Belajar Balas Budi dari Kisah Gajah dan Tikus di Relief Candi Mendut

“Pak Izin bertanya waktu itu pak Di memberikan pesan moral apa ya untuk animasi yang saya buat”, tanya Mutiara pada saya melalui whatsapp. Mutiara merupakan salah satu murid kelas X Animasi SMK Negeri 11 Semarang yang mendapatkan tantangan untuk membuat animasi dari kisah Gajah dan Tikus yang terukir pada relief Candi Mendut.

Kisah Gajah dan Tikus pada Relief Candi Mendut

Di balik relief tersebut terkandung kisah tentang balas budi tikus terhadap gajah karena perbuatan baiknya. Di suatu hari, pemukiman para tikus sering sekali di lewati rombongan gajah yang akan pergi ke danau mencari air untuk minum. Saat Gajah lewat di pemukiman tersebut, banyak tikus yang mati karena terinjak-injak kaki dari rombongan gajah tersebut. Oleh karena itu, Raja Tikus memohon kepada Raja gajah untuk tidak melewati pemukiman tikus saat pergi ke danau mencari air. “Maafkan kami Raja Tikus, kami tidak tahu kalau jalan yang kami lewati adalah pemukiman kalian”, ungkap Raja Gajah mendengar permohonan Raja Tikus. Raja Gajah pun mengabulkan permintaan Raja tikus, dan mengubah lintasan supaya tidak lewat di pemukiman para tikus tersebut yang dapat menyebabkan banyak kematian tikus karena terinjak rombongan gajah tersebut.

Suatu ketika gajah terperangkap oleh jebakan pemburu gajah yang dibuat manusia, tubuh sang gajah terikat kuat oleh jebakan tali perangkap. Raja tikus mengetahui akan hal tersebut, sehingga ia mengutus rakyatnyauntuk membantu melepaskan ikatan yang melilit di tubuh para gajah dengan cara menggigit tali perangkap hingga putus, dan pada akhirnya para gajah terbebas dari jeratan tali perangkap para pemburi gajah.

“Seperti benih yang ditanam, demikianlah buah yang akan dipetiknya. Pembuat kejahatan akan memetik buah penderitaan, sedangkan pembuat kebajikan akan memerih buah kebahagiaan. Oleh karena itu tanamlah benih-benih yang baik dan engkau akan memetik buah kebahagiaan (Samyuta Nikaya I, 227)”, itulah pesan moral dari kisah pada relief Candi Mendut tersebut yang saya sampaikan kepada Mutiara ketika akan menyelesaikan film animasinya.

Kisah tersebut selanjutnya oleh Mutiara dibuat komik dan dilanjutkan dengan animasi. Animasi yang ia buat menggunakan android selama 2 bulan. Ini merupakan project riil dalam pembelajaran yang dilakukan di kelas X sebagai wujud pelaksanaan pembelajaran diferensiasi. Saya sengaja memberikan tantangan yang berbeda kepada murid yang memiliki potensi yang lebih dan sesuai dengan bakatnya serta sumber daya yang dimiliki. Karena Mutiara menyanggupi project riil ini, maka ia masuk dalam kelompok yang tergabung dalam group Project Animasi Relief Candi Mendut. Sebagai bentuk apresiasi, karya animasi yang dibuat Mutiara ini selanjutnya  diposting di youtube animax.

Jika dibandingkan dengan target yang tertera pada kurikulum, proses pembuatan animasi ini berada di semester 2, namun karena potensi dan sumber daya yang dimiliki layak untuk menyelesaikan tantangan ini, akhirnya di semester ganjil ini ada 10 murid yang sudah membuat project animasi. Salah satunya adalah Mutiara.

Mutiara memberikan refleksi setelah berhasil menyelesaikan karya film animasi pendek ini. “Saya merasa senang dan lega pak karena sudah menyelesaikan filmnya dengan tuntas, animasi pertama yang saya buat ini melatih saya untuk bersabar menyelesaikannya dengan bertahap dari sketsa komik cergam sampai animasi ini”, ungkap Mutiara ketika ditanya apa yang dirasakan setelah menyelesaikan project film animasi.

Sebagai guru saya merasa bahagia atas keberhasilan yang dicapai oleh Mutiara ini. Bukan masalah hasil animasinya, namun proses yang sudah dilaluinya yang membuat saya ikut bermudita citta. Proses yang ia lalui menjadi bagian proses belajar sesungguhnya. Ia belajar bagaimana memaknai kesabaran dalam arti riil, bukan sabar secara teoretis. Untuk membuat animasi memang dibutuhkan kesabaran yang luar biasa. Ketika menggunakan 24 fps, maka setiap seconnya terdapat 24 frame, sehingga setiap detiknya dibutuhkan 24 gambar. Mutiara ini mampu menyelesaikan film ini dalam kurun waktu 1 menit 8 detik sehingga diperkirakan ia harus membuat gambar sebanyak 1632 gambar.  Teknik membuat animasi menjadi kunci utama yang dibutuhkan Mutiara, namun kunci yang lebih utama adalah kesabarannya. Dalam refleksinya ia menyatakan bahwa dalam proses mengerjakan project ini merasakan dapat lebih serius, meskipun ia juga mengakui perlu lebih teliti lagi dalam mengerjakan.  Tepatnya tanggal 31 Desember 2023 ia menutupnya dengan menyelesaikan animasi secara baik.  Semoga di tahun 2024 Mutiara mampu menyelesaikan tantangan membuat animasi yang lebih baik lagi.

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *