Lunturnya Puja, Pudarnya Budaya Menghormati

Mungkin dari seribu anak, hanya ditemui satu anak yang masih memegang teguh budaya menghormati kepada orang yang lebih tua. Pernyataan ini nampaknya berlebih-lebihan, namun faktanya memang mendekati pernyataan tersebut. Coba kita renungkan kembali, masihkah kita menemui anak-anak yang lewat di depan orang yang lebih tua, langsung seketika membungkukkan badannya, sambil berkata permisi, nuwun sewu, nderek langkung dan sebagainya sebagai bentuk penghormatan orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua. Sepertinya jarang sekali kita temui anak-anak yang masih menjaga, melestarikan budaya tersebut. Perubahan zaman menghasilkan generasi Z yang serba instan, ditambah kepedulian orang tua untuk melestarikan budaya ini untuk diturunkan kepada anak-anaknya yang masih kurang. Saya percaya bahwa orang-orang tua saat ini, masih memegang teguh budaya sopan-santun tersebut ketika bertemu dengan orang yang lebih tua, namun saya belum yakin jika budaya ini diwariskan kepada anak-anaknya. Anak-anaknya lebih banyak dituntut untuk bertindak secara sopan, menjaga unggah-ungguh, kalau di Jawa mungkin mampu menggunakan bahasa Jawa Krama. Namun tuntutan tersebut sulit dijalankan oleh anak-anak muda saat ini karena  budaya tersebut tidak diwariskan dengan adat yang dijaga secara ketat oleh orang tua saat ini.

Mungkin Pulau Bali, yang masih menjaga kelestarian adat budaya leluhurnya. Adat budaya nenek moyangnya terus dijaga dan menjadi aset komoditas pariwisata. Mungkin jika tidak sebagai pulau yang dikunjungi wisatawan, adat itu akan memudar. Adanya tekad yang kuat dari golongan orang tua yang ada di Bali untuk terus mewarisi adat budayanya kepada anak-anaknya menjadi bukti nyata yang membedakan dengan pulau-pulau yang ada di nusantara ini. Di bali, adat puja, memberikan penghormatan kepada orang lain masih kental, bahkan puja terhadap alam semesta masih terasa langgeng. Masih dilanggengkannya sesajen-sesajen di pura, di pinggir jalan, di bawah pohon beserta peringatan-peringatan yang ada di Bali syarat dengan sesajen. Berbeda yang ada di Jawa, adat tersebut semakin ke sini semakin luntur dan menghilang. “Ketika puja sudah luntur, jangan heran ketika budaya menghormati orang lain juga semakin memudar”, ungkap B. Dhammasubho Mahathera dalam acara webinar “Nguri-uri Nguripi Tradisi Budaya Leluhur tadi malam, 24 November 2023. Puja sejatinya memiliki makna menghormati kepada yang patut dihormati mengalami penyempitan makna.

Kebanggaan terhadap budaya leluhur, nampaknya semakin menipis dan terus menipis. Semakin miris ketika warisan peradaban nusantara seperti Candi Borobudur dikerdilkan oleh orang-orang yang akan membelokkan sejarah dengan membuat konten youtube yang menyatakan bahwa Borobudur adalah buatan para Jin dan bukti peninggalan salah satu tokoh  tertentu. Berkali-kali saya mendengar ceramah Gus Muwafiq, yang menyatakan bahwa nusantara memiliki peradaban yang lebih maju sebelum di daerah arab berada di jaman jahiliyah. Toleransi, saling menghormati, gotong royong, berkesenian itu sudah melekat sejak lama di nusantara. Kehidupan masyarakat yang berbudaya sudah berlangsung lama di nusantara.  Wajar ketika masyarakat di nusantara saat ini, hidupnya memang kental dengan toleransi, tidak mudah untuk dipecah-pecah, karena DNA orang-orang nusantara terwariskan dari masyarakat yang mencintai kedamaian.

Beriringnya waktu dengan perubahan teknologi yang bergerak secara cepat, budaya toleransi, menghormati orang lain akan tergerus, manakala tidak adanya agen-agen perubahan yang sebagai penjaga pelestarian tradisi budaya leluhur.  Sekolah merupakan salah satu tempat yang seharusnya sebagai tempat para agen perubahan yang perlu menjaga pelestarian tradisi budaya leluhur. Saya merasa iri positif dengan negara Cina yang peradaban budaya leluhurnya masih terus dilestarikan, meskipun negaranya sudah menjadi negara yang maju. Saya mendatkan sebuah video tentang kegiatan memberikan penghormatan dan ucapan terima kasih pada orang tua yang telah mendukung anak-anaknya hingga berhasil melewati masa SMA dengan baik, melalui link berikut.

https://www.instagram.com/reel/Czvi66hhPdo/?igshid=MTc4MmM1YmI2Ng%3D%3D

Budaya ini ternyata mirip sekali dengan kegiatan Bakti Sadhana yang telah dilakukan di SMK Negeri 11 Semarang usai kegiatan MPLaS.  Bakti Sadana merupakan serangkaian mengundang orang tua ke sekolah dan dalam acara tersebut murid melakukan proses basuh kaki orang tuanya, sebagai bentuk latihan menghormati orang tuanya.

Inilah cara kami melestarikan budaya nusantara tersebut agar para murid mau dan mampu menghargai orang tuanya. Olah rasa perlu diberikan kepada murid. Pengurus OSIS merupakan salah satu agen-agen perubahan di sekolah, sehingga olah rasa perlu dilakukan. “Menurut kalian, perlukah Bhakti sadhana dilakukan untuk kelas x tahun depan? Beri alasan jika perlu dan beri alasan jika tidak  untuk bagian dari program OSIS”, tanya siswa ke group OSIS.

“Saya rasa perlu, Pak. Setelah Bhakti Sadhana kemarin, saya pribadi merasa lebih dekat dengan orang tua. Selain itu, saya juga merasa bahwa saya bisa lebih menghargai orang tua saya dan menyesali kesalahan-kesalahan yang sudah saya perbuat kepada orang tua saya. Bhakti Sadhana ini salah satu kegiatan yang sangat positif. Jadi, menurut saya akan lebih baik jika kegiatan ini dilaksanakan lagi kepada angkatan-angkatan selanjutnya sebagai bentuk rasa terimakasih dan syukur kepada kedua orangtua atas segala doa dan kerja keras orangtua. Juga sebagai permohonan maaf kepada kedua orangtua”, ungkap Yoga.

“Saya rasa, perlu Pak. Menurut saya, kegiatan Bhakti Sadhana ini dapat lebih mempererat hubungan antar orang tua & anak. Karena dalam kegiatan Bhakti Sadhana, semua murid diminta untuk merenungkan dan mengingat kembali seluruh jasa dan perjuangan orang tuanya yang telah berjuang mati-matian untuk kehidupan anaknya. Kegiatan Bhakti Sadhana juga diciptakan untuk murid meminta restu kepada orang tua selama anaknya menempuh pendidikan di SMK Negeri 11 Semarang. Pengalaman pribadi saya, setelah melakukan kegiatan Bhakti Sadhana, saya lebih bisa menghormati, menghargai, menyayangi, belajar dengan sungguh-sungguh di SMKN 11 Semarang dan lebih semangat lagi untuk mencapai cita-cita saya agar dapat membanggakan orang tua saya. Pengalaman dari teman saya yang hubungan keluarganya kurang baik, setelah dilakukannya Bhakti Sadhana, hubungannya dengan orang tuanya menjadi jauh lebih baik”, ungkap Hanna sebagai ketua OSIS angkatan 34.

Masih banyak pendapat murid lainnya yang memiliki kesamaan, yang intinya kegiatan Bakti Sadhana masih perlu dilestarikan dan menjadi budaya yang harus lestari di SMK N 11 Semarang. Bahagia ketika melihat para generasi muda, masih memiliki keinginan untuk menjadi agen perubahan pelestari tradisi leluhur. Anak-anak muda perlu terus dipantik untuk:

Rumangsa Melu Handarbeni, Wajib Melu Angrungkebi

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *