Satu Ruang Beda Rasa

“Satu ruang beda rasa”, itulah yang bisa saya katakan untuk mendeskripsikan bagaimana kondisi pembelajaran project riil di kelas XI Animasi di hari ini, Senin, 27 Februari 2023 di ruang inkubasi.  Dalam pembelajaran kolaborasi antara mata pelajaran  produktif di jurusan Animasi  SMK Negeri 11 Semarang ini lebih menekankan pada project-project secara kelompok. Mungkin inilah yang sering kali dibicarakan oleh banyak orang di kurikulum merdeka yang disebut dengan pembelajaran diferensiasi.  Pembelajaran ini mulai viral ketika kurikulum merdeka ini diimplementasikan, padahal sebelumnya kami sudah mencoba menerapkan pembelajaran semacam ini. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Menurut Tomlinson (2001: 45), pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid.

Ya, memang kebutuhan peserta didik di kelas yang kami ampu berbeda-beda, karena memiliki karakteristik yang berbeda-beda pula. Ada yang memiliki kemampuan di bidang tiga dimensi sehingga mereka memperdalam dengan project riil  yang berkaitan dengan animasi 3D, ada pula yang memiliki kemampuan di dua dimensi yang memperdalam melalui project riil berupa pembuatan animasi 2D maupun desain-desain yang mengarah pada market place.

Kelompok Animasi 3D, Faizal dkk

Faisal Arya beserta dua temannya yang sejak kelas X lebih fokus pada pembuatan modeling 3D, sekarang mereka berkolaborasi membuat film animasi yang akan dimasukkan ke youtube animax dengan tema cerita humor tentang Pak Di dan Angeli.

Kelompok Pembuatan Game, Bima Sakti, dkk

Berbeda lagi dengan Bima Sakti dengan anggota kelompok Ragil Wisnu dan Akmaluzair justru membuat game untuk anak-anak. Mereka sedang membuat project game untuk mengenalkan huruf dan kata untuk anak-anak TK dan PAUD. Apakah ini melenceng dari kompetensi dasar? Jika dilihat dari cara pandang yang berbeda yakni dari view yang lebih tinggi, kompetensi ini justru melebihi dari ekspectasi. Ketika seseorang mampu membuat game, maka kompetensinya melebihi kompetensi animasi, karena selain mempelajari gerakan, mereka harus belajar coding.

Kelompok Iklan 3D, Rasti, dkk

Rasti dan kawan-kawan ini membuat project pembuatan iklan produk berupa animasi 3D. Kelompok ini memilih animasi 3D karena sejak kelas X, mereka sudah menekuni modeling 3D. Mereka memilih project ini karena ingin memperdalam modeling 3D dan memperluas cakupan kompetensi yaitu animate 3D. Gabungan modeling 3D dan animate serta dubbing akan mereka wujudkan dalam bentuk iklan produk. Kata mereka, produk yang akan dibuat iklan adalah “Sambal Ibu Mertua”. Ketika saya tanya mengapa mengiklankan Sambal Ibu Mertua, karena ingin menonjolkan pedasnya sambal melebihi pedasnya omongan ibu mertua. Ada-ada saja ide mereka.

Kelompok Pembuatan Asset Digital Creatif Fabrica, Nabila, dkk

Beda lagi dengan kelompok Nabila dan kawan-kawan pada hari ini mereka sedang mengejar target project sebagai kontributor asset digital di Creative Fabrica untuk menambah portofolio di market place yang sedang kami kembangkan.

Kelompok Animasi 2D, Isqa Nala, dkk

Ishqa Nala dan dua temannya sedang mengerjakan project pembuatan animasi 2D untuk mengisi konten youtube animax. Kali ini mereka sedang menyelesaikan script cerita dan direncanakan akan berlanjut ke storyboard yang harus mereka selesaikan sampai minggu ini.

Ada pula kelompok siswa yaitu Risky Kenang dan Juan Farel yang hari ini lebih fokus dalam pembuatan media powerpoint untuk persiapan presentasi Penilaian Tengah Semester untuk minggu depan. Mereka berdua sudah menyelesaikan project pembuatan film animasi pendek dengan judul “Ketiduran”. Sebuah film animasi pendek yang menceritakan tentang kejadian Pak Diyarko yang ketiduran dan bertemu dengan hantu yang menyerupai Pak Taufiq Temannya.

Sederhana sekali pembelajaran yang kami lakukan, dengan menerapkan pembelajaran diferensiasi proses dan produk.

Menjelang berakhirnya pembelajaran, masing-masing kelompok melaporkan progresnya untuk melatih mereka berkomunikasi dan tanggungjawab. Kelompok Faisal melaporkan bahwa progresnya sudah mencapai 30% dan direncanakan selama 3 minggu lagi, filmnya akan selesai. Dilanjut dengan kelompok Nabila yang menyampaikan bahwa hari ini sudah menyelesaikan pembuatan asset digital untuk diposting di creative fabrica dan mereka melanjutkan membuat animasinya masing-masing dan sudah sampai di storyboard. Isqa Nala dan kawan-kawan menyampaikan bahwa hari ini mereka menyelesaikan script ceritanya. Kelompok Azahra, yang akan membuat stop motion, sudah membuat script, bahkan mereka berbagi tugas dengan temannya untuk saling membantu. Sekiranya ada bagian yang bisa diselesaikan terlebih dahulu, teman-temannya siap mengerjakan. Tanaya dan Ananda, sudah menyelesaikan sampai storyboard dan saya sarankan agar Tanaya bisa melimpahkan pekerjaan yang bisa diselesaikan Ananda agar pekerjaan cepat selesai. Kelompok Rasti melaporkan bahwa semua asset modeling sudah dibuat, tinggal membuat gerakan sesuai dengan script yang dibuatnya. Mereka menyampaikan progressnya sudah mencapai 40%. Kelompok Bima Sakti yang menjadi sejarah pertama di Animasi yang mencoba memperdalam skillnya di bidang game. Dalam laporannya, Akmaluzair dan Ragil hari ini menyelesaikan asset pixelnya, sedangkan Bima membuat codingnya. Mereka memprediksi dalam waktu 1 minggu game pada level 1 sudah selesai. Pelaporan progres ini sebagai bentuk evaluasi proses dengan memberikan feedback, sehingga mereka dapat melakukan refleksi tentang kekurangan dan efektivitas kinerja yang dilakukan hari ini. Kolaborasi dan komunikasi yang menjadi point penting untuk terus dikembangkan melalui kerja kelompok project ini.

Sudah saatnya kita sebagai guru memberikan ruang-ruang bagi mereka untuk mengembangkan kompetensi sesuai dengan kebutuhannya. Sudah siapkah menerapkan pembelajaran satu ruang beda rasa?

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *