Berdana untuk Melepas Kekotoran Batin

“Dulu kita sering dinasihati: kalau tangan kanan ngasih, sebaiknya tangan kiri tidak perlu tahu. Hari ini, nasihat ini perlu direvisi: kalau tangan kanan ngasih, maka sebaiknya tangan kiri itu gak perlu gatel selfie, diposting pula” (Tere Liye).  Ungkapan tersebut menohok pada sanubari kita sehingga muncul refleksi diri, sudahkah kita berdana pada level yang tinggi?

Apbila seorang anak masuk SMK, hanya sampai kelas satu dia keluar, maka anak ini hanya akan mendapatkan ilmu SMK kelas satu. Anak lain masuk SMK hanya sampai kelas dua lalu keluar, maka ia hanya mendapatkan ilmu sampai kelas dua. Tetapi ada anak yang masuk SMK, dan bertekad: saya masuk SMK sampai lulus. Maka anak ini mendapatkan ilmu SMK kelas satu, kelas 2 dan kelas tiga. Kalau ditanya, “Berdana tingkat mana yang diinginkan?” Kalau ditanya, “Tujuanmu masuk SMK sampai mana?”. Tentu akan menjawab, “Aku masuk SMK sampai lulus”. Karena kalau sampai lulus pasti mendapatkan kelas satu, kelas dua dan kelas tiga.

Dari analogi tersebut, tentu kita berkeinginan: “Aku berdana untuk tingkat tiga”, maka kita akan mendapatkan kelas satu dan kelas dua. Otomatis. Meskipun dana itu kecil, dengan memberikan makan pada seokor anjing, tetapi memiliki niat: “Saya berdana pada seekor anjing ini untuk mencapai tingkat tiga, yaitu membersihkan kotoran batin”, maka kebajikan itu memberikan manfaat pada sampai tingkat tiga. Tidak usah dipikir yang tingkat dua dan tingkat satu. Jika mendapatkan tingkat ketiga, maka tingkat kedua dan tingkat ke satu juga didapatkan semua. Tidak perlu disebut-sebut yang satu dan dua itu. Niatkan saja: saya hanya tingkat tiga. Dengan demikian  kita akan mendapatkan manfaat yang tertinggi. itu adalah salah satu dari kebijaksanaan. Dengan kebijaksanaan, dengan pengertian yang lengkap: saya melakukan berdana ini untuk membersihkan batin saya.

Berdana dengan niat tingkat ketiga ini bukan sekedar berdana agar kita dicintai orang lain. Bukan sekedar beramal, berbuat baik supaya hidupnya sejahtera, tidak kekurangan. Tidak sekedar itu, namun ada manfaat berbuat baik yang tingkat ketiga yaitu berdana dengan pikiran: saya memberi, saya berdana untuk membersihkan kotoran batin saya. Karena yang membuat penderitaan itu adalah kotoran batin, bukan karena kekurangan materi. Meskipun materi berkelebihan, kalau keserakahan, kebencian membakar diri kita. Apakah kita akan hidup tentram? Apakah kita bahagia? Tentu tidak. Oleh karena itu berdana yang paling baik adalah berdana untuk tujuan ketiga, dengan niat (nawaitu): saya memberi untuk membersihkan kotoran-kotoran batin yang di dalam, supaya saya bebas dari penderitaan selama-lamanya.

Apabila berdana hanya untuk mencari nama baik, pujian, hidup sejahtera, yang didapatkan hanya itu. Mencari yang tingkat satu yang diperoleh hanya tingkat satu saja. Kalau kita berdana hanya agar mendapatkan surga, maka yang diperoleh pada tingkat kedua. Tujuan berdana, berbuat baik yang paling tinggi adalah tingkat ketiga: Saya memberi untuk membersihkan batin saya. Full Stop. Titik. Tidak ada embel-embel yang lain. Berdana tingkat tiga inilah yang dikatakan berdana untuk melepaskan, melepaskan keterikatan. Semoga menginspirasi.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *