Peduli Itu Indah

Peduli Itu Indah

Masa pendaftaran peserta didik baru jalur inklusi di sekolah-sekolah SMA/SMK Negeri di Provinsi Jawa Tengah sedang belangsung dari tanggal 4 sampai dengan 6 Juni 2024. Bahagia ketika melihat kebijakan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang memberikan pelayanan khusus bagi siswa inklusi agar bisa mendaftarkan diri di sekolah SMA/SMK Negeri di Jawa Tengah. Setelah mengikuti beberapa tahapan yaitu assesmen yang dilakukan oleh tim panitia yang ditunjuk oleh Cabang Dinas Pendidikan Wilayah 1 dan beberapa persyaratan pendukung lainnya, akhirnya para pendaftar ini bisa memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Pendaftaran siswa inklusi dari anak-anak yang berkebutuhan khusus memang diselenggarakan lebih awal. Hal ini menunjukkan adanya perhatian yang serius dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah terhadap hak-hak dari anak yang berkebutuhan khusus untuk mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak-anak lainnya. Patut bersyukur bahwa Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah lebih mengedepankan pada sekolah inklusif bukan lagi eksklusif.

Yang menjadi pertanyaan , sudah siapkah sekolah menerima siswa inklusi. Kesiapan ini bukan hanya kesiapan secara fisik dengan menyiapkan sarana dan prasarana yang memudahkan siswa inklusi agar dapat mengakses dengan mudah. Ketika di sekolah tersebut menerima siswa tuna netra, sudahkah sekolah menyiapkan jalur-jalur yang memudahkan siswa tunanetra berjalan, memberikan tanda-tanda dengan huruf braile atau tanda-tanda khusus yang memudahkan siswa menggunakan faislitas sekolah. Sudahkah sekolah menyediakan jalur-jalur yang mudah dilalui kursi roda agar siswa tuna daksa dapat melalui dengan mudah? Sarana dan prasarana sekolah secara fisik lebih mudah disediakan, namun yang paling sulit adalah penerimaan oleh semua warga sekolah secara psikologis terhadap siswa inklusi. Sudahkah guru-guru memiliki hati yang jernih, memiliki welas asih dan memiliki kepedulian. Jangan-jangan masih ada guru yang berpandangan bahwa siswa berkebutuhan khusus seharusnya di SLB.  Cara pandang ini perlu diluruskan. Kita seharusnya kembali pada konstitusi bahwa setiap warga berhak mendapatkan pengajaran. Sebagai konsekuensinya, siswa inklusi berhak mendapatkan pengajaran, termasuk di SMA atau SMK negeri. Yang sering menjadi alasan sekolah merasa berat menerima siswa inklusi karena guru-guru belum memiliki kompetensi menangani sekolah inklusi. Alasan klise inilah yang seharusnya segera berubah. Guru memiliki tiga kompetensi yang sangat erat dengan psikologis yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian. Dari tiga kompetensi inilah seharusnya menjadi alasan bahwa guru harus siap untuk menerima siswa inklusi.

Sekolah selayaknya memiliki ekosistem yang menyenangkan. Salah satu indikatornya adalah sekolah tersebut memiliki kepedulian. Kepedulian tersebut harus menjadi budaya yang ada di sekolah. Bagaimana SMK Negeri 11 Semarang membangun kepedualian tersebut? Salah satu media yang dipakai adalah sebuah film animasi.  Jurusan Animasi SMK Negeri 11 Semarang melalui tantangan yang diberikan kepada siswa kelas X memproduksi film animasi pendek yang mengajak murid untuk bisa peduli, karena peduli itu indah. Salah satu karya Arra siswa kelas X Animasi dengan judul Peduli itu Indah dapat disimak melalui video berikut.

Sudahkah sekolah bapak/ibu menerima siswa inklusi? Sudahkah sekolah bapak/ibu membudayakan jiwa peduli? Bagaimana tanggapan bapak/ibu terkait dengan video yang dibuat Ara tersebut? Tunggu komentar di kolom deskriptif. Semoga menginpirasi.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *