Kisah Jambuka Thera (5:11)

The Unconditioned Is The Highest Achievement‌‌
https://www.wisdomlib.org/buddhism/book/dhammapada-illustrated/d/doc1084299.html

Tulisan kali ini saya tidak membahas tentang dunia pendidikan, namun jika dicermati tulisan ini memiliki makna yang mendalam tentang pentingnya sebuah tindakan. Saya mencoba mengulik tentang Bab 5 Dammapada yaitu Bala Vagga dan saya lanjut menuju ayat 11. Ada sebuah syair berbunyi:

bālo māse māse kusaggena bhojanaṃ bhuñjetha
so saṅkhatadhammānaṃ soḷasiṃ kalaṃ na agghati

Artinya biarpun bulan demi bulan orang bodoh memakan makanannya dengan ujung rumput kusa, namun demikian ia tidak berharga seperenambelas bagian dari mereka yang telah mengerti Dhamma dengan baik

Syair ini dibabarkan oleh Buddha karena ada sebuah peristiwa yang melatarbelakanginya yaitu tentang Jambuka. Jambuka adalah seorang hartawan di Savatthi. Berkaitan dengan perbuatan buruk yang dilakukannya di masa lampau, ia harus dilahirkan dengan kelakuan yang sangat aneh. Ketika masih anak-anak, ia tidur di lantai tanpa alas kasur, dan memakan kotorannya sendiri sebagai ganti nasi. Ketika ia bertambah dewasa, orang tuanya mengirim kepada Ajivaka, pertapa telanjang. Ketika pertapa itu mengetahui kebiasaan makannya yang aneh, mereka mengirim Jambuka pulang ke rumah. Setiap malam ia makan kotoran manusia. Setiap hari berdiri dengan satu kaki, dan membiarkan mulutnya terbuka.

Ia selalu mengatakan bahwa ia membiarkan mulutnya terbuka, sebab ia hidup dari udara dan berdiri dengan satu kaki, sebab akan memberatkan bumi untuk mengangkatnya. “Saya tidak pernah duduk, saya tidak pernah tidur,” ia berbangga diri, dan oleh karena itu ia dikenal dengan nama Jambuka, orang congkak. Beberapa orang mempercayainya dan beberapa orang mau datang kepadanya untuk berdana makanan. Jambuka akan menolak dan berkata, “Saya tidak menerima makanan selain udara.” ketika dipaksa, dia menerima sedikit dana makanan tersebut, kemudian ia akan memberikan segenggam rumput kusa kepada orang yang berdana makanan itu dan berkata: “Sekarang pergilah, semoga ini dapat memberikan kebahagiaan bagi anda.”

Dengan cara ini, Jambuka hidup selama lima puluh lima tahun telanjang, dan hanya makan kotoran manusia. Suatu hari Buddha melihat bahwa Jambuka akan mencapai tingkat kesucian arahat dengan segera. Maka suatu sore Sang Buddha pergi ke tempat tinggal Jambuka dan menanyakan di mana tempat bermalam. Jambuka menunjukkan sebuah gua yang ada di gunung tidak jauh dari lempengan batu tempat tinggalnya. Selama malam pertama, kedua, dan ketiga, dewa-dewa Catumaharajika, Sakka, dan Mahabrahma datang untuk memberikan penghormatan secara bergantian kepada Sang Buddha. Pada ketiga kesempatan tersebut, hutan itu terang benderang dan Jambuka menyaksikan ketiga cahaya tersebut.

Pagi harinya, ia mengunjungi Sang Buddha dan bertanya tentang cahaya tersebut. Ketika diberitahu bahwa dewa-dewa, Sakka dan Mahabrahma datang memberikan hormat pada Sang Buddha, Jambuka sangat tertarik dan berkata kepada Buddha: “Anda pasti benar-benar orang besar bagi para dewa, Sakka, dan Mahabrahma, sehingga mereka datang dan memberikan hormat kepadamu. Tidak seperti saya, meskipun saya telah berlatih hidup sederhana selama 55 tahun, hidup dari udara dan berdiri dengan satu kaki, tidak satu dewa pun, tidak juga Sakka, Mahabrahma mengunjungiku.” Buddha berkata kepadanya, “O, Jambuka! Kamu dapat menipu orang lain, tetapi kamu tidak dapat menipuku. Saya tahu bahwa selama 55 tahun kamu telah makan kotoran dan tidur di tanah.” Lebih jauh Buddha menerangkan kepadanya bagaimana kehidupannya yang lampau pada masa Buddha Kassapa, Jambuka telah menghalangi seorang thera untuk berkunjung ke rumah umat awam yang ingin berdana makanan dan bagaimana ia telah melemparkan semua makanan yang dikirimkan untuk thera tersebut. Karena kejahatannya itu, Jambuka sekarang makan kotoran dan tidur di tanah. Mendengar penjelasan tersebut, Jambuka sangat terkejut dan menyesal telah berbuat jahat dan telah menipu orang lain. Ia berlutut di hadapan Buddha, dan Buddha memberinya selembar kain untuk dikenakan. Buddha memberikan khotbah dan pada akhir khotbah, Jambuka mencapai tingkat kesucian arahat serta menjadi murid Buddha.

Murid Jambuka dari Anga dan Magadha datang dan mereka sangat terkejut melihat Jambuka bersama Buddha. Jambuka menjelaskan kepada mereka bahwa ia telah menjadi murid Buddha. Kepada mereka Buddha berkata, meskipun guru mereka telah hidup dengan sederhana dengan makan makanan yang sangat sederhana, hal itu tidak bermanfaat, walaupun seperenambelas bagian dari latihan dan perkembangannya saat ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *