Kelas Inklusi Ciptakan Dialog di Ruang Ketiga

Kelas yang kita miliki hendaknya bersifat inklusi artinya kita sebagai guru hendaknya menerapkan pendekatan dalam pendidikan yang memastikan bahwa semua siswa mendapatkan pelayanan pendidikan yang sama. Pendekatan ini menekankan pentingnya integrasi sosial dan akademis bagi semua siswa, tanpa memandang perbedaan mereka dalam hal kemampuan, bakat, atau kebutuhan. Inklusi sendiri merujuk pada upaya untuk memastikan bahwa semua individu, terlepas dari latar belakang, keadaan, atau kondisi mereka, memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Ini mencakup memastikan bahwa individu-individu yang mungkin menghadapi hambatan atau diskriminasi mendapat akses yang sama terhadap layanan, peluang, dan sumber daya yang tersedia. Dalam kelas inklusi, guru diharapkan untuk menyediakan pendekatan pengajaran yang beragam dan memadukan strategi pembelajaran yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan beragam siswa di kelas mereka. Ini bisa melibatkan modifikasi kurikulum, penyediaan dukungan tambahan, dan penggunaan berbagai teknik pengajaran untuk memastikan bahwa setiap siswa mendapat kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang. Tujuan utama dari kelas inklusi adalah untuk menciptakan lingkungan yang mendukung, inklusif, dan adil bagi semua siswa, sehingga mereka dapat merasa diterima, dihargai, dan berhasil dalam proses pendidikan mereka.

Bagaimana menerapkan kelas yang bersifat inklusi yang paling sederhana? Saya membuat group whatsaap Animasi yang anggota utamanya adalah murid kelas X Animasi. Namun dalam perjalanannya, di group tersebut saya membuka anggota lainnya yang berasal dari lintas kelas seperti murid kelas XI dan XII, bahkan murid dari sekolah lain yaitu dari SMK Muhammadiyah 1 Semarang.

Kemarin sore, 19 Maret 2024, saya mendapatkan pesan whatsapp dari Gusti Rahmat Hidayat, sebagai alumni animasi yang menyatakan bahwa dirinya mendapatkan teman baru dari murid  SMP kelas IX yang memiliki bakat menggambar. Naomi, adalah nama murid yang dikenalkan melalui whatsapp. Selanjutnya ia sendiri memperkenalkan diri. Dari hasil obrolan melalui whatsapp, ternyata ia membutuhkan komunitas yang mampu mewadahi untuk berdiskusi, mengirim karya untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya. Saya menawarkan kepada Naomi untuk bisa bergabung di kelas X Animasi SMK N 11 Semarang, meskipun hanya melalui group whatsapp. Tawaran tersebut ia sambut dengan perasaan senang, dan dari situlah Naomi menjadi anggota group kelas X Animasi.

Di dalam group tersebut, Naomi akhirnya dapat melihat secara langsung karya-karya kakak-kakak kelasnya yang duduk di kelas X Animasi. Saya dorong Naomi untuk mengirim karya bebasnya. “Coba mbak Naomi buat sketsa karakter tokoh Majapahit, karena Pak Di sedang mencari talent yang akan buat animasi dari relief Candi”, ungkap saya kepada Naomi.¬† “Sebelum membuat sketsa, tentu mbak Naomi akan baca referensi tentang Majapahit dan tokoh tokohnya, bagaimana pakaian di masa itu, bagaimana budayanya dan sebagainya. Sengaja pak Di memantik mbak Naomi untuk menjadi kepala bukan menjadi ekor. Selama ini anak anak Indonesia banyak yg mengekor gaya-gaya Jepang dan sebagainya. Padahal kita punya budaya sendiri. Buktinya kejayaan majapahit, Sriwijaya diakui dunia”, ungkap saya lebih mendalam.

Dari percakapan tersebut akhirnya dalam waktu yang tidak lama, Naomi mengirimkan gambar sketsa bahkan sampai diwarnai dari seorang tokoh pemersatu nusantara yaitu Gajah Mada. Setelah diunggah di IG, ia kirimkan ke group whatsapp Animasi.

Karya Naomi Murid Kelas IX
Karya Naomi, Murid kelas IX

Di Group tersebut, saya kenalkan dirinya kepada anggota lainnya yang ada di group tersebut. Ia diterima oleh semua anggota, terbukti banyak yang memberikan tanda jempol dan love pada gambar yang sudah dikirim. Sederhana apa yang dilakukan di group. Memberikan tanda jempol dan love itu bagian dari penghargaan dan penerimaan di group tersebut. Dialog yang tidak harus diungkapkan dengan kata-kata, namun di dalam hatinya sudah muncul ruang dialog yang memberikan kenyamanan bagi anggota yang ada di group tersebut. Mudita Citta terus kami terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Inilah cara kami membangun dialog yang sederhana di ruang ketiga dengan menciptakan kelas yang bersifat inklusi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *