Refleksi Siswa terhadap Kisah Penyu dan Angsa

Ilustrasi Kisah Penyu dan Angsa diambil dari Relief Candi Mendut oleh Gwen

Kisah Penyu dan Angsa yang diambil dari Relief Candi Mendut. Sebuah Kisah dari Kacchapa Jataka yang mengisahkan tentang seekor penyu yang banyak bicara memiliki keinginan untuk bisa terbang. Keinginannya ia sampaikan kepada dua angsa sahabatya. Kedua angsa mengabulkan permintaan asalkan ia tetap menggigit batang kayu yang akan dibawa kedua angsa tersebut. Ketika penyu tersebut dibawa terbang oleh dua angsa tersebut, ia mendengar pembicaraan dari orang-orang yang melihatnya bahwa ia bisa terbang karena jasa kedua angsa tersebut. Ia tidak terima dengan perkataaan tersebut, akhirnya ia mengatakan bahwa itu adalah idenya. Akhirnya ia jatuh. Ini adalah sebuah cerita yang dipahat oleh seniman pada masa Mataram Kuno. Karya ilustrasi tersebut salah satu bagian dari komik yang dibuat oleh Gwen siswa kelas X Animasi SMK Negeri 11 Semarang. Komik yang dibuat tersebut selanjutnya sebagai bahan untuk refleksi diri. Sengaja saya share artikel https://diyarko.com/tantangan-membuat-komik-dari-relief-candi-mendut/ dan saya berikan sebuah pertanyaan untuk refleksi. “Dari cerita tentang penyu dan dua angsa yang ada di dalam artikel yang Pak Di kirim, nilai apa yang dapat kalian petik? Apa yang dapat kalian lakukan?”

“Dalam komik ini, saya dapat memetik suatu pelajaran bahwa kita harus bisa mengendalikan emosi, hawa nafsu, memikirkan sesuatu dengan matang, dan berbicara seperlunya. Jangan seperti kura-kura yang hanya karena ingin diakui dan dipuji, Kura-kura pun melepas hawa nafsunya untuk berbicara hanya karena ingin diakui. Kura-kura juga tidak memikirkan resikonya terlebih dahulu karena kalah dengan emosinya. Dan saya juga dapat memetik suatu pelajaran, bahwa menjadi seorang pemimpin itu harus bisa mengendalikan apa yang akan diucapkan, dilakukan, dan diperlihatkan kepada orang lain. Terutama menjaga lisannya karena jika salah berbicara, kita dapat melukai perasaan orang lain. Lebih baik berbicara yang penting saja dan bijaksana dalam mengambil keputusan”, ungkap Hanna melalui link padlet.

“Berdasarkan cerita yang barusan saya baca, Banyak hal yang negatif dari sifat sang raja maupun sang kura kura, sifat negatifnya ialah, orang yang banyak bicara bisa membawa kemalangan bagi dirinya dan orang di sekitarnya, entah itu bicara yang bisa menyakiti hati orang lain, tak bisa menjaga rahasia ataupun privasi. Dan yang paling penting orang yang banyak bicara bisa membuat orang lain tidak nyaman akan sifat itu. Yang bisa di petik dari cerita itu adalah sebagai manusia kita harus bicara seperlunya saja, karna jika kita banyak bicara itu bisa menunjukan kurangnya kebijaksanaan dalam diri kita, dan kita juga bisa saja menyakiti hati orang lain karna kata kata yang kita ucapkan”, ungkap Mutia.

“Berdasarkan cerita tersebut yaitu terkait dengan cerita fabel yang dikenal sebagai Pancatantra/jataka, cerita kura² dan angsa yg sebagai simbol dalam fabel tbst. Di cerita tersebut saya dapat memetik sebuah pelajaran khususnya dalam hal kepemimpinan. menjadi seorang pemimpin itu seharusnya bisa mengendalikan diri secara lisan atau pun dalam perbuatan, sama hal nya dengan di organisasi osis sebagai pemimpin sudah seharusnya memberikan kesempatan kepada yang lain untuk memberikan pendapat, bertukar pikiran dan tidak membatasi hak orang lain (anggota). Cerita fabel tersebut juga cukup menohok dilihat dari segi sudut pandang yang berbeda yaitu memberikan sebuah kritikan bahwa seseorang pemimpin seharusnya mampu dalam mengendalikan emosi, lisan maupun perbuatan. mungkin seperti itu hal yang dapat saya ambil dari cerita tersebut”, ungkap Savira.

“Pada cerita yang sudah saya baca, saya belajar bahwa kita harus pintar pintar mengendalikan emosi dan hawa nafsu atau kita akan termakan hawa nafsu kita sendiri. Kita juga harus bisa mengabaikan hal-hal yang membuat kita terjerumus pada keburukkan dan semacamnya. Dengan membaca cerita yang dibagikan Pak Diyarko, saya akan mengevaluasi diri saya dengan belajar mengendalikan emosi dan hawa nafsu agar tidak terjerumus pada hawa nafsu kita sendiri”, ungkap Fildzah.

Sebuah cerita  hanya akan menjadi bahan untuk bacaan saja, jika tidak dilakukan refleksi bagi pembaca. Kegiatan berefleksi dapat diibaratkan seperti bercermin di air.  Bayangan akan muncul ketika air dalam kondisi permukaan tenang dan jernih, begitu juga ketika kondisi hati masih berkecamuk, maka refleksi tidak akan mendalam. Perlu seseorang mengendapkan pengalaman dari bacaan, dari pengalamannya agar dapat berefleksi secara mendalam.  Refleksi bukan sekadar menuliskan kembali apa yang sudah didapat, namun lebih lebih dari itu, ada proses mengaitkan dari apa yang dibaca dengan proses yang terjadi dalam dirinya. Refleksi menjadi momen untuk berdialog dengan diri sendiri dalam memaknai sebuah peristiwa. Refleksi lebih bermakna ketika dari sebuah kejujuran yang mendalam. Tidak hanya pengalaman dan pemikiran positif yang bisa ditulis, ada sebuah emosi yang menyertainya. Inilah cara saya memantik siswa untuk melakukan refleksi dengan pertanyaan-pertanyaan dengan harapan akan membawa pada kesadaran diri, menghaluskan rasa dan endingnya menumbuhkan budi pekerti. Semoga hal kecil ini memberikan kebermanfaatan.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *