“Six Circles” Media Latih Menulis Cerita

“Kisah Si Gembul”, merupakan salah satu cerita untuk film animasi karya Nafisa Aliya, siswa kelas X Animasi SMK Negeri 11 Semarang. Cerita ini ditulis dengan bantuan media Six Circle yang dapat membantu siswa berimajinasi dalam membuat cerita. Simak dulu hasil cerita Nafisa berikut ini.

Matahari bersinar terang. Awan lembut menyapa dengan senyuman, serasa sempurna pagi ini diiringi dengan kicauan burung yang merdu. Terlihat Gembul (kucing persia) sedang berpangku tangan melihat Mumu (kucing kampung) yang berlarian di teras rumah. “Hai Mumu enak sekali kamu bisa berlari-larian, kesana kemari sesuka hatimu. Sedangkan aku hanya bisa duduk melamun  di dalam kandang”, ucap Gembul sambil mendekatkan kepalanya ke jeruji kandang tempat tinggalnya. “Enak kaulah, Mbul, tinggal makan dan tidur doang. Aku saja ingin sepertimu”, jawab Mumu sambil mendekati kandang Gembul. “Aku ingin bisa bermain sesuka hatiku, hidup bebas sepertimu”, saut Gembul.

Mumu pun semakin mendekatkan ke dinding kandang Gembul dan berbisik, “Bagaimana jika kita bertukar tempat saja?”. Mumu menawarkan ide cemerlangnya ke Gembul. “Ide yang bagus, sekarang bantu aku keluar dari kandang ini?”, pinta Gembul sambil menyodorkan tangannya ke Mumu sebagai tanda persetujuan. Mumupun menerima jabat tangan Gembul dan mencoba membuka kancing kandang Gembul.

Singkat cerita, Mumu membantu Gembul keluar dari kandangnya dan menggantikan Gembul di dalam kandang. Setelah Gembul menutup kancing kandangnya, ia berlari. “Selamat menikmati”, kata Gembul kepada mumu yang sedang kaget. “Heii, Mbul, kenapa kenapa kau menutup kandang ini”, teriak Mumu. “Ha-ha-ha, katanya kau ingin sepertiku?, aku mau jalan-jalan menikmati pagi yang indah ini”, teriak Gembul sambil berlari.  “Baiklah Mbul, aku akan menikmati makanan yang enak ini dan tinggal di kandangmu”, jawab Mumu di dalam hati. Mumu pun akhirnya menikmati makanan sampai kenyang dan tidur mendengkur.

Di sekitar komplek siang hari itu, Gembul berlari-larian menikmati suasana kompleks. Dia terus berjalan berkeliling tanpa sadar perutnya bunyi krucuk-krucuk, pertanda bahwa dirinya lapar. “Aduh-aduh, kok lapar banget ya, mau makan di mana ya?”, gumam Gembul dalam hati. Ia menengok ke kanan, ke kiri, siapa tahu ada makanan yang bisa untuk mengganjal perutnya yang sudah tidak mau kompromi. Sambil mengendus-endus, akhirnya ia mencium bau makanan di ujung jalan. Sepertinya Gembul menemukan makanan. Saat  mau mengambil makanan itu, tiba-tiba dikagetkan suara asing. “Hai, siapa kamu? Berani-beraninya memasuki wilayah aku!”, bentak seorang kucing loreng. Sambil ketakutan, Gembul menjawab dengan suara gemetar. “Aku Gembul, aku lapar”. Kucing Loreng langsung menyerang menampakkan wajah garangnya. Tanpa ampun, Loreng mencakar dan menggigit Gembul. “Ampun-ampun”, teriak Gembul sambil menahan sakit tanpa melakukan perlawanan. Akhirnya Gembul berlari sekencangnya menjahui Loreng sambil menahan kesakitan.

Sore itu, hari yang syahdu, dengan hembusan angin yang sepoi-sepoi. Matahari mulai meninggalkan siang dan akan berganti malam. Burungpun terbang kembali ke sarangnya. Sambil  tertatih-tatih Gembul berjalan menahan sakit dan lapar, ia mencoba mendekati kandangnya. Ia merasa lelah sekali, karena lama sekali sampai ia menemukan teras rumah yang lama ia tempati. Ia berulang kali salah jalan, karena tidak tahu arah kemana ia harus pulang. Melihat Gembul berjalan mendekati kandang, Mumu langsung menyapa, “Kenapa kamu Mbul?”. Belum sempat Gembul menjawab, Mumu langsung memberikan pertanyaan lanjutan, “Kenapa lama sekali kamu Mbul?, aku sudah bosan tinggal di sini.  Walaupun banyak makanan, tapi badanku pegal-pegal”, tanya dan keluh Mumu kepada Gembul. “Aduh Mumu, aku sudah tidak sanggup lagi, kita bertukar tempat saja ya”, jawab Gembul sambil menahan sakit. Gembul membuka kandang dan Mumu pun keluar dari kandang. Gembul gantian masuk dan berkata, “Aku lebih bahagia di kandangku, susah hidup di luar”. “Aku juga lebih senang hidup di luar, kandang ini sangat membosankan”, jawab Mumu sambil berpamitan.

Cerita tersebut karya cerita pendek buatan Nafisa Aliya. Pembuatan cerita ini merupakan penilaian tengah semester gabungan mata pelajaran sketsa, dasar-dasar seni rupa, dasar-dasar kreativitas dan Bahasa Indonesia. Cerita ini merupakan cikal bakal dari sebuah script cerita dalam film animasi. Kemampuan berimajinasi dalam membuat cerita ini  tidak lepas dari sebuah kemerdekaan dalam membuat penilaian tengah semester yang lebih mengarah pembuatan project, bukan semata-mata untuk menguji kemampuan kognitif seperti pada umumnya. Adapun soal dalam penilaian tengah semester yang diberikan ke siswa sebagai berikut, “Buatlah gambar benda-benda pada 6 lingkaran-lingkaran. Rangkaikan gambar-gambar tersebut dengan anak panah menjadi sebuah urutan yang bisa membantu kalian membuat sebuah cerita. Buatlah sebuah cerita dari rangkaian gambar yang telah kalian buat. Unggah gambar-gambar tersebut ke Instagram dengan ketentuan: slide 1 berisi enam gambar tersebut dan slide berikutnya berisi ceritanya”.

Selama ini, kita sebagai guru sering dininabobokan oleh sebuah sistem yang turun temurun. Pemberian materi, ulangan harian, pemberian materi, ulangan harian, penilaian tengah semester, pemberian materi dan tes semester. Semua kegiatan tersebut bersifat rutin, mengisi materi dan memberi ujian. Lebih mengenaskan lagi, ketika memberi materi semata-mata agar siswa bisa menyelesaikan ujian. Kegiatan rutin yang bersifat monoton dan disinyalir menjadi penyebab borring learning.  Pembelajaran yang dilakukan bukan lagi menuntun kodrat anak didik, namun menjajah kemerdekaan yang seharusnya siswa mampu melejitkan potensinya untuk mencapai versi terbaiknya masing-masing.  Penilaian Tengah semester berupa project yang berkolaborasi antara lebih dari 2 mata pelajaran (mata pelajaran sketsa, dasar seni rupa, dasar kreativitas dan bahasa Indonesia) bukan lagi untuk menguji kemampuan kognitif semata, namun memberikan tantangan bagaimana siswa mengoptimalkan kemampuan berimajinasi dalam membuat sebuah cerita yang menarik sebagai bagian dari proses awal membuat sebuah cerita,  karena sebuah film animasi yang menarik tidak lepas dari imajinasi cerita yang menarik. Gambar-gambar yang dituangkan dalam enam buah lingkaran tersebut merupakan media untuk melatih siswa membuat cerita yang menarik sesuai imajinasinya.  Dengan cara menghubungkan keenam gambar-gambar pada lingkaran tersebut melatih mind maping sehingga mempermudah dalam membuat kalimat dan paragraf dalam menyusun sebuah cerita. Selamat mencoba.  Semoga menginspirasi

 

1 thought on ““Six Circles” Media Latih Menulis Cerita”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *