Memupuk Persatuan dalam Kebhinekaan

Menyuburkan toleransi merupakan tugas dan tanggungjawab dunia pendidikan. Sekolah sebagai bagian dari pendidikan memiliki peran penting untuk terus menjadikan toleransi sebagai napas dari setiap murid-muridnya.  SMK Negeri 11 Semarang merupakan sekolah dengan jumlah murid yang besar, yaitu sebanyak 1697 murid. Dari total murid tersebut ada sekitar 80 murid (4,71%) beragama Kristen, sebanyak 65 murid (3,83%) beragama Katholik. dan 2 murid 0,12% beragama Buddha dan mayoritas (91,34%) beragama Islam. Keberagaman dalam beragama ini perlu dipupuk jiwa toleransinya. SMK Negeri 11 Semarang melalui program kesiswaan terus berupaya untuk menyuburkan jiwa-jiwa toleransinya. Beberapa program yang sudah berjalan sampai saat ini adalah mengumandangkan lagu-lagu kerohanian yang diambil dari agama-agama yang dianut oleh murid. Lagu rohani dari Kristiani yaitu “Kasih Pasti Lemah Lembut” dari Michela Thea dikumandangkan setiap pagi, dengan harapan akan menyejukkan jiwa-jiwa murid sehingga hatinya menjadi lembut.

“Lagu Kasih” yang dinyayikan Chittra Swastiekka yang merupakan lagu Budhis juga dikumandangkan dengan harapan siapa saja yang mendengarkan lagu ini akan terisi jiwanya dengan cinta kasih.

Lagu kerohanian dari Islam dengan Judul “Indahnya Berbagi” karya Dery Sulaeman juga dikumandangkan dengan harapan akan timbul kesadaran diri pada murid untuk memaknai tentang indahnya berbagi. Ketika sesorang mampu berperilaku berbagi, maka mereka akan berlatih melepaskan kemelekatan diri.

 

Mengapa musik bisa mempengaruhi mental dan mood seseorang? Musik ternyata bisa memicu munculnya zat kimia yang berperan penting untuk kesehatan orak dan mental. Zat tersebut meliputi dopamin yang memicu rasa bahagia, kartisol yang dapat mereduksi stress, serotonin menjadi proteksi imun tubuh dan oksitosin untuk meningkakan kemampuan interaksi dengan orang lain.

Mengumandangkan lagu-lagu rohani dari berbagai agama yang ada di SMK N 11 Semarang merupakan salah satu cara yang paling sederhana menyuburkan toleransi. Sengaja perbedaan itu diperlihatkan sehingga para murid mengerti bahwa perbedaan itu ada sehingga mereka harus mampu memahami perbedaan tersebut. Ketika perbedaan itu bisa dipahami, maka mereka akan sadar bahwa perbedaan bukan menjadi pemisah, namun perbedaan itu sebuah keindahan bagaikan vas bunga yang berisi bunga yang beraneka warna.

18 Red And Orange Roses in Vase
Sumber: https://outerbloom.com

Program itu tidak cukup, kami dari kesiswaan terus melakukan upaya menambah pupuk-pupuk untuk menyuburkan jiwa-jiwa toleransi tersebut. Tim jurnalistik  di bawah asuhan Pak Taufiq dan Pak Istoro melaksanakan kegiatan podcast dengan judul Kebhinekaan dalam Persatuan. Tim Jurnalistik mengundang ketua kerohanian Islam, Kerohanian Katholik, Kerohanian Kristen dan Kerohanian Buddha untuk duduk bersama dan dilakukan dialog interaktif. Mereka membuat konten youtube untuk mengajak para pemirsa agar memiliki kesadaran diri bahwa perbedaan itu indah.

Menghargai perbedaan atau toleransi merupakan DNA  orang-orang Indonesia. “Bhineka Tunggal Ika” sebagai lambang persatuan bangsa sudah ada sejak zaman dulu, bahkan tulisan tersebut tertuang dalam Kitab Sutasoma karangan Empu Tantular di zaman Majapahit.  Wajar ketika masyarakat kita lebih mudah memahami perbedaan, tidak mudah terpecah-pecah, karena memang DNA kita adalah kolaborasi atau gotong royong tanpa memandang perbedaan-perbedaan yang ada. Jiwa menolong orang tidak peduli agamanya apa, keyakinannya apa sehingga menjadi modal atau asset pemersatu bangsa. SMK Negeri 11 Semarang sebagai bagian dari pendidikan di negeri ini memiliki kewajiban moral untuk mewujudukan toleransi tetap sumbur. Membuat konten di youtube melalui podcast merupakan salah satu cara untuk memupuk jiwa toleransi tersebut. Semoga menginspirasi. Terima kasih atas like, subcribenya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *