Membaca Buku Jataka

Budaya literasi menjadi konsen kami di Jurusan Animasi. Membaca buku fiksi dan non fiksi akan menambah cakrawala baru dan memperluas sudut pandang para murid. Bagaimana murid-murid animasi akan memiliki kreativitas ide, gagasan dan kemampuan membuat komik maupun animasi manakala tanda didasari dengan literasi yang kuat.

Di semester genap tahun 2026 ini, murid-murid animasi dipaksa secara sistem untuk membaca buku dan mempresentasikan di hadapan guru. Usai mempresentasikan, mereka memiliki kewajiban mengirim dokumentasi dan isi ringkasan buku yang dibacanya ke link yang disediakan jurusan. Ketika kewajiban itu dilaksanakan, maka secara otomatis lembar penilaian tidak akan berwarna merah, ini tandanya akan menambah penilaian soft skill. Dalam satu semester mereka disediakan 10 link pengiriman kegiatan literasi.

Pembiasaan membaca buku kami awali dengan buku-buku cerita yang pendek-pendek seperti buku cerita bergambar. Beberapa minggu yang lalu, kami mendapatkan 37 buku Jataka dari Yayasan Dhammavihari Jakarta. Buku Jataka merupakan buku cerita bergambar yang mengisahkan tentang kehidupan Bodhisatta yang sangat menginsipirasi untuk berbuat baik dan menjalankan budi pekerti. Buku cerita bergambar tersebut juga sebagai referensi bagi murid untuk membuat komik dan animasi. Sekali merengkuh dayung, tiga pulau terlampaui. Sekali membaca buku Jataka, selain membudayakan untuk gemar membaca, mereka mendapatkan inspirasi tentang kehidupan dan referensi membuat komik.

Usai membaca, mereka mempresentasikan di hadapan guru. Cara ini sebagai quality control bahwa mereka telah memahami isi bacaan. Cara ini juga melatih kemampuan murid untuk membuat rangkuman isi bacaan, kemampuan menceritakan kembali dan melatih komunikasi. Semoga menginspirasi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *