Bukan Tugas, tapi Tantangan

“Yang saya rasakan ketika mendapatkan tantangan dari pak Diyarko adalah senang, karena menurut saya, tantangan itu bisa menjadi suatu hal yang bisa menambah skill dalam menggambar, selain itu saya juga bisa menambah wawasan tentang bagaimana ketika kita menyikapi jika orang yang menantang itu adalah seorang klien,terimakasih pak Di,karena sudah mengapresiasi karya saya”, ungkap Felisya usai menyerahkan gambar saya.

Beberapa hari yang lalu, Felysa salah satu siswa kelas X Animasi SMK Negeri 11 Semarang mengirim karya gambar sketsa wajah seseorang.

Karya Felysa
Karya Felysa

Dilihat dari model arsirannya, Felysa ini memiliki cara yang unik saat memberi arsiran. Ia menggunakan teknik arsiran silang. Dari karyanya ini selanjutnya saya beri tantangan untuk menggambar wajah saya. Ia menerima tantangan ini dan ia benar-benar menikmatinya. Tadi sore, 6 Januari 2023, menjelang pulang sekolah, Felysa menemui saya untuk menyerahkan gambar saya. Ada raut wajah yang bahagia, karena ia mampu membuat tantangan yang saya berikan. “Bukan Nilai”, yang menjadi orientasi Felysa, tapi peningkatan skillnya yang menjadi arah dan tujuannya.

“Pak Di”, karya Felysa

Kira-kira apa yang ketika yang saya berikan adalah tugas? Ketika mendengar kata tugas saja, di benak pikiran anak didik adalah sebuah beban yang harus dilakukan. Pada umumnya tugas itu bersifat seragam, setiap anak menyelesaikan tugas yang sama. Meskipun antara tantangan dan tugas datangnya sama-sama dari orang yang sama, namun secara rasa ditangkap berbeda oleh siswa. Tugas cenderung beban, sedangkan tantangan akan menjadi dorongan untuk melejit ke arah yang lebih baik. Tantangan setiap anak berbeda-beda sesuai dengan passionnya. Tantangan yang diberikan ke Felysa tidak akan sama dengan siswa lain yang memiliki passion yang berbeda dengan Felysa.

“Alhamdulillah, saya selaku orang tua Fellisya mengucapkan banyak terimakasih buat bapak ibu guru yang selalu memberikan support dan arahan buat anak saya semoga bisa menjadi lebih baik lagi. Saya senang karna hobi gambar yang ditekuni secara otodidak memberikan hasil yang luar biasa menurut saya. Dari orang tua tidak ada yang bisa gambar. Alhamdulillah setelah sekolah di SMK Negeri 11 Semarang semakin terasah. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih buat bapak ibu guru, semoga selalu  diberi kesehatan. aamiin”, ungkap orang tua Fellysa.

Ungkapan yang tulus dari orang tua Fellysa membuktikan bahwa pembelajaran diferensiasi dengan memberikan tantangan yang berbeda-beda berdampak positif terhadap perkembangan kompetensi siswa.

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *