Diferensiasi Produk dalam Tantangan Gambar Bentuk

Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagaiĀ  manusia maupun anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Kita sebagai guru tentu perlu menyadari bahwa setiap murid adalah unik dan memiliki kodratnya masing-masing. Tugas kita sebagai guru adalah menyediakan lingkungan belajar yang memungkinkan setiap anak untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal sesuai dengan kodratnya masing-masing, serta memastikan bahwa dalam prosesnya, anak-anak tersebut merasa selamat dan bahagia. Tidak mudah untuk merealisasikan peran dan tugas kita sebagai guru dalam menuntun segala kekuatan kodrat dari murid-murid yang berbeda satu sama lainnya, namun bukan berarti sulit untuk dilakukan. Selama kita memiliki tekad yang kuat untuk merealisasikannya, maka pasti ada jalannya.

Seperti halnya yang ada di jurusan Animasi SMK Negeri 11 Semarang, tidak semua murid yang masuk di jurusan tersebut memiliki kemampuan menggambar yang baik. Ketika masuk di jurusan ini, banyak pula murid yang salah jurusan. Awalnya memilih jurusan tertentu, dan animasi menjadi pilihan kedua. Ketika tidak diterima di jurusan yang menjadi pilihan pertamanya, mereka diterima di jurusan Animasi. Akhirnya kita berbenturan dengan minat dan motivasi di awal yang lemah dan ditambah pula dengan kemampuan menggambar yang belum sesuai harapan. Inilah peran guru sebenarnya bagaimana menuntun potensi yang ada dengan segala kesabarannya.

Di dalam pelajaran dasar-dasar animasi, menggambar bentuk merupakan salah satu materi yang perlu dilatihkan untuk murid. Menggambar bentuk merupakan suatu kegiatan memindahkan objek model yang dilihat langsung, ke atas bidang gambar dengan lebih mengutamakan kemiripan terhadap model tersebut. Menggambar bentuk juga identik dengan fotografi, yaitu memindahkan objek yang ada di depan mata ke bidang gambar. Kegiatan fotografi menggunakan alat tustel yang menangkap bentuk objek melalui lensa di dalamnya, lalu dipantulkan ke film untuk merekam bentuk tersebut. Jika rekaman itu diprint maka akan tercetak objek tadi pada kertas foto. Pada kegiatan menggambar bentuk, pekerjaan tustel pada fotografi itu digantikan oleh manusia. Si Penggambar secara langsung mengamati model yang ada di depannya, lalu mencerna dalam otak, terus memerintahkan tangan untuk mencoretkan pada kertas gambar. Hasil gambar yang diharapkan adalah sangat mirip dengan model tersebut. Ketika murid memiliki kemampuan yang baik dalam menggambar bentuk, maka pada tahap selanjutnya akan terbiasa mencitrakan apa yang dilihat ke dalam bentuk gambar yang relatif mirip. Kemampuan ini akhirnya akan bermanfaat ketika membuat storyboad dan gambar-gambar lain dalam pembuatan film animasi. Kemampuan menggambar bentuk juga menjadi unsur penting sebelum mereka merealisasikan ke bentuk 3D dalam proses pembuatan modeling 3D dengan aplikasi blender dan sofware 3D lainnya.

Kembali pada keunikan masing-masing, masih banyak murid yang belum bisa membuat gambar secara manual. Oleh karena itu dibutuhkan pola pembelajaran yang lebih mengedepankan pada kebutuhan murid, seperti kesiapan, potensi yang dimiliki, kepemilikan peralatan yang mendukung. Dari kondisi tersebut akhirnya pembelajaran yang dilakukan saya lakukan dengan dua tahap yaitu membuat gambar bentuk secara manual dengan teknik arsiran dan dilakukan secara digital. Pada pertemuan yang pertama murid-murid diminta membawa botol berisi air atau membawa gelas yang berisi air. Benda-benda tersebut selanjutnya diletakkan di meja dan murid menggambar semirip mungkin dan hasilnya diunggah di Instagram. Berikut contoh hasil beberapa murid dalam membuat gambar bentuk secara manual dengan media kertas, menggunakan pensil dengan teknik arsiran.

Botol Karya Azka (Manual)
Botol Karya Tiffani Ayu (Manual)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Yang saya rasakan adalah kesulitan untuk meniru botol yang sangat realistis tersebut dan meniru tiap tiap detailingnya juga”, ungkap Tiffani setelah berhasil membuat gambar bentuk berupa botol yang berisi air. Kelana merasa senang dengan hasil gambarnya, terutama dalam proses membuat gambar botol secara digital.

Botol karya Kelana

Pada pertemuan berikutnya, murid dengan peralatan yang dimiliki ditantang untuk membuat gambar bentuk secara digital. Dari data menunjukkan bahwa semua murid memiliki android yang bisa diintal software untuk menggambar seperti ibis paint dan sebagian kecil sudah memiliki laptop. Mereka diberikan kebebasan untuk membuat gambar bentuk sesuai dengan kepemilikan peralatan pendukungnya. Berikut contoh beberapa hasil gambar bentuk secara digital.

Botol, Karya Kelana (digital)
Gelas, Karya Nazrullah (Digital)

Pola pembelajaran yang sederhana ini memfasilitas murid untuk berlatih membuat gambar sesuai dengan kondisi masing-masing murid. Di awal murid berlatih secara manual, sedangkan pada tahap berikutnya mereka belajar secara digital dengan peralatan yang dimiliki. Saya tidak memaksakan harus menggunakan media yang sama, yang terpenting adalah hasilnya. Dari kontennya, mereka juga dibebaskan untuk membuat gambar bentuk berupa botol, gelas ataupun benda-benda lain, yang terpenting temanya adalah benda transparan berisi air.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *