Catatan Harian Ibu

Seorang yang disebut ibu adalah sosok yang paling kuat di dunia. Ini benar-benar saya rasakan ketika istri saya sedang sakit dan saya harus mengurus semua pekerjaan di rumah. Mulai dari mengurus sarapan untuk keluarga,  membersihkan pakaian, mengepel rumah, menyetelika dan segudang pekerjaan rumah tangga lainnya. Belum lagi mengurus anak yaitu Bhanu dan Joti yang berebut mainan hingga sampai bertengkar dan berakhir menangis. Betul-betul menguras tenaga dan pikiran, hingga akhirnya belum sampai pukul 12.00 WIB, saya sudah merasakan sangat lelah. Dari situlah, saya merasakan bahwa pekerjaan seorang ibu yang nampaknya ringan ternyata begitu berat. Sebagai pengingat tentang pekerjaan tersebut saya mendapatkan inspirasi untuk menuliskan sebuah cerita.

Catatan Harian Ibu 

Karya Diyarko

Joti sedang bermain mobil-mobilan. Tiba-tiba Bhanu merebut mobil-mobilan tersebut. Joti yang tidak terima, akhirnya ia merebut kembali mainan tersebut dan mendorong bhanu hingga Bhanu menangis sambil mengadu ke ibunya.  “Eeee eeee, “Mama-mama-mama”, Bhanu menangis dengan kerasnya. Mamanya yang berada di dapur, seketika berkata agak keras. “Joti, beri adikmu satu mainan, kamu kan punya dua”, teriak Mama Erna dari dapur. Joti tidak menghiraukan apa yang dikatakan mamanya, ia tetap asyik dengan bermain mobil-mobilannya, sedangkan Bhanu terus menangis minta mainan yang dipegang Joti. Melihat Bhanu menangis, Kallita yang sedang menggambar di meja sebelah, tiba-tiba merebut satu mainan yang dipegang Joti dan diberikan kepada Bhanu. Bhanupun berhenti menangis, namun gantian Joti yang menangis keras dan mengadu ke mamanya “Mama-mama-mama, Lita nakal”. Masih sambil memasak makanan untuk keluarga, mamanya berteriak menasehati Kallita. “Kallita jangan nakal!, sudah-sudah semua mainan dirapikan”

Keesokan harinya, Mama Erna kembali ke pekerjaan rutin yaitu memasak di dapur, ia tuangkan minyak di wajan dan menyalakan kompor.  Ia mulai menggoreng tempe untuk sarapan pagi. Tiba-tiba terdengar suara tangisan Joti dari tempat tidur. Kompor dimatikan dan mama pergi ke tempat tidur. Ternyata Joti minta digendong karena habis ngompol dan minta mandi, sementara Kallita dan Bhanu masih tidur. Ia memandikan Joti, memakaikan pakaian dan menyisiri rambutnya. Tiba-tiba terdengar Bhanu menangis. Mama memberikan susu pada Joti yang duduk di kursi dan langsung menuju kamar tidur. Ia menggendong Bhanu dan memandikan, memakaikan pakaian, menyisiri rambut dan memberi susu ke Bhanu serta mendudukkan Bhanu di kursi samping Joti. Ia melanjutkan memasak untuk sarapan pagi.

Kallita yang baru saja bangun tidur langsung ke kamar mandi, berganti pakaian seragam, menyisiri rambutnya sendiri. “Ma, sarapannya mana?”, tanya Kallita kepada mamanya yang masih melanjutkan memasak di dapur. “”Nih, lauknya ambil di dapur”, jawab Mama Erna. Kallita mengambil piring dan mengambil nasi di rice cooker. Ia menuju ke dapur untuk mengambil lauk tempe dan sayuran hasil masakan mamanya. Setelah makan ia langsung pamitan pada mamanya untuk berangkat sekolah. “Ma, Kallita berangkat”, sambil berjabat tangan dan mamanya mencium kening Kallita.  Tiba-tiba Kallita menghilang. Ternyata hanya bayangan kenangan ketika anak-anaknya masih kecil. Tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara HP. Dibukanya dan ternyata ada pesan yang masuk. “Maafkan mama, Kallita bulan ini belum bisa pulang, karena sedang tugas di daerah terpencil untuk menangani wabah penyakit di sana. Semoga mama dan ayah tetap sehat, doakan Kallita dapat melaksanakan tugas ini”. Air mata mengalir dari pipi mama Erna, dari belakang Pak Diyarko yang sudah tua juga merangkul pundak mama Erna. “Masuk ma, sudah sore. Doakan saja anak-anak kita dapat menjalankan tugas dengan baik, kan masih ada ayah yang mendampingimu”

Sepenggal cerita tersebut merupakan hasil imajinasi saya sebagai ungkapan bahwa itulah repotnya seorang ibu dalam mengurus pekerjaan di rumah ketika anak-anaknya masih kecil. Namun beriringnya waktu, ketika anak-anaknya sudah besar, kenangan betapa repotnya melakukan pekerjaan mengurus anak-anak akan muncul kembali. Kangen dengan keadaan saat repot tersebut. Kondisi ini tentu banyak dialami oleh banyak orang.

Kisah tersebut dapat dijadikan sebuah film animasi. Salah satu tahap yang perlu dilakukan adalah pembuatan script cerita. Berikut script cerita yang bisa saya buat dan dapat digunakan untuk contoh di kelas. Pembaca dapat melihat script melalui link berikut: Catatan Harian Ibu-Episode 1.

Hari ini, 21 Maret 2024 saya masuk ke kelas X Animasi 4. Saya berikan script tersebut melalui group whatsapp. Tantangan dari mereka adalah membuat storyboard yang dapat digunakan untuk acuan dalam pembuatan film animasi secara kelompok. Setiap murid membuat storyboard dari cerita tersebut dan setelah dikumpulkan maka mereka dapat memilih storyboard yang terbaik untuk digunakan dalam pembuatan animasi.

Beberapa adegan cut 1,2,3,4, 5 dan 6 sengaja saya untuk acuan bagi murid dalam pembuatan storyboard. “Catatan Harian Ibu”, bukan sekedar untuk mengapresiasi jasa seorang ibu yang pekerjaannya segunung yang biasanya dianggap remeh, namun menjadi cerita untuk dijadikan film animasi. Mulai hari ini, murid-murid sedang proses melakukan tahapan pembuatan storybord.

Murid Kelas X Animasi 4 Sedang Proses Pembuatan Storyboard
Murid kelas X Animasi 4 sedang Membuat Storyboard
Murid kelas X Animasi 4 sedang Membuat Storyboard

Cerita tersebut ternyata menyentuh hati para murid. Andinie salah satu murid yang mencoba membacakan script cerita di depan kelas memberikan refleksi atas cerita tersebut. “Pendapat saya mengenai cerita tersebut sungguh menyentuh, terutama di bagian akhir. Bisa saya bayangkan bagaimana seorang ibu yang merindukan anaknya yang sudah merantau jauh, lalu suatu saat beliau mengenang masa-masa disaat anak-anaknya masih kecil dan butuh perhatian dari beliau. Saya merasa tergugah dan tersadar, dari cerita tersebut bahwa waktu terus berjalan. Saya merasa kemarin masih kecil dan banyak dibantu, namun sekarang sudah bisa mandiri dan punya rasa tanggung jawab untuk membuat kedua orang tua bangga seperti karakter Kallita. Hal baik yang akan saya lakukan adalah semakin melatih diri untuk disiplin dan mandiri, mulai dari hal-hal kecil seperti mencuci piring di rumah dan menata kamar setiap pagi”, ungkap Andine.

Apapun yang dilakukan kelas, refleksi jangan sampai ditinggalkan. Inilah cara saya membangun dialog di ruang ketiga. Kelas yang selama ini menjadi ruang kedua, berupa kerja, kerja dan kerja atau tugas, tugas dan tugas, sudah saatnya ditambah sebuah refleksi dan dialog sehingga tugas yang dikerjakan bukan semata-mata menjadi tugas rutinitas, namun mereka mendapatkan kesadaran diri apa pentingnya tugas tersebut, bahkan memperoleh hal baik yang perlu ditingkatkan.

 

Leave a Comment Cancel Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Exit mobile version