentor seperti Sabiela, Muhammad Faiz dan Zaky. Dari proses ini selanjutnya mengirim karyanya ke Instagram dan menuliskan deskripsi tentang karya tersebut.

Karya Farel

“Saron atau yang biasanya disebut juga ricik, adalah salah satu instrumen gamelan yang termasuk keluarga balungan. Saron terbuat dari perunggu dan memainkannya dengan cara dipukul menggunakan palu”, ungkapĀ  Farel melalui tulisan yang ada di deskriptif akun instagramnya. Dari deskripsi ini siswa dipantik untuk berliterasi mengenal tentang alat-alat musik tradisional tersebut,

Karya Makabe

Makabe membuat modeling 3D berupa alat musik tradisional yang bernama kopang. “Kompang adalah salah satu jenis alat musik pukul atau perkusi yang termasuk kedalam perangkat gamelan yang berasal dari daerah Ponorogo di Jawa Timur, Indonesia. Alat musik ini berupa seperti gendang namun berbentuk pipih dan bundar, dibuat dari tabung kayu pendek, ujungnya agak lebar, dan pada satu sisinya dilapisi atau diberi tutup yang berbahan kulit”, ungkap Makabe.

Karya Rafa-el Bintang

“Setelah membuat alat musik tifa tadi kali ini saya di tantang lagi oleh pak Diyarko untuk membuat alat musik tradisional lainnya kemudian saya memilih bonang sebagai contohnya. Bonang barung adalah salah satu bagian dari perangkat Gamelan Jawa. Bonang terbagi menjadi dua yaitu bonang barung dan bonang penerus. Bonang berbentuk seperti gong kecil, terbuat dari perunggu, dan biasanya memiliki dinding yang tinggi dengan pencu untuk ditabuh”, ungkap Rafa-el melalui tulisan di instagramnya.

Karya Aditya

Aditya membuat modeling 3D berupa Kendang Jimbe. “Kendang jimbe merupakan alat pukul musik yang biasa digunakan untuk alat musik khas komunitas tertentu (rege), acara keagamaan, pendukung alat musik modern, sampai sebagai pajangan dalam suatu ruangan. Ciri khas yang paling menonjol dari kendang ini adalah bentuknya yang berbeda dengan alat musik pukul yang lain. Cara menggunakannya ialah dengan cara dipukul”, ungkap Aditya.

Karya Putra Aldo

Putra Aldo membuat modeling 3D berupa gong. “Fungsi alat musik gong adalah dimainkan sebagai bagian dari upacara keluarga, masyarakat, kerajaan, dan keagamaan. Selain dikenal sebagai alat musik, gong dianggap sebagai harta, mas kawin, pusaka, lambang status pemilik, perangkat upacara, dan lainnya. Gong merupakan sebuah alat musik pukul yang terkenal di Asia Tenggara dan Asia Timur. Gong ini digunakan untuk alat musik tradisional. Saat ini tidak banyak lagi perajin gong seperti ini. Gong yang telah ditempa belum dapat ditentukan nadanya. Nada gong baru terbentuk setelah dibilas dan dibersihkan”, ungkap Putra Aldo.

Karya Faizan, Kelas X Animasi

Faizan membuat modeling 3D berupa alat musik rebab. “Helooo manteman, pada kesempatan kali ini saya membuat karya 3D dari alat musik traidisional yaitu rebab, rebab adalah alat musik traidisional khas Jawa Barat (biarpun begitu sebenarnya rebab berasal dari daerah timur tengah). Cara bermain alat musik rebab yaitu dengan cara menggesek alat penggesek dengan senar”, ungkap Faizan.

Karya Yasin

“Hari ini saya membuat 3D model Alat Musik tradisional Indonesia yaitu Gamelan. saya membuat dua Alat Musik yaitu Saron Dan gong, Saron atau biasa dikenal juga dengan ricik adalah salah satu instrumen gamelan yang masuk dalam golongan balungan atau alat musik jenis bilahan (wilahan) dari logam dan Saron atau biasa dikenal juga dengan ricik adalah salah satu instrumen gamelan yang masuk dalam golongan balungan atau alat musik jenis bilahan (wilahan) dari logam dan gong juga memiliki bentuk cembung di bagian atas dengan ukuran yang lebih besar dan posisinya digantung, tidak diletakan pada lapisan tertentu. mereka punya kesamaan yaitu dimainkan dengan cara di pukul”, ungkap Yasin.

Dengan adanya deskripsi ini memberikan pantikan agar siswa tidak hanya mampu membuat modeling 3D saja, namun mampu mempresentasikannya dan salah satunya dengan menuliskan deskripsi dari modeling yang dibuat. Untuk membuat desskripsi tersebut diperlukan kebiasaan untuk berliterasi. Dari tantangan inilah, siswa diberi kesempatan mencari referensi, berliterasi dan akhirnya berkreasi membuat modeling 3D. Selain terasah kemampuan membuat modeling 3D, siswa juga semakin terasah rasanya untuk semakin bangga terhadap budaya nusantara. “Yang saya rasakan ketika memuat modeling 3d tentang alat musik tradisional adalah sangat senang karena dapat membuat alat tradisional Indonesia yang beragam dan skill dalam membuat modeling 3D alat tradisional menjadi berkembang pak”, ungkap Putra Aldo. Ia merasa sangat bangga dengan keanekaragaman budaya Indonesi, terutama alat-alat musik tradisionalnya, yangg memiliki berbagai macam variasi dan keaneka ragaman.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *