Belajar menjadi Pendengar

Kemampuan guru yang tidak boleh ditinggalkan adalah menjadi pendengar yang baik. Selama ini guru cenderung latah untuk menyampaikan materi, menasehati dan melarang. Tidak salah apabila murid cenderung pasif, tidak betah di kelas. Guru merasa belum sah mengajarnya apabila belum melakukan tiga hal tersebut, bahkan merasa bahagia manakala kelasnya tenang, menuruti apa yang diperintahkan oleh sang guru. Apa bedanya antara murid dan robot, jika seperti itu terjadi di kelas.

Di jurusan animasi SMK N 11 Semarang tempat saya bekerja, saya merasa bahwa budaya literasi belum begitu optimal dilakukan. Saya semakin miris ketika membaca dan mendengar bahwa tingkat IQ orang Indonesia mengalami penurunan hingga mendekati IQ Gorila. Dari hal inilah, saya selaku ketua jurusan tergerak untuk mengubah perilaku murid-murid untuk berliterasi.

Satu program berkaitan dengan literasi ini, saya namakan Pustaka Waca. Saya ingin mengembalikan murid-murid untuk menyukai membaca buku. Oleh karena itu dalam satu semester ini, semua murid di jurusan Animasi wajib membaca minimal 10 buku fiksi atau non fiksi. Usai membaca, murid wajib presentasi di hadapan guru dan dokumentasinya dikirim ke link yang sudah disediakan dan masuk menjadi nilai soft skill.

Beberapa hari yang lalu, saya menyempatkan diri untuk menerima murid bercerita dari buku yang telah dibacanya. Kegiatan ini dilakukan pada saat jam produktif animasi yang memiliki waktu yang panjang di setiap harinya. Ketika salah satu murid bercerita, murid yang lainnya tetap mengerjakan project animasi.

Cara inilah yang kami lakukan untuk membudayakan literasi dan saya pun harus belajar menjadi pendengar yang baik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *