Kado Ulang Tahun Kallita

Gambar Kue Ulang Tahun Yang Paling Bagus – pulp

Pagi itu, Mama masih sibuk mencuci wajan sehabis masak sayuran untuk sarapan pagi. Bhanu yang duduk di bangku kelas 3 SMA pamitan ke sekolah ke mamanya  setelah sarapan pagi. “Ma, Bhanu berangkat ya!, sambil mencium tangan mamanya.  “Hati-hati ya Bhanu. Belajar yang rajin”, jawab Mamanya. Meskipun sudah mau berangkat ke sekolah, Bhanu masih bertanya kepada mamanya tentang kakaknya yang sudah lama belum pulang dari tugas negara. “Ma, kapan sih Kak Lita Pulang?”, tanya Bhanu. “Tumben kamu nanya?, kakakmu sedang bertugas”, jawab Mamanya memberikan penjelasan meskipun secara singkat. Memang antara Bhanu dan Kallita sangat dekat. Kallita sebagai kakak tertua lebih mampu membimbing Bhanu sejak kecil. Wajar ketika Kallita meninggalkan rumah dalam waktu yang lama, Bhanu merasa kangen.

Mama melihat kepergian anaknya untuk sekolah, ia kembali ke kamar dapur untuk melanjutkan beres-beres perabotan yang
masih perlu dirapikan. Pagi itu, mama makan sendirian, ruangan nampak sunyi. Ia melihat kalender tertulis 10 Juli. Ia hanya berbicara sendiri dalam hatinya. “Kallita, hari ini ulang tahunmu, semoga engkau sehat selalu nok. Mama merindukanmu”.  Mama mengambil HPnya dan mencoba untuk video call ke Kallita. Berkali-kali ia mencoba menghubungi namun tidak bisa diangkat. Ia semakin resah.

Terbayang 23 tahun yang lalu, ia berjuang dengan segala upaya, berobat ke dokter, melakukan terapi refleksi semata-mata agar mendapatkan anak. Sembilan tahun dari pernikahan, akhirnya ia hamil dan melahirkan seorang bayi di Rumah Sakit Tentara Kota Semarang. Kallita Thara Pindika, sebuah nama yang diberikan oleh suaminya yang berharap kelak menjadi orang yang baik hati, memiliki kekayaan yang dapat didermakan. Sebuah harapan mulia dari ayahnya agar hidupnya menjadi berkah bagi orang lain. Tanpa terasa air mata menetes di pipinya, ada rasa syukur karena saat ini Kallita menjadi dokter yang bermanfaat untuk orang banyak.

Mama masih duduk sendirian. Tangannya masih memegang HP dan mencoba berkali-kali menghubungi Kallita namun tidak bisa terhubung. “Assalamualaikum”, suara datang dari lantai bawah. “Waalikum salam, Kallita, mama kangen”, jawab Mama sambil berjalan ke lantai bawah. “Ih Mama, ini Bhanu. Mama kangen ya sama Kallita”, kata Bhanu. “Kamu to, tumben jam segini sudah pulang. Bolos ya!, sambil tangannya dicium Bhanu. “Ih mama, gak lah. Bhanu kan anak rajin. Tadi Bapak Ibu guru mendadak ada rapat penting, sehingga kita dipulangkan agak gasik”, jawab Bhanu membela diri. “Cepet sana, ganti baju, makan siang dan nanti bantu mama ya”, pinta Mamanya. “Ya Ma”, jawab Bhanu.

Di dapur, mama sibuk membuat kue ulang tahun untuk merayakan ulang tahun Kallita. Sudah menjadi kebiasaan, untuk ulang tahun anak-anaknya, mama selalu menyempatkan membuat kue untuk merayakan meskipun sangat sederhana. Baginya, itulah caranya untuk mendapatkan moment-moment yang indah bersama anak-anaknya.

“Bhanu, sini, bantu mama”, perintah Mama ketika Bhanu sudah mendekati ruang dapur. “Buat apa sih ma?”, tanya Bhanu. “Kue ulang tahun”, jawab Mama Erna. “Hari ini Bhanu kan tidak ulang tahun, siapa yang ulang tahun Ma?”, tanya Bhanu penasaran.”Ih kamu, ulang tahun mbakmu aja lupa” jawab Mama. “Mbak kan masih bertugas”, jawab Bhanu. “Ya, gak apa-apa, semua anak mama. Kalau ulang tahun pasti mama buatkan kue. Kita juga harus mendoakan semoga mbakmu selalu sehat”. “Amin”, sahut Bhanu.

Mama melanjutkan membuat adonan kue. Ia menuangkan tepung dan gula. “Bhanu, ambilkan pengembang itu!, pinta Mama tanpa menoleh ke Bhanu. Tanpa banyak bicara, pengembang sudah diletakkan di samping mama. Karena sedang asyik membuat adonan, mama tidak melihat bahwa yang menyerahkan pengembang tersebut sebenarnya Kallita. “Ambilkan tiga butir telur”, pinta mama lagi. Segera, tiga butir telur disodorkan di sampingnya mama. lagi-lagi mama tidak melihat siapa sebenarnya yang menyerahkan telur tersebut. “Apalagi mama?”, tanya Kallita. Mama masih ragu, apakah itu suara Kallita, ia melanjutkan memecah tiga butir telur dan mencampurnya dengan adonan. “Butuh apalagi mama?”, tanya Kallita dengan suara agak dikeraskan lagi.  Kali ini mama memutar badan, dan ternyata di belakangnya adalah Kallita. “Kallita”, panggil mama. Kallita langsung memeluk mamanya dengan penuh kerinduan. Air mata mengalir. “Terima kasih mama, di setiap ulang tahun mama selalu membuat kue untuk Lita”

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *