Dua Batu Bata Jelek

Perhatikan gambar tersebut! Apa yang kalian pikirkan? Apa yang kalian rasakan? Inspirasi apa yang dapat kalian peroleh dari gambar tersebut? Silahkan ditulis dan dikirim melalui jaringan pribadi ke Pak Di. Tidak ada benar atau salah dari jawaban kalian. Silahkan bebas berpendapat. Sebelum berpendapat renungkan secara seksama. Terima kasih.

Itu bagian dari pantikan kepada anak didik untuk berpendapat melalui tulisan. Meskipun sederhana, anak didik diberikan kesempatan untuk olah pikir dan olah rasa memaknai sebuah kehidupan, menuliskan inspirasi apa yang diperoleh dari gambar yang disajikan.

Meskipun beragam pendapat  anak didik yang dituliskan, sebagian besar mereka cenderung memandang dua batu bata tersebut sebagai point of interest. Ada sebagian yang memandang bahwa dua batu bata yang besar tersebut terlihat jelek karena berbeda dengan batu-bata lainnya yang memiliki kesamaan bentuk dan tertata secara rapi. Ada sebagian yang memandang bahwa kedua batu bata tersebut yang paling menonjol dan unik sehingga menjadi pusat perhatian. Berikut beberapa pendapat siswa terkait dengan pantikan yang diberikan.

“Yang saya rasakan dari gambar tersebut adalah batu yang kuat dan kokoh terutama pada dua batu baru tersebut, serta perbedaan yang jelas dari kedua batu tersebut dengan batu bata lainnya. Inspirasi yang saya dapat adalah tentang kita yang harus berani tampil meskipun berbeda dari yang lain karena siapa tau perbedaan yang kita buat menimbulkan hal baru yang lebih baik (seperti sikap kokoh dan kuat seperti batu di gambar) untuk kedepannya”, ungkap Sasya Kelas X Animasi SMK Negeri 11 Semarang. Pendapat Sasya ini mengambil hikmah dari tampilan gambar tersebut untuk lebih percaya diri untuk tampil berbeda dengan yang lainnya.

“Bangunan tersebut terlihat tidak rapi dan tidak enak dipandang karena susunan batu batanya tidak sama satu sama lain. Tetapi, itu tetap membentuk suatu bangunan yang kokoh meskipun bentuknya tidak sama. Yang saya rasakan adalah sangat tidak nyaman dipandang, terlihat sangat aneh karena batu batanya tidak sama seperti dengan yang lain. Namun di balik itu, saya justru terinspirasi, meskipun bentuk/jenisnya berbeda, itu tetap membentuk suatu bangunan yang kokoh. Seperti kita semua para manusia, meskipun berbeda beda, tetapi kita dapat membentuk suatu hubungan yang bagus dan kokoh jika mau berbaur dengan sesama manusia”, ungkap Alica. Dibutuhkan cara pandang yang berbeda seperti Alica yang lebih menghormati keberagaman. Saya semakin bangga dengan anak-anak didik saya yang memiliki cara pandang menghargai sebuah perbedaan.

“Dua bata yang mengganggu pemandangan membuat sangat jelek untuk dipandang, namun jika dipikirkan ternyata ada banyak batu bata yang tersusun rapi dan kita hanya fokus untuk melihat kejelekan/kekurangan 2 batu tersebut. Menggambarkan kita hanya fokus untuk melihat kejelekan diri kita, padahal diri kita banyak memiliki kelebihan dan potensi. Banyak orang seperti diri sendiri dan orang tua atau orang lain jika melihat 1 atau 2 kejelekan/kekurangan kita maka hal kebaikan/kelebihan kita tidak akan di ingat. Jadi walaupun ada 2 bata jelek yang melihatkan kejelekan/kekurangan, kita masih punya kelebihan dan keistimewaan yang tersimpan banyak di diri kita untuk mengembangkan potensi diri kita agar lebih maju”, ungkap Kanaya. Pola pikir Kanaya sangat luar biasa, ketika orang pada umumnya akan memandang dan fokus pada dua kejelekan orang lain sehingga sering menghapus seribu kebaikan yang telah dilakukan, justru Kanaya memiliki cara pandang yang bijaksana. Ia justru awalnya melihat dua batu bata tersebut, namun selanjutnya melihat ribuah batu bata yang lain yang tertata rapi, yang menggambarkan tentang banyaknya kebaikan yang telah dilakukan sebagai point of interest.

Rinjani, siswa kelas X Animasi SMK N 11 Semarang memiliki pandangan yang lebih bijak lagi. “Ketika saya melihat gambar tersebut saya langsung terfokuskan pada dua bata yang berposisi kurang rapi atau jelek sehingga merusak pemandangan. Menurut saya hal ini bisa terjadi ketika seseorang berusaha untuk menutupi kekurangan dari bangunan tersebut. Keadaan ini mungkin bisa membuat siapa saja merasa kurang nyaman ketika melihatnya. Namun sebenarnya banyak orang tidak menyadari bahwa di sekitar batu bata yang kurang rapi tersebut masih banyak batu bata lainnya yang tersusun dengan apik dan teratur. Mereka hanya terfokuskan pada suatu kekurangan sehingga melupakan kelebihan dalam hal yang dilihatnya. Bisa jadi dua bata jelek tadi justru semakin memperlihatkan keindahan susunan bata yang lain, yaitu susunan bata yang lebih rapi. Dalam hal ini saya menyimpulkan bahwa ketika kita melihat sesuatu jangan hanya terpaku pada suatu kekurangannya saja, tetapi lihatlah juga kelebihannya yang mungkin lebih banyak dibandingkan dengan kekurangannya. Berapa banyak dari kita yang melihat hanya “dua bata jelek”? Berapa banyak dari kita yang tidak menyadari kelebihan yang kita miliki? Berapa banyak orang yang susah sekali untuk melihat sisi baik dari orang lain? Kita hanya mampu melihat kekurangan dan kelemahan dari orang lain. Jika kita diminta menuliskan kekurangan siswa dalam satu halaman penuh, kita akan dengan mudah menuliskannya. Namun, jika kita diminta menuliskan kebaikannya, mungkin kita akan berpikir seribu kali untuk menuliskannya. Kita semua memilki “dua bata jelek”, namun kita memiliki bata-bata yang baik jauh lebih banyak dari “dua bata jelek” itu. Sudah saatnya kita mulai berdamai dengan diri kita, bahwa kita punya sesuatu yang patut dibanggakan”, ungkap Rinjani.

Beberapa pendapat anak didik tersebut menggambarkan keberagaman cara pandang yang selayaknya dihargai dan anak didik pun hendaknya mampu menghargai kebinekaan cara pandangnya. Sudahkah kita menjadi guru yang memberikan ruang-ruang bagi siswa untuk berpendapat dengan memperhatikan berbagai cara pandang yang berbeda. Sekolah yang menyenangkan adalah sekolah yang mampu membangun kultur kebinekaan, karena kodrat alami manusia adalah beragam yang harus dituntut untuk menjadi versi terbaiknya masing-masing. Merdeka jiwanya perlu ditumbuhkan kembangkan, salah satunya dengan memberikan ruang untuk berpendapat.

 

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *