Tantangan Bermakna bagi Pengurus OSIS

Pengurus OSIS SMK Negeri 11 Semarang merupakan bagian dari agen perubahan. Mereka merupakan siswa-siswa yang terpilih untuk menjadi motor penggerak bagi siswa lainnya. Mereka juga sebagai rule model bagi yang lainnya. Agar mereka menjadi agen perubahan yang tangguh maka perlu dilakukan tantangan-tantangan yang bermakna, sehingga dari tantangan tersebut mereka dapat mengambil pengalaman tersebut sebagai pelajaran yang bermakna. Bukan dari teori berlanjut ke praktik, tapi justru cara-caranya harus dibalik dari praktik muncullah teori. Ada beberapa tantangan yang sudah dilakukan oleh calon ketua dan wakil OSIS yang melakukan tantangan ini dan dipandang oleh mereka sebagai tantangan yang bermakna, seru dan menyenangkan. Tantangan itu di antaranya adalah meskipun sehari mereka harus menjadi karyawan dan mengambil hikmah dari tantangan tersebut. Tantangan berikutnya adalah dengan modal Rp 10.000,00 mereka harus mampu berwirausaha dan mendapatkan keuntungan.

Saya mencoba melaporkan apa yang dilakukan calon ketua dan wakil ketua OSIS kepada kepala sekolah. Pak Drs. Luluk Wibowo, S.ST,M.T sangat mengapresiasi cara-cara melatih mental calon pemimpin organisasi ini. Beliau justru memberikan masukan agar tantangan ini juga diberikan kepada pengurus OSIS. Dari arahan inilah, segera saya komunikasikan kepada pengurus OSIS yang lam untuk memberikan tantangan tersebut kepada pengurus yang baru. Ini adalah bentuk Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) yang langsung pada penerapan bukan teori seperti pada umumnya. Dari praktik inilah mereka akan menemukan sesuatu yang bermakna sehingga dari dalam dirinya akan muncul jiwa wirausaha dan jiwa melayani secara prima karena mereka benar-benar mengalami sendiri proses menjadi karyawan dan berwirausaha. Tantangan ini sekaligus melatih mental berkomunikasi dengan pihak lain.

Vina Azzahra siswa kelas X Animasi yang menjadi pengurus OSIS angkatan 33 yang terpilih di tahun ini, adalah siswa yang pertama kali melaporkan kegiatannya pada hari ini dalam rangka menyelesaikan tantangan dari saya. “Pagi itu saya melamar pekerjaan di perusahaan roti dan kue tart, “Bon Osuki” namanya. Bersama mbak Dian, beliau adalah pemilik toko itu yang memberikan saya desk job, kebetulan stok bento, butter cream dan lain” habis, sehingga saya diperintahkan untuk membuat roti bento dan butter scream sekaligus menghias roti sambil diajarin mba Dian. Setelah itu pada pukul 12.00 saya istirahat sebentar, menyelesaikan sholat lalu saya bercanda cerita dengan mba Dian dan 1 karyawan lainnya. Setelah itu kami makan rujak buah bersama”, sambil membungkus pisau, kardus, lilin, dan kartu ucapan untuk kue” customer untuk restock. Sambil menunggu customer atau gojek datang mengambil kue, kami mendengarkan musik dan bercanda cerita lagi, karena tidak tahu ingin berbuat apa. Sangat seru  saat itu, tak lama kemudian pak gojek pun datang, saya langsung memberikan pesanan kue kepada bapak gojek itu untuk dikirim ke alamat customer. Singkat cerita waktu sudah menunjukkan pada pukul 15.00, saya pun membereskan alat yang digunakan lalu berpamitan untuk pulang”, ungkap Vina dalam memberikan laporan ke saya.

Tantangan berikutnya yakni berwirausaha. “Saya diberikan challenge dari bapak waka kesiswaan yaitu bapak Diyarko M.Pd. Berpikir untuk menjual apa, saya sangat bingung karena hanya boleh bermodal Rp10.000 saja, itu modal yang sangatlah kecil dan harus bisa balik modal. Saya berpikir untuk membuat pudding oreo dengan bahan yang ada di rumah, ternyata ada bahan yang belum ada dan sayapun membelinya, ternyata modal saya untuk membeli bahan pudding tidak cukup dengan Rp10.000 lalu saya memutar otak lagi dengan bantuan tik tok. Ya, saya mencari ide di aplikasi tik tok kemudian saya menemukan satu ide yaitu berjualan kulpi (kulit lumpia) dan pangsit kemudian saya membeli bahan” dengan bermodal pass Rp10.000 lalu saya menjual dengan harga Rp1.500 per pcs. Saya membuat kulpi pangsit tersebut sekitar 15 pcs dan laku terjual habis, pudding yang saya kira tidak akan laku dengan harga Rp1,500 ternyata juga laku terjual ketika saya menawarkan kepada orang-orang, hanya sisa 3pcs pudding, akhirnya saya memberikan sisa itu kepada ibu-ibu yang sedang berjalan”, lapor Vina.

Tantangan ini bukan sekedar sebuah tantangan untuk menguji pengurus OSIS, namun lebih dari itu agar mereka belajar wirausaha dan memiliki mental kuat karena untuk menjadi karyawan meskipun sehari diperlukan kemampuan berkomunikasi, melayani dengan baik. Tantangan ini ternyata menjadi tantangan yang menyenangkan. “Perasaan saya sangat senang sekaligus merasa tertantang karena sebelumnya saya tidak bisa atau tidak jago dalam hal berwirausaha, sebelumnya saya berpikir “kira-kira jualan saya bisa laku atau tidak ya?” tetapi saya berusaha memposting, menawarkan kepada orang-orang hingga akhirnya semua yang saya jual menjadi laris. Dan ketika menjadi karyawan saya sangat deg-degan, bahagia dan sedikit takut dengan hasil hiasan kue yang saya buat karena sebelumnya saya belum pernah menghias kue, apalagi ini untuk customer. Tetapi bos saya tetap mensupport, mendampingi saya dan mengajari saya sampai memperoleh hasil yang memuaskan”, ungkap Vina.

Melaudiy Azzahra siswa kelas X DKV pada hari ini sudah menuntaskan dua tantangan tersebut.

“Tantangan bewirausaha ini saya membuat usaha dengan modal 10 ribu saja. Saya membuat usaha yaitu usaha makanan agar agar nutrijell yang terdiri dari beberapa rasa, contoh rasa nya adalah rasa stoberi, rasa melon dan rasa jeruk. Kemudian saya menjualkan agar agar tersebut kepada orang orang seharga 1 cup Rp. 1.500 dan saya pun mendapatkan keuntungan”, ungkap Azzahra.

“Untuk tantangan kedua, saya mencoba melamar menjadi karyawan di tempat yang saya lamar. Saya melamar menjadi karyawan penjual minum di salah satu penjual minum di dekat rumah saya. Disini saya membuat minuman es buah, es teler, dan es kelapa muda. Lalu saya menjualkan es tersebut kepada orang orang”, ungkap Azzahra secara singkat. Bagi Azahra tantangan ini memberikan hikmah tersendiri, karena dari  tantangan ini ia bisa mendapat banyak manfaat dalam ber wirausaha. Contohnya bisa belajar menjadi karyawan yang berpribadi jujur, disiplin dan tekun. Selain itu, ia merasa bisa memberi kesempatan untuk melakukan perubahan. Contohnya apabila peluang untuk melakukan perubahan dilakukan, maka proses belajar dan kepribadian yang dinamis dapat diasah dengan baik.

Kiara sebagai anggota pengurus OSIS dari kelas X PPLG merupakan siswa yang melaporkan tantangannya pada hari ini di urutan nomor tiga. “Pertama saya melamar di warung milik keluarga saya. Saya meminta izin untuk bekerja selama sehari di warung tersebut dan mendapatkan bagian untuk menggoreng dagangan. Perlu adaptasi saat berkomunikasi dengan pembeli. Warung dibuka dari jam 16.00-22.00 WIB. Bekerja selama sehari cukup menguras tenaga tetapi saya senang karena bisa mendapatkan pengalaman baru dari kegiatan tersebut. Saya bisa belajar cara berkomunikasi dengan para pembeli dengan baik”, ungkap Kiara. Untuk tantangan berikutnya Kiara mencoba  membuat usaha jualan pisang coklat dengan budget Rp 10.000,00 dan ia menjual dengan harga jual Rp 3.000,00. Hasil penjualannya Rp 12.000,00. Rincian bahan-bahan yang ia gunakan antara lain pisang, sudah ada dirumah (free), kulit lumpia Rp 10.000,00, coklat meses sudah ada dirumah (free), terigu sudah ada dirumah (free).

“Dari challenge wirausaha ini saya mendapatkan pengalaman tentang cara berwirausaha dengan budget terbatas, cara berkomunikasi yang baik kepada pembeli, melakukan promosi agar jualan cepat habis, bersikap ramah dan sopan kepada pembeli. Dengan adanya challenge ini kita sebagai anak generasi muda dapat belajar banyak hal tentang cara berwirausaha”, ungkap Kiara. 

Bela dalam melaksanakan tantangan ini menjadi karyawan untuk menjaga stand makanan dan minuman, membantu menjualkan produk makanan dan minuman ke pembeli.

Untuk tantangan berikutnya, Bela berwirausaha dengan modal Rp 10.000, ia membuat es blewah, es ini berisi blewah, agar agar, gula, air, dan es batu.  Ia mendapat penghasilan hingga Rp 15.000,00.

“Saya merasakan bagaimana rasanya bekerja mulai dari nol dan juga saya merasakan bahwa berwirausaha itu bisa dilakukan hanya dengan modal uang 10.000 saja pak”, ungkap Bela saat diminta menyampaikan perasaannya mengikuti tantangan ini.

Afrilia melaporkan bahwa dirinya ketika melaksanakan tantangan berwirausaha membuat usaha berjualan “Pudding Jelly” dengan modal kurang lebih 16.000, untuk membeli nutrijell Jelly Powder warna ungu (Rp 2.000), gula 200 gram (Rp4.000), santan 65 ml (Rp 3.000), susu kental manis 1 sachet (Rp 1.500) dan kemasan cup plastik ukuran 300 ml (Rp 5.000). Dari bahan yang tertera, saya berhasil membuat pudding jelly sebanyak 15 pcs dan terjual sebanyak 12 pcs dengan harga jual Rp 2.000,-. Sehingga total penjualan adalah sebesar Rp 24.000,- dengan keuntungan yang dihasilkan sebesar Rp 8.000,-. Setelah melakukan challenge ini, ia mendapatkan pengalaman baru dalam berwirausaha. Selain itu, ia juga menjadi tahu bagaimana cara melakukan promosi agar produk jualan dapat laris.

Untuk melaksanakan challenge menjadi karyawan ini, saya melamar di tempat pengisian ulang galon milik pondok pesantren tempat saya mengaji. Tempat tersebut buka selama 24 jam. Saya meminta izin kepada guru mengaji saya untuk bisa ikut bekerja dan membantu selama satu hari saja. Setelah diperbolehkan, saya melaksanakan tugas di bagian mencuci dan mengisi galon. Tidak butuh waktu lama untuk saya belajar dalam menggunakan alat pengisi galon tersebut. Setelah melaksanakan challenge ini, saya mendapat pengalaman baru yaitu bagaimana cara menggunakan alat pengisi galon yang baik dan benar. Juga berkomunikasi dengan pelanggan yang baru saja saya kenal dengan baik”, ungkap Afrilia. Yang ia rasakan dari tantangan ini menurut Afrilia adalah lelah dan sekaligus menyenangkan, karena dapat berkomunikasi dengan pelanggan dan merasakan sensasi baru dalam menggunakan alat yang tidak pernah ia gunakan. “Kendala pertama untuk saya adalah melawan rasa takut dan grogi dalam diri saya untuk meminta izin karena sudah memikirkan hal-hal negatif yang akan datang selanjutnya seperti contoh tidak diperbolehkan untuk bekerja di tempat tersebut, namun kenyataannya saya diperbolehkan untuk bisa berkerja di tempat tersebut”, ungkap Afrilia.

Yanica, pada hari minggu 25 Maret 2023 melamar pekerjaan di bukit Undip dan bekerja menjadi pedagang makanan. Ia sangat senang membantu ibu penjual yang berjualan makanan. “Pastinya saya sangat senang bisa belajar banyak hal di challenge ini, mulai dari melamar pekerjaan dan berjualan, seperti bagaimana cara melayani pelanggan dengan baik dan sopan bukan hanya itu saja, saya juga belajar bagaimana caranya produk yang kita jual itu laris pastinya membutuhkan tenaga yang tidak sedikit”, ungkap Yanica.

Untuk tantangan berikutnya Yanica membuat es kuwud dan pangsit goreng di taman bumi rejo bersama teman-temannya sesama pengurus OSIS. “Walaupun bisnis yang saya jalankan belumlah begitu besar, saya belajar berani dan sedikit nekat. Seorang yang hendak berbisnis tidak akan pernah bisa menjalankan bisnisnya jika dalam dirinya tidak ada keberanian, terlalu banyak perhitungan, terlalu banyak berpikir konsep. Begitu pula di dalam OSIS dan masa depan kita pun harus berani bertindak, merancang sesuatu secara matang dan bersiap dengan resiko atau masalah yang akan terjadi. Dengan begitu kita akan mendapatkan pengalaman baru daripada diam saja maka rencana hanya akan sekedar menjadi rencana tanpa bisa terealisasikan”, ungkap Yanica dalam refleksinya usai melaksanakan dua tantangan tersebut.

Untuk melaksanakan tantangan menjadi karyawan, Zena melamar di tempat cattering rumahan milik saudara ibunya. Ia meminta izin saudara ibunya untuk bisa bekerja dan membantu selama satu hari. Setelah diperbolehkan ia membantu di bagian memotong sayuran dan mencuci piring. Setelah melakukan challenge ini ia mendapat pengalaman baru yaitu bekerja di cattering rumahan walaupun pekerjaan yang ia lakukan merupakan pekerjaan yang sering ia lakukan di rumahnya. “Yang saya rasakan itu susah payahnya Pak, kebetulan juga ibu saya ada catering, sehingga saya bisa merasakan apa yang ibu saya selama ini bekerja kalau mencari uang itu tidak gambang. Saya ketika menjadi karyawan itu beneran mendapatkan gaji. Perasaan senang karena uang tersebut benar-benar dari hasil usahanya sendiri”, ungkap Zena.

Regina calon anggota osis angkatan 33 melaporkan bahwa ia telah melakukan challenge berwirausaha dengan bermodal uang 10.000. Ia berjualan pangsit gulung. Ia mengungkapkan bahwa cara membuat pangsit gulung sangat mudah, dan modalnya pun terjangkau, bahan-bahannya hanyalah pangsit dan bumbu. “Yang saya rasakan ketika melakukan challenge ini adalah saya merasa lebih tertantang dan saya juga merasakan ternyata begini rasanya ketika kita berwirausaha atau pun berjualan”, ungkap Regina. “Hikmah ataupun manfaat bagi masa depan saya ataupun OSIS adalah dengan berjualan saya dapat mengembangkan potensi yang ada di dalam diri saya, dan untuk OSIS sendiri manfaat dari berwirausaha ini adalah dapat mengumpulkan sedikit-sedikit dana untuk event event ke depannya”, ungkap Regina. 

Kegiatan Tanaya untuk challenge pertama yaitu mencoba melamar kerja sehari. Tanaya membantu membersihkan dan merapikan meja di salah satu restoran “all you can eat”. “Saya benar benar mendapatkan pengalaman baru dalam melakukan pekerjaan ini, walaupun pekerjaan ini kelihatannya mudah tetapi pekerjaan ini juga cukup melelahkan. Walaupun melelahkan saya tetap senang karena saya mendapatkan pengalaman yang baru dan menyenangkan”, ungkap Tanaya.

Challenge berikutnya yang dilakukan Tanaya adalah memilih menjual pudding/jelly yang  dijual seharga Rp 2.000, dengan modal per cup pudding yaitu 1.000, disini ia mendapat keuntungan 1.000 rupiah per cup nya. “Disini saya mendapatkan pengalaman kembali bagaimana cara berwirausaha dan juga mendapatkan ilmu dengan menghitung modal dan juga keuntungan dari penjualan”, ungkap Tanaya. Hikmah yang bisa diambil Tanaya dari kegiatan ini adalah jangan menggampangkan pekerjaan yang terlihat mudah, kita harus melakukannya dengan sungguh sungguh dan juga kerja keras.

Dari uraian tersebut nampak bahwa tantangan ini merupakan latihan mental untuk meningkatkan komunikasi, meningkatkan kepercayaan diri. Tantangan yang menyenangkan ini akan lebih bermakna lagi ketika menjadi hidden curriculum. Ketika tantangan ini diberikan kepada seluruh siswa, bukan hanya pengurus OSIS, saya punya keyakinan siswa-siswa SMK Negeri 11 Semarang akan memiliki mental yang bagus. Semoga menginspirasi.

 

 

2 thoughts on “Tantangan Bermakna bagi Pengurus OSIS”

  1. OSIS hebat , semoga bisa merangkul siswa siswi se SMK 11 Semarang dengan rukun antar jurusan. Seperti saat mendapat tantangan Pak Diarko dalam usaha maupun industri yang lain 👍💪💪💪🙏🙏😍

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *