Tumbuhkan Disiplin Melalui SEL

Salah satu budaya kerja di industri kreatif yang perlu diterapkan di dunia persekolahan adalah disiplin. Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya merupakan tanggung jawabnya. Penerapan disiplin yang sering dilakukan oleh sekolah pada umumnya membuat tata tertib yang dilengkapi dengan skor pelanggaran.  Tata tertib yang berisi skor-skor pelanggaran dipajang di ruang kelas dan di tempat-tempat yang mudah dilihat oleh siswa. Namun apakah tata tertib dengan sejumlah skor-skor pelanggaran membuat siswa lebih disiplin? Disiplin dalam jangka pendek skor-skor pelanggaran tersebut mungkin terlihat efektif, karena siswa takut melakukan pelanggaran tersebut. Namun jika diperhatikan lebih lanjut, tetap saja ada siswa yang melakukan pelanggaran terhadap tata tertib tersebut.  Dalam jangka panjang tata tertib tersebut kurang efektif, karena disiplin yang dilakukan siswa tidak berdasarkan pada kesadaran diri, karena disiplin yang dilakukan karena keterpaksaan. Akibatnya pada situasi yang lain di Industri, dunia usaha dan dunia kerja, disiplin itu tidak diterapkan dengan baik. Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Wikan Sakarinto mengaku menerima banyak pengaduan dari kalangan industri, dunia usaha, dan dunia kerja (IDUKA) yaitu seputar kemampuan soft skill para lulusan pendidikan vokasi. Anak-anak lulusan SMK dinilai belum siap kerja, karena sifat anak-anak, masih senang ngobrol, kumpul-kumpul, main handphone, itu tidak bisa diterima industri.

Disiplin perlu dilatihkan secara terus menerus di dunia persekolahan. Salah satu yang dilakukan oleh jurusan Animasi SMK N 11 Semarang adalah menerapkan one day one project. Setiap hari anak-anak kelas X berkewajiban mengirim minimal 1 karya yang dipublish di instagram dan karyanya juga dikirim ke portal animax. Sebagai hari disediakan link pengiriman karya sebagai bukti bahwa siswa sudah mengirim karya tersebut.

Seperti pada diagram garis di samping tentang jumlah siswa yang mengirim karya setiap harinya dalam program one day one project menunjukkan bahwa sebagian besar siswa tidak bisa langsung konsisten dalam mengirim karya. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran diri menerapkan disiplin diri mengirim karya setiap harinya masih perlu ditingkatkan.

Pendekatan Social Emotional Learning dengan teknik Coaching dilakukan untuk meningkatkan kesadaran diri dalam menerapkan disiplin diri tersebut. Pendekatan ini dilakukan dengan cara memanggil satu demi satu siswa yang belum konsisten mengirim karya setiap harinya untuk diajak diskusi. Pendekatan komunikasi ini yang menjadi point penting karena yang dihadapi adalah manusia yang memiliki perasaan dan keunikannya masing-masing.  Awalnya siswa diajak untuk berdiskusi tentang apa tujuan dari kegiatan one day one project. Dari diskusi ini siswa sudah mengetahui dan menyadari bahwa tujuan dari kegiatan one day one project adalah melatih skill membuat karya sketsa, coloring, animate 2D, modeling maupun animate 3D sesuai dengan passionnya masing-masing. Melalui pertanyaan pemantik tentang apa yang dibutuhkan di industri selain skill, siswa ternyata mampu memberikan penjelasan bahwa softskill sangat diperlukan dan salah satu softskill tersebut adalah disiplin.  Berikutnya siswa saya ajak untuk berkelana seakan-akan memiliki perusahaan. Saya memantik dengan pertanyaan lanjutan, “Karyawan seperti apa yang dibutuhkan kamu sebagai pemilik perusahaan?”. Dari pertanyaan tersebut sebagian besar memberikan jawaban bahwa mereka membutuhkan karyawan yang patuh dan disiplin dalam menjalankan kinerjanya. “Apa yang terjadi apabila ada karyawan yang tidak disiplin?”, saya coba tanyakan lebih lanjut. Siswa yang saya ajak berdiskusi menyampaikan bahwa kerugian akan dialami perusahaan, bahkan kerugian terbesarnya apabila sampai tidak mendapatkan kepercayaan dari klien. “Apabila ada karyawan yang tidak disiplin dalam bekerja, apa yang akan kamu lakukan sebagai pemilik perusahaan?”, pertanyaan saya lanjutkan untuk menuju pada kesadaran dirinya. Sebagian besar siswa memberikan penjelasan bahwa dirinya akan memanggil karyawan tersebut, memberikan nasehat, memberikan surat peringatan yang bertujuan untuk memperbaiki kinerja karyawannya. Sebagai endingnya, saya perlihatkan tentang kinerja siswa terkait kegiatan one day one project dan saya bertanya “Apa perasaan kamu dan apa yang akan kamu lakukan terkait dengan kinerja kamu dalam program one day one project ini?”. Dari pertanyaan inilah, siswa semakin sadar, bahwa mereka menyesal belum bisa konsisten melakukan kegiatan one day one project dan akhirnya memiliki rencana untuk mengirim karya setiap hari, bahkan akan mencoba mengirim karya lebih dari satu karya sebagai pengganti atas kesalahan yang diperbuatnya.

Social Emotional Learning menjadi solusi dalam mendisiplinkan diri. Melalui Social Emotional Learning siswa diajak berkomunikasi dengan pantikan-pantikan pertanyaan sehingga siswa menyadari atas kesalahan yang dilakukan, sehingga berusaha melakukan proses perencanaan, bertanggungjawab  terhadap apa yang menjadi keputusannya.  Sebagai point penting dari penerapan SEL ini adalah melakukan komunikasi secara intens dengan siswa  melalui pertanyaan yang memantik, bukan menasehati namun membuahkan pada kesadaran diri siswa.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *