Sudahkah Keluar dari Zona Diam?

Apa sih yang sering dialami oleh siswa usai mengikuti test atau ujian? Umumnya mereka akan lebih santai atau diam dari aktivitas belajar karena merasa bahwa test atau ujian itu aktivitas akhir sehingga sebentar lagi akan memperoleh hasilnya. Ada kepuasan setelah mereka mendapatkan selembar kertas yang berisi angka-angka nilai dan tercatat pula tulisan “Anda naik ke kelas”. Sebuah rutinitas yang dilakukan setiap akhir tahun yang selalu dinantikan oleh siswa dan orang tuanya. Mengapa siswa cenderung diam dari aktivitas belajar? Ya, karena sistem kita yang menciptakannya. Jangan-jangan karena kita sebagai guru juga ikut andil membawa dan mengarahkan mereka pada zona diam tersebut. Ketika para guru berorientasi pada nilai-nilai angka yang akan dituliskan dalam selembar kertas yang disebut rapport, maka proses pembelajaran yang dilakukan hanya untuk mengejar angka-angka itu. Mereka dengan berbagai cara agar siswa-siswanya di atas KKM, dengan memberikan penugasan-penugasan dan segudang proses, entah remedial dan sebagainya agar siswa-siswanya mendapatkan nilai di atas KKM. Perlu kita berpikir ulang, apakah pembelajaran yang kita lakukan akan hanya berkutat untuk itu? Ketika pembelajaran setiap tahunnya berorientasi untuk sebuah nilai angka-angka tersebut, dan itu dilakukan secara berulang-ulang, bertahun-tahun, diulang terus, maka menjadi sebuah kebiasaan. Secara tidak langsung guru pun ikut andil pada pembentuan siswa-siswanya ke arah zona diam. Buktinya mereka akan berada pada zona diam ketika ujian dan tes sudah dilaluinya. Kehidupan siswa di sekolah hanya sebatas mengejar nilai-nilai.

Beberapa hari ini, saya masih bersyukur karena menemukan banyak siswa yang sudah mencoba keluar dari zona diam. Meskipun siswa tinggal menunggu penerimaan rapport, mereka tidak diam. Mereka tetap konsisten berkarya demi mengejar kualitas dan kuantitas portofolio yang menjadi bagian dari kehidupannya. Bukan nilai, bukan angka, namun yang ia pastikan adalah portofolio sebagai bukti identitas dirinya.  Di group kelas X Animasi meskipun beberapa hari lagi mereka akan mendapatkan rapport, namun masih ada kiriman-kiriman karya untuk mengisi portofolionya.

Karya Muhammad Alfian
Karya Muhammad Alfian

Muhammad Alfian, merupakan salah satu siswa yang saya pandang sudah keluar dari zona diam. Di akhir-akhir menjelang penerimaan rapport dan ia juga sudah tahu bahwa nilai sudah dimasukkan ke dalam rapport, namun ia tetap membuat karya dan tetap saja dikirimkan ke group kelas X Animasi. Inilah yang membuat saya merasa bahagia, karena masih ditemukan siswa yang berkarya bukan untuk mendapatkan nilai-nilai, namun sebagai bagian dari proses menempa dirinya ke arah yang lebih baik. Ia melakukan itu semata-mata untuk meningkatkan kualitas portofolionya.

Reynaldi, salah satu siswa yang sedang mengikuti project industri di Pickolab juga selalu konsisten mengirim karya portofolio di group kelas X Animasi. Tiba-tiba ia mengirimkan sebuah link porotofolio https://dribbble.com/shots/21720801-Color-Factory

Karya Reynaldi

Ia mengirim karya tersebut sama sekali bukan untuk mengejar nilai, apalagi saat ini ia melaksanakan proses belajar di Industri, ia berkutat dengan pekerjaan-pekerjaan yang dituntut dengan deadline, dituntut dengan kualitas yang hasilnya adalah finansial. Namun ia tetap mengirim ke group kelas X Animasi semata-mata memberikan motivasi kepada adik-adik kelasnya. Beberapa kali, ia melakukan proses mentoring kepada adik-adik kelasnya, sebelum ia melanjutkan project industri di Pickolab. Rasa bahagia semakin bertambah, karena saya menemukan murid-murid yang dalam hidupnya bukan sekedar hidup, namun ia mencoba belajar untuk menghidupkan kehidupan. Menjadi mentor, selalu mengirim portofolio untuk memotivasi yang lainnya, bagi saya adalah proses belajar menghidupkan kehidupan di sekitarnya.

Yosepta dan teman-temannya di kelompok painting, di akhir-akhir mendekati penerimaan rapport mereka gunakan aktivitasnya untuk berkarya di bidang painting. Di bawah asuhan Pak Sindu Lintang, mereka melakukan aktivitas belajar painting di kaos. Mereka belajar untuk membranding diri dan kelompok paintingnya agar terus dikenal oleh masyarakat.

Kelompok Painting

Di sela-sela belajar painting, Yosepta juga masih konsisten membuat karya yang dipublish di group kelas X Animasi. Kali ini ia membuat sebuah karya gambar ilustrasi dengan judul “Nabok Nyilih Tangan”. Ia secara konsisten melakukan proses pembuatan karya dan dirinya merasa sudah belajar keluar dari zona diam. “Saya merasa sudah mulai dari zona nyaman atau diam aku terus menggambar dan ada kegiatan painting itu dan terkadang saya di rumah menggambar juga untuk melepas penat, kenapa saya melakukannya dengan keras?  Kenapa saya keras pada diriku sendiri? Saya ingin sukses, saya ingin hidup bahagia di masa depan, aku akan buktikan benar atau salah pada kata kata ” proses tidak menghianati hasil” .

Nabok Nyilih Tangan Karya Yosepta

Bahagia rasanya ketika aktivitas-aktivitas siswa mereka tidak berhenti, aktivitas belajar terus mereka lakukan untuk terus belajar keluar dari zona diam. Karena sejatinya pendidikan itu bukan permainan yang terbatas, justru pendidikan adalah permainan tak terbatas, sebuah perjalanan tanpa titik. Untuk menuju pada proses ini, memerlukan waktu yang relatif lama dan membutuhkan konsistensi diri dalam mendidiknya. Berkali-kali saya sering menyampaikan kepada mereka, “Jangan mengejar nilai, karena nilai hanya sebuah angka yang tertulis di selembar kertas. Buatlah portofolio secara konsisten dari sisi kuantitas dan tingkatkan dari sisi kualitasnya”.

Tulisan ini sebagai bagian dari refleksi diri, sudahkah kita sebagai guru keluar dari zona diam? Hanya diri kita yang tahu.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *