Efektivitas Siklus Belajar 5E terhadap Kemampuan Menyelesaikan Soal HOTS IPA SMP Ibu Kartini

Oleh: Erna Suci Murniati

A. Pendahuluan

Rendahnya kemampuan menyelesaikan soal-soal Higher Order Thinking Skill (HOTS) di SMP Ibu Kartini menjadi permasalahan yang perlu ditingkatkan. Berdasarkan data raport pendidikan tahun 2022, menunjukkan bahwa rata-rata kompetensi menginterpretasi dan memahami isi teks sebesar 54,37, rata-rata kompetensi mengevaluasi dan merefleksikan isi teks 53,62. Menurut Nita Oktiva (https://akupintar.id/info-pintar/-/blogs/cara-membuat-soal-hots) menyatakan bahwa dalam soal HOTS meliputi tiga indikator yaitu menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mengkreasi(C6). Pada level menganalisis, siswa akan lebih ditekankan pada bagaimana berpikir kritis secara operasional. menganalisis terdiri dari kemampuan atau keterampilan membedakan (differentiating), mengorganisasikan(organizing), dan menghubungkan(attributing). Pada level mengevaluasi berarti membuat keputusan berdasarkan kriteria yang standar, seperti mengecek dan mengkritik. Pada mengkreasi menuntut kemampuan siswa untuk merancang, membangun, merencanakan, memproduksi, menemukan, memperbaharui, menyempurnakan, memperkuat, memperindah, menggubah.  Rendahnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal HOTS tersebut diprediksi karena belum terbiasanya siswa berliterasi. Hal ini menjadi tanggungjawab dari setiap guru untuk membudayakan berliterasi dan hal ini dapat dilakukan pada saat pembelajaran di setiap pelajarannya.  Untuk itu, dalam pembelajaran dibutuhkan model yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berliterasi. Salah satu model yang diprediksi efektif untuk meningkatkan aktivitas berliterasi adalah siklus belajar 5E. Siklus Belajar (Learning Cycle) merupakan suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Learning Cycle merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga siswa dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperanan aktif. Siklus belajar dengan 5E, atau dikenal dengan Learning Cycle 5E memiliki sintaksEngagement, Exploration, Explaination, Elaboration, dan Evaluation (Fatchul Fauzi, 2018). Inilah alasan mengapa model siklus belajar 5E dipilih sebagai model pembelajaran pada pelajaran IPA di SMP Ibu Kartini Semarang. Penerapan pembelajaran ini mengambil materi teknologi ramah lingkungan.

Capaian kompetensi dalam pembelajaran ini adalah diharapkan peserta didik mampu mengidentifikasi interaksi antar makhluk hidup dan lingkungannya, serta dapat merancang upaya-upaya mencegah dan mengatasi pencemaran dan perubahan iklim.  Adapun tujuan pembelajaran yang ingin dicapai adalah melalui kegiatan pengamatan, berliterasi dan berdiskusi siswa dapat: 1) mengidentifikasi jenis-jenis pencemaran lingkungan dengan benar; 2) menjelaskan teknologi ramah lingkungan dengan tepat; 3) merancang upaya-upaya pencegahan dan mengatasi pencemaran lingkungan dengan tanggungjawab; 4) mengambil keputusan secara tepat dalam mencegah dan mengatasi pencemaran lingkungan dengan tanggungjawab. Secara sikap, pembelajaran ini diharapkan siswa akan dapat melakukan kolaborasi/kerjasama antar anggota serta tertanam akhlak kepada alam sekitar dengan merawatnya.  Dari aspek keterampilan diharapkan siswa dapat: 1) mengamati data informasi terkait dengan pencemaran lingkungan; 2) memprediksi kondisi lingkungan di masa mendatang setelah melihat data-data terkait pencemaran lingkungan; 3) memproses, menganalisis data dan informasi yang diperoleh dari data informasi terkait dengan pencemaran lingkungan; 4) merencanakan program untuk pencegahan dan mengatasi pencemaran lingkungan; 5) mengevaluasi program yang dibuat untuk pencegahan dan mengatasi pencemaran lingkungan dan 6) mengomunikasikan hasil hasil program pencegahan dan mengatasi pencemaran lingkungan.

B. Proses Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran terbagi menjadi tiga kegiatan utama yaitu pendahuluan, kegiatan inti dan penutup. Memasuki kegiatan ini, siswa disiapkan secara fisik dan psikis terlebih dahulu. Dalam kegiatan ini usai mengucapkan salam, mempertanyakan kehadiran siswa serta membuat kesepakatan yaitu tidak makan dan minum saat pembelajaran berlangsung, menjadi pendengar yang baik di saat orang lain sedang berbicara serta tidak bermain game menggunakan androidnya. Dalam pembelajaran ini, android dimanfaatkan secara optimal untuk melihat video-video yang terhubung dengan dunia maya serta  mengirim respon melalui padlet. Selanjutnya siswa diajak untuk melakukan hening (mindfulness). Dalam kegiatan ini, siswa diajak untuk duduk secara tenang. Mengapa kegiatan ini perlu dilakukan? Kegiatan ini diharapkan agar siswa memiliki konsentrasi yang tinggi. Menyadari keberadaan dirinya sedang apa merupakan bagian penting dalam kehidupan. Kehidupan yang berarti adalah kehidupan saat ini, karena kehidupan kemarin sudah menjadi sejarah, sedangkan kehidupan besok adalah misteri. Siswa diajak untuk tenang dan memutar music relaxsasi. Peran musik ini sangat penting untuk mengantarkan pada ketenangan.

“Anak-anakku marilah kita melakukan kegiatan mindfulness, agar pikiran kita tenang dan mudah untuk fokus. Tarik napas dalam-dalam, tahan, hembuskan perlahan-lahan (3x). Rilekskan seluruh tubuh kalian. Ambil napas dalam-dalam, tarik energi positif dari alam, sebarkan ke seluruh tubuh, keluarkan energi negatif kalian (3x). Rasakan ketenangan pikiran kalian. Hening-hening-hening dan ikuti pikiran kalian pada masuk dan keluarnya napas kalian. Lupakan semua beban pikiran, fokus pada masuk dan keluarnya napas. Lupakan sejenak ingatan-ingatan kalian, lupakan sejenak dan fokus pada masuk dan keluarnya napas”. Di saat kondisi tenang, saya memimpin doa. “Ya Tuhan, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Pancarkanlah kasih sayangMu kepada kami, agar kami dapat memancarkan kasih sayangMu yang agung kepada kedua orang tua kami, kepada guru-guru kami, kepada saudara-saudara kami, kepada teman-teman kami bahkan kepada semua maklukMu yang ada di alam semesta ini. “Ya Tuhan, yang Maha Penerang. Pancarkanlah Cahaya terangMu, agar menyinari batin kami, agar kami dapat mengikuti pelajaran IPA di hari ini, sehingga kami dapat menyerap ilmu yang bermanfaat untuk bekal kehidupan kami. Sinarilah batin kami, agar kami dapat melaksanakan pembelajaran ini sebaik-baiknya, sebagai bukti bakti kami kepada orang tua, Masyarakat, bangsa dan negara”. Alunan musik relaxsasi masih terus mendayu. Murid-murid masih tenang sampai beberapa saat.  “Tarik napas dalam-dalam, tahan, hembuskan secara perlahan-lahan” (3x). Semoga semua makhluk berbahagia. Mindfullness selesai”. Proses mindfullness ini ternyata diikuti oleh siswa dan menambah ketenangan. Dalam pembelajaran sosial emosional, kegiatan mindfullness atau hening banyak disarankan dilakukan untuk mengawali kegiatan agar siswa lebih fokus dan menyadari dirinya sendiri.

Usai kegiatan hening, dilanjutkan dengan penyampaian tujuan pembelajaran yang disorotkan melalui proyektor serta diberikan gambaran pelaksanaan pembelajaran menggunakan 5 tahapan yaitu engagement, exploration, explaination, elaboration dan evaluation. Disampaikan juga manfaat mempelajari materi dan penilaian yang akan dilakukan dimana diharapkan siswa memiliki kesadaran diri untuk mencegah dan mengatasi pencemaran lingkungan. Kegiatan berikutnya adalah penyampaian apersepsi dan motivasi dengan memberikan gambar dan data tentang pencemaran yang terjadi dan memberikan pertanyaan pemantik: “Kalian adalah generasi penerus negeri ini, apa peran kalian untuk melindungi bumi ini dari pencemaran udara yang terjadi?”. Dari kegiatan apersepsi ini ternyata mampu memberikan gambaran tentang apa yang akan dipelajari pada pembelajaran ini. Dilanjutkan dengan memberikan soal (tes awal/pre-test) untuk mengetahui pengetahuan awal siswa.

Memasuki kegiatan inti siswa diberikan engagement. Dalam kegiatan engagement ini siswa mengamati kualitas udara yang terjadi pada saat ini di Kota Semarang melalui aplikasi yang terhubung dengan internet melalui link:  .  Dari link tersebut siswa dapat membaca informasi yang diperoleh tentang kualitas udara saat ini di kota Semarang serta mengamati prediksi kualitas udara beberapa hari berikutnya. Untuk memastikan bahwa siswa mengikuti kegiatan engagement dengan baik, maka diberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pemantik: 1) berapa indeks kualitas udara saat ini? 2) dalam kategori apakah kualitas udara saat ini? 3) apa polutan utama yang ada pada udara saat ini?; 4) coba analisis apa penyebab dari pencemaran udara yang terjadi di kota Semarang?; 5) Jika kendaraan bermotor yang ada di Kota Semarang semakin bertambah, bagaimana prediksi kondisi kualitas udara yang akan terjadi di masa mendatang? 6) Gambarkan kondisi Kota Semarang yang kalian inginkan? 7) kalian adalah generasi penerus masa depan negeri ini. Apa yang akan kalian lakukan untuk menciptakan kondisi Kota Semarang sesuai dengan impianmu?. Dalam kegiatan ini siswa antusias membaca kondisi kualitas udara yang terjadi. Dalam tahap ini siswa diajak untuk mengamati data berupa fakta yang ada berdasarkan data yang disajikan dari aplikasi tersebut. Siswa juga diajak untuk menganalisis faktor penyebab terjadinya polusi udara di kota Semarang. Siswa juga diajak untuk memprediksi pencemaran udara di masa mendatang ketika jumlah kendaraan bermotor semakin meningkat. Hal ini diharapkan akan muncul kesadaran diri siswa tentang kepekaan terhadap lingkungan. Melalui menjawab pertanyaan tentang harapan kualitas udara di Kota Semarang serta hal apa yang akan dilakukan untuk menciptakan kondisi kualitas udara di Kota Semarang.

Tahap berikutnya siswa masuk pada exploration. Siswa dibentuk kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari 4 siswa sehingga dalam satu kelas terdapat 8 kelompok. Kelompok 1 dan 5 mempelajari tentang Biofuel, Biogas dan Geotermal. Kelompok 2 dan 6 mempelajari tentang Hydropower, Ocean power dan wind power. Kelompok 3 dan 7 mempelajari Sel surya, fuel cell dan mobil surya. Kelompok 4 dan 8 mempelajari kendaraan hydrogen dan mobil listrik. Setiap kelompok melakukan proses literasi dengan membaca cepat, fokus dilanjutkan dengan diskusi untuk presentasi. Untuk memastikan bahwa siswa berliterasi dengan benar, maka siswa diminta untuk menuliskan: 1) pengetahuan yang diperoleh; 2) kesadaran diri apa yang kalian peroleh dari bacaan tersebut? 3) Temuan atau gagasan apa yang dpikirkan dari bacaan tersebut? 4) peluang usaha apa yang kalian pikirkan setelah membaca teks tersebut?

Memasuki kegiatan explaination, kelompok melakukan presentasi di depan kelas dari hasil diskusi kelompok. Kelompok 1 presentasi dan kelompok 5 wajib menanggapi. Kelompok 2 presentasi dan kelompok 6 wajib menanggapi. Kelompok 3 presentasi dan kelompok 7 wajib menanggapi. Kelompok 4 presentasi dan kelompok 8 wajib menanggapi.  Dalam kegiatan ini ada sedikit kendala, karena kelompok belum tentu langsung siap presentasi. Kegiatan ini memang paling sulit dilakukan, karena siswa belum terbiasa untuk presentasi dengan percaya diri. 

Memasuki kegiatan elaboration, secara kelompok siswa membuat rencana program untuk mengatasi pencemaran udara di Kota Semarang. Dalam kegiatan ini sudah tergolong lancar. Siswa dapat bekerjasama dengan baik melaksanakan tugas membuat rencana program mengatasi pencemaran yang dihubungkan dengan teknologi ramah lingkungan berdasarkan pengetahuan yang diperoleh di tahap engagement, exploration dan explaination.  Tahap terakhir dalam kegiatan ini ini, siswa secara individu mengerjakan soal-soal HOTS.

Memasuki kegiatan penutup, siswa diminta untuk mereview materi dengan memberikan kesimpulan dari kegiatan pembelajaran ini. Salah satu siswa menyampaikan refleksi tentang pengetahuan yang diperoleh, apa yang dirasakan dalam pembelajaran dan apa yang akan dilakukan selanjutnya setelah mengikuti pembelajaran ini. Dilanjutkan dengan penyampaian tindak lanjut bahwa pada pertemuan berikutnya akan membahas tentang pencemaran air dan tanah. Siswa diberikan tantangan untuk membawa sampel air yang tercemar di sekitar tempat tinggalnya.

C. Hasil Pembelajaran

1. Penilaian Pretes

Usai kegiatan pembelajaran dapat dianalisis hasilnya berdasarkan data-dara yang diperoleh. Hasil pretes untuk mengukur kemampuan awal, dari 29 peserta didik sebanyak 23 peserta didik (79%) mencapai nilai 100, sebanyak 1 peserta didik (4%) memperoleh nilai 75, sebanyak 5 peserta didik (17%) mendapat nilai 50.

2. Penilaian LKPD

Berdasarkan hasil penilaian LKPD memperlihatkan bahwa mayoritas peserta didik melakukan proses penyelesaian LKPD, artinya peserta didik mengikuti pembelajaran dengan baik yaitu mengikuti 4 tahapan siklus belajar 5E yakni engagement, exploration, explaination, elaboration, seperti tercantum pada tabel berikut.

No Tahapan Rata-rata Kriteria
1 Engagement 100 Telah mencapai tujuan pembelajaran
2 Exploration 90 Telah mencapai tujuan pembelajaran
3 Explaination 90 Telah mencapai tujuan pembelajaran
4 Elaboration 83 Belum mencapai tujuan pembelajaran

Dari empat tahapan siklus 5E, pada proses pencapaian engagement mencapai 100%, tahap exploration mencapai 90%, tahap explaination masih 90%, tahap elaboration mencapai 83%. Dari data tersebut menunjukkan bahwa semua peserta didik sudah mampu melakukan pengamatan terhadap kualitas pencemaran udara di Kota Semarang melalui aplikasi dan menjawab pertanyaan pemantiknya. Peserta didik sudah sudah mampu melakukan eksplorasi dengan berliterasi dari bacaan maupun video, mampu menyampaikan hasil literasi secara tertulis. Namun demikian pada tahap elaborasi belum tercapai dengan baik.

Dilihat dari aspek keterampilannya menunjukkan bahwa mayoritas peserta didik sudah mencapai tahap pengamatan, menganalisis, merencanakan dan memprediksi, seperti pada tabel berikut.

No Aspek Rata-rata Kriteria
1 Mengamati 100.0 Telah mencapai tujuan pembelajaran
2 Mengkomunikasikan 82.8 Belum mencapai tujuan pembelajaran
3 Menganalisis 87.6 Telah mencapai tujuan pembelajaran
4 Merencanakan 100.0 Telah mencapai tujuan pembelajaran
5 Memprediksi 100.0 Telah mencapai tujuan pembelajaran
6 Mengevaluasi 82.8 Belum mencapai tujuan pembelajaran

Rata-rata pencapaian proses pengamatan, merencanakan dan memprediksi mencapai 100, sedangkan kemampuan menganalisis mencapai 87,6 dalam kategori telah tercapai dengan baik. Namun demikian pada keterampilan komunikasi dan mengevaluasi mencapai 82,8 dalam kategori mendekati baik.

Secara keseluruhan sebanyak 69% peserta didik sudah mencapai tujuan pembelajaran, terbukti dari 20 peserta didik memperoleh persentase skor LKPD 85% ke atas, sebanyak 9 peserta didik (31%) yang masih di bawah 85% atau dalam kategori belum mencapai tujuan pembelajaran. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.

No Kriteria Jumlah %
1 Telah mencapai tujuan pembelajaran (> 85%) 20 69.0
2 Belum mencapai tujuan pembelajaran (< 85%) 9 31.0

Penilaian sikap dalam pembelajaran ini terdiri dari 3 instrumen yaitu penilaian sikap kolaborasi, penilaian antara teman dan penilaian sikap akhlak terhadap alam.

3. Penilaian Sikap Kolaborasi

Hasil penilaian sikap kolaborasi ini dapat dilihat dari 3 aspek keaktifan, kedisiplinan dan kemandirian dengan hasil seperti pada table berikut.

No Keterangan Keaktifan Kedisiplinan Kemandirian
1 Skor 1 0 0 0
2 Skor 2 0 0 0
3 Skor 3 4 (14%) 0 5
4 Skor 4 25 (86%) 29 24

Dari data menunjukkan bahwa pada aspek keaktifan, 25 peserta didik (86%) mendapatkan skor 4, artinya semua indikator tercapai yaitu aktif mengikuti kegiatan pembuatan perencanaan, penanggulangan dan mengatasi pencemaran lingkungan, aktif berkontribusi menyampaikan pendapat dalam pembuatan  perencanaan, penanggulangan dan mengatasi pencemaran lingkungan, aktif bertanya dalam kelompok. Dari data diperoleh gambaran bahwa semua peserta didik mendapat skor 4 pada aspek kedisiplinan artinya semua indicator tercapai yaitu hadir sebelum pembelajaran dimulai, mengikuti pembelajaran/pembimbingan sesuai waktu yang ditentukan dan mengumpulkan tugas atau tagihan tepat waktu. Dari data diperoleh gambaran sebanyak 24 peserta didik (83%) mendapatkan skor 4 pada aspek kemandirian yaitu tidak tergantung dengan peserta lain dalam meneyelesaikan tugas, kreatif dalam menyelesaikan tugas dan bertanggung jawab terhadap penyelesaian tugas dan materi. Secara keseluruhan rata-rata hasil persentase skor penilaian sikap kolaborasi mencapai 97 dan seluruhnya dalam kategori sangat berkembang karena semua persentase skornya dari setiap peserta didik di atas 81,25%.

4. Penilaian Teman Sejawat

Penilaian teman sejawat ini bertujuan untuk menilai aktivitas peserta didik berdasarkan hasil pengamatan dari temannya.  Berdasarkan data diperoleh gambaran bahwa mayoritas peserta didik sudah sangat berkembang aktivitasnya.

No Interval Kriteria f %
1 0-25 Mulai berkembang 0 0
2 26-50 Sedang berkembang 2 7
3 51-75 Berkembang sesuai harapan 3 10
4 76-100 Sangat berkembang 24 83
Jumlah 29 100

Dari data sebanyak 24 peserta didik (83%) dalam kategori sangat berkembang, sebanyak 3 peserta didik (10%) berkembang sesuai harapan dan 2 peserta didik (7%) sedang berkembang. Lebih jelasnya dapat dilihat dari persentasi hasil pengamatan teman sejawat berdasarkan item pernyataan seperti pada tabel berikut.

No Pernyataan Jumlah % Kriteria
1 Siswa mengamati data kualitas udara di Kota Semarang melalui aplikasi 27 93 Sangat berkembang
2 Siswa menjawab pertanyaan berdasarkan pengamatan data kualitas udara di kota Semarang 27 93 Sangat berkembang
3 Siswa  membaca dengan cermat bacaan yang ada di LKPD 26 90 Sangat berkembang
4 Siswa mengamati video melalui barcode atau link yang disediakan 24 83 Sangat berkembang
5 Siswa menjawab pengetahuan yang diperoleh dari teks bacaan 26 90 Sangat berkembang
6 Siswa  menjawab kesadaran diri yang diperoleh dari teks bacaan 29 100 Sangat berkembang
7 Siswa menulis gagasan atau ide dari teks bacaan 25 86 Sangat berkembang
8 Siswa  menulis peluang usaha dari hasil membaca 28 97 Sangat berkembang
9 Siswa  berani menyampaikan di depan kelas 21 72 Berkembang sesuai harapan
10 Siswa aktif bekerjasama dalam membuat rencana mencegah dan mengatasi pencemaran lingkungan 27 93 Sangat berkembang
11 Siswa aktif memberikan ide atau gagasan saat kerja kelompok 26 90 Sangat berkembang
12 Siswa mampu mendengarkan dengan baik ketika orang lain sedang menyampaikan pendapat 28 97 Sangat berkembang

Berdasarkan pengamatan oleh teman sejawat menunjukkan bahwa rata-rata peserta didik sudah sangat berkembang dalam melakukan aktivitas pengamatan, menjawab pertanyaan pemantik, membaca secara cermat teks bacaan yang disediakan, mengamati video, menjawab pertanyaan pemantik tentang pengetahuan, kesadaran diri, gagasan baru dan memikirkan peluang usaha. bekerjasama dalam membuat rencana mencegah dan mengatasi pencemaran lingkungan, aktif memberikan ide atau gagasan saat kerja kelompok dan mendengarkan dengan baik ketika orang lain sedang menyampaikan pendapat. Namun demikian dalam hal keberanian menyampaikan di depan kelas masih berkembang sesuai harapan.

5. Penilaian Akhlak terhadap Alam

Akhlak terhadap alam dinilai menggunakan angket yang hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas siswa (52%) berada dalam kategori sedang berkembang, sebanyak 31% berkembang sesuai harapan dan 17% dalam kategori sangat berkembang. Lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut.

No Interval Kriteria f %
1 0-25 Mulai berkembang 0 0
2 26-50 Sedang berkembang 15 52
3 51-75 Berkembang sesuai harapan 9 31
4 76-100 Sangat berkembang 5 17
Jumlah 29 100

Dilihat dari dari setiap item sikap akhlak terhadap alam, memperlihatkan bahwa hal-hal yang masih perlu ditingkatkan karena berada pada kategori mulai berkembang dan sedang berkembang antara lain berkaitan dengan kepekaan terhadap tanaman untuk melakukan pemupukan, penyiraman, kepekaan untuk tidak membunuh cacing, tidak memetik bunga, membersihkan jendela dan kaca yang berdebu, tidak membakar sampah, tidak corat-coret meja dan dinding, tidak merokok, tidak membunuh serangga, tidak mencabut tanaman, tidak membuang sampah di toilet dan membawa tumbler sendiri sebagai wadah air dari rumah untuk mengurangi sampah plastic.

6. Assesment Sumatif

Hasil assessment sumatif diperoleh rata-rata sebesar 92 dengan skor terendah 75 dan skor tertinggi 97,5. Lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut.

Skor Kriteria f %
0-40 Belum mencapai ketuntasan, perlu remidi seluruhnya 0 0
41-65 Belum mencapai ketuntasan, perlu remidi sebagian 0 0
66-85 Sudah mencapai ketuntasan, tidak perlu pengayaan 3 10
86-100 Sudah mencapai ketuntasan, perlu pengayaan 26 90
Jumlah 29 100

Dari hasil analisis, sebanyak 26 peserta didik (90%) telah mencapai nilai di atas 85 atau dalam kategori sudah mencapai ketuntasan dan perlu pengayaan dan sebanyak 3 peserta didik (10%) telah mencapai nilai dari 66 sampai dengan 85 atau dalam kategori sudah mencapai ketuntasan dan tidak perlu pengayaan.

Jika dilihat dari hasil analisis per butir soal, diperoleh gambaran bahwa persentase terendah pada soal nomor 4 yaitu mencapai 67,8% sedangkan persentase tertinggi pada soal nomor 3,6, dan 8 yaitu mencapai 100. Lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut.

No soal Tingkatan Skor maks Rata-rata % skor
1 C1 3 2.79 93.1
2 C3 3 2.83 94.3
3 C4 4 4.00 100.0
4 C2 3 2.03 67.8
5 C3 3 2.28 75.9
6 C4 4 4.00 100.0
7 C4 3 2.97 98.9
8 C4 6 6.00 100.0
9 C4 5 4.31 86.2
10 C4 6 5.59 93.1

Dilihat dari tingkatan atau taksonomi bloom, pada tingkatan C1 yaitu pengetahuan mencapai 93,1, untuk level pemahaman memperoleh rata-rata paling rendah yaitu 67,8, untuk level aplikasi mencapai 85,1. Level tertinggi yaitu pada level analisis mencapai 96,4. Lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut.

Tingkatan Keterangan Rata-rata
C1 Pengetahuan 93.1
C2 Pemahaman 67.8
C3 Aplikasi 85.1
C4 Analisis 96.4

7. Hasil Refleksi

Hasil refleksi Diperoleh gambaran bahwa mayoritas peserta didik merasa senang dan seru dengan pembelajaran. Sebagian besar peserta didik merasakan manfaatnya mengikuti pembelajaran karena mendapatkan ilmu baru tentang teknologi ramah lingkungan. Kesadaran diri yang diperoleh adalah ingin mempraktikkan teknologi ramah lingkungan.

8. Hasil Survei terhadap Murid

Hasil survey terhadap murid menunjukkan  mayoritas peserta didik memberikan respon positif terhadap pembelajaran yang dilakukan, yang berarti bahwa pembelajaran siklus belajar 5E tersebut dianggap menarik, menyenangkan, mudah dimengerti, memotivasi untuk belajar, mendorong siswa untuk mengamati, berliterasi, mendorong untuk mengemukkakan apa yang diketahui, membuat sadar tentang pentingnya merawat bumi, mendorong untuk memberikan gagasan baru dalam menjaga dan mengatasi pencemaran lingkungan bahkan menyampaikan gagasan tentang peluang usaha yang dapat dikembangkan. Pembelajaran dianggap mendorong siswa untuk lebih mandiri, bekerjasama dan berani menyampaikan pendapat. Lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut.

No Pernyataan Jumlah %
1 Pembelajaran yang dilaksanakan menarik 28 97
2 Pembelajaran menyenangkan 28 97
3 Pembelajaran mudah dimengerti 28 97
4 Siswa termotivasi untuk belajar 29 100
5 Pembelajaran mendorong siswa untuk mengamati data atau informasi 29 100
6 Pembelajaran mendorong siswa untuk berliterasi 29 100
7 Pembelajaran mendorong siswa untuk mengemukakan pengetahuan apa yang diperoleh secara tertulis 28 97
8 Pembelajaran membuat siswa sadar tentang pentingnya menjaga dan merawat bumi ini 29 100
9 Pembelajaran mendorong siswa untuk menyampaikan gagasan baru dalam usaha menjaga dan mengatasi pencemaran lingkungan 29 100
10 Pembelajaran mendorong siswa untuk menyampaikan gagasan tentang peluang usaha apa yang dapat dikembangkan 29 100
11 Pembelajaran mendorong siswa untuk bekerja sama dengan teman 29 100
12 Pembelajaran mendorong siswa dalam kemandirian 29 100
13 Pembelajaran mendorong siswa untuk berani menyampaikan pendapat 29 100
14 Lembar Kerja Peserta Didik yang digunakan menarik untuk dibaca 29 100
15 Lembar Kerja Peserta Didik yang digunakan dapat membantu untuk memahami materi yang dijelaskan 29 100
16 Barcode atau link yang ada di LKPD membuat penasaran untuk diklik atau discane 28 97
17 Video yang tercantum setelah link diklik atau barcode discane menambah pengetahuan atau wawasan siswa 29 100
18 Teks bacaan yang tercantum pada LKPD ataupun bahan ajar membantu siswa dalam belajar 29 100
19 Teks bacaan yang tertulis dalam LKPD mudah dipahami 29 100
20 Pertanyaan-pertanyaan dalam LKPD memberi tantangan belajar 29 100
21 Pembelajaran mendorong siswa untuk membuat rencana atau rancangan usaha mengatasi permasalahan pencemaran lingkungan 29 100
22 Test dilaksanakan secara transparan 26 90
23 Soal-soal test sesuai dengan materi yang dipelajari 29 100
24 Soal-soal test mudah dipahami maksudnya 29 100
25 Soal-soal dalam tes sesuai dengan kompetensi yang dituntut 29 100
Rata-rata 99

Mayoritas peserta didik juga tertarik dengan LKPD yang digunakan karena menarik untuk dibaca, terdapat barcode yang terhubung dengan video-video di internet sehingga membuat penasaran untuk membukanya. Teks bacaan juga mudah dipahami. Pembelajaran juga mendorong untuk membuat perencanaan mengatasi permasalahan pencemaran lingkungan. Dari aspek pengerjaan tes dianggap transpraran, soal sesuai dengan materi, mudah dipahami dan sesuai dengan kompetensi yang dituntut.

C. Kesimpulan

Hasil dari penilaian LKPD (keterampilan), penilaian sikap dan penilaian pengetahuan (assessment sumatif) dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang dilakukan sudah menggambarkan pencapaian pembelajaran yang telah ditetapkan.  Jika dilihat dari pencapaian keterampilan mayoritas peserta didik sudah mencapai tahapan mengamati, menganalisis, merencanakan dan memprediksi, meskipun dalam mengkomunikasikan dan mengevaluasi belum tercapai dengan baik.  Peserta didik mayoritas sudah mengikuti pembelajaran dengan baik melalui 5 tahap siklus belajar 5E namun pada tahap exploration belum tercapai sesuai tujuan.

Dilihat dari penilaian sikap kolaborasi menunjukkan bahwa semua peserta didik sudah menunjukkan sikap yang sangat berkembang artinya mampu membangun tim dan mengelola kerjasama untuk mencapai tujuan bersama sesuai target yang sudah ditentukan. Berdasarkan penilaian teman sejawat menujukkan bahwa mayoritas peserta didik sudah sangat berkembang. Hampir semua aktivitas pembelajaran dilakukan sangat baik, kecuali dalam hal keberanian untuk menyampaikan di depan kelas yang masih perlu ditingkatkan. Terkait dengan akhlak terhadap alam sebagian besar peserta didik masih berada pada sedang berkembang. Dari aspek pengetahuan, mayoritas sudah mencapai ketuntasan bahkan perlu pengayaan, sebagian kecil sudah mencapai ketuntasan dan tidak perlu pengayaan. Secara keseluruhan pembelajaran model siklus belajar 5E efektif terhadap kemampuan siswa menyelesaikan soal-soal HOTS pada mata pelajaran IPA materi teknologi ramah lingkungan di SMP Ibu Kartini Semarang.

 

Daftar Pustaka

Fatchul Fauzi. 2018. “Mandiri Melalui Siklus Belajar 5E”, diunggah di s2dikdas.fipp.uny.ac.id , 6 Juni 2018 melalui: https://s2dikdas.fipp.uny.ac.id/berita/mandiri-melalui-siklus-belajar-5e.html

Nita Oktifa.2022. “Cara Membuat Soal HOTS (Higher Order Thinking Skills)”, diunggah di akupintar.id melalui https://akupintar.id/info-pintar/-/blogs/cara-membuat-soal-hots

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *